Hidup adalah Kesaksian
PW Santo Ignatius Antiokhia
Bacaan I Gal 5: 18-25
Bacaan Injil Lukas 11: 42-46
Hidup adalah Kesaksian
“Celakalah kalian… tetapi kalian mengabaikan keadilan dan kasih Allah”. Apa yang dikatakan Yesus pada Injil hari ini bukanlah suatu ujaran kebencian. Yesus justru mengajak orang-orang Farisi untuk menyadari betapa selama ini hidup mereka kurang bisa berbuah. Mereka tidak mampu menjalani hidup dalam nuansa keadilan dan kasih Allah. Maka, tak heran bila keberadaan Yesus dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Hati mereka telah buta sebab mereka belum mencapai inti dari Hukum Taurat sebagai sumber hidup mereka. Keadilan dan kasih Allah adalah unsur yang belum bisa digapai oleh orang Farisi, kendati mereka mendasarkan hidup pada Hukum Taurat. Bahkan, perbuatan kasih Yesus kepada orang banyak tak bisa membuka mata mereka. Mereka tidak mengerti bahwa keadilan dan kasih adalah pokok Hukum Taurat. Hal ini terjadi karena mereka terlalu berfokus pada perkara lahiriah, tanpa pernah mau menyentuh perkara batin. Maka, wajar saja jika Yesus mengecam, “Kalian mengajarkan, tetapi tidak melakukan”.
Realita orang Farisi mungkin sepadan dengan alur hidup kita. Kita mudah saja mengajak orang lain untuk hidup taat dan takwa sebagai pengikut Kristus, tetapi kita jarang bertindak seturut teladan Kristus. Sepanjang saya menjalani hidup –kala itu- sebagai calon imam, saya menyadari bahwa kualitas kesaksian hidup kami masih kalah jauh dari para prodiakon. Di Indonesia –khususnya Jawa- peran prodiakon sangatlah vital. Prodiakon membantu tugas pelayanan imam, mulai dari membagi komuni sampai mengemban tugas sebagai pemimpin dalam tata ibadat di luar gereja. Maka, ketika khotbah, misalnya tentang cinta kasih, tuntutan moral para prodiakon lebih berat daripada para imam. Mengapa? Karena, prodiakon hidup bersama dengan umat dan rumah mereka berada di antara umat. Berbeda dengan para imam yang tinggal di pastoran dimana tidak setiap waktu bisa dilihat oleh umat. Maka, kesaksian hidup prodiakon sehari-hari dapat disaksikan oleh umat kapanpun dan dimanapun.
Tidaklah mudah memang untuk hidup dalam jalan kesaksian sebagai pengikut Kristus. Namun, yang terpenting adalah kita menyerahkan diri untuk dibentuk sembari hati kita senantiasa terbuka pada bimbingan Roh, sebagaimana kita dengar dari bacaan pertama. Karena, berkat dorongan Roh, kita menjadi semakin pantas sebagai pengikut-Nya. Pertanyaan untuk kita, apakah kita sudah mampu menjalankan ajaran cinta kasih dan keadilan dalam hidup sehari-hari? Apakah kita sudah mampu mewartakan kesaksian iman melalui pikiran, perbuatan dan sikap-sikap kita?