HIDUP SEPERTI ‘RAGI’: KECIL NAMUN BERARTI

HIDUP SEPERTI ‘RAGI’: KECIL NAMUN BERARTI

Selasa, 30 Oktober 2018

Hari Biasa (H)

Ef. 5:21-33; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Luk. 13:18-21

HIDUP SEPERTI ‘RAGI’: KECIL NAMUN BERARTI

Dua minggu yang lalu, kami seangkatan mengadakan kunjungan ke rumah saya. Dan makanan yang paling ditunggu teman-teman adalah tape ketan. Saking enak dan menyegarkan, sampai teman-teman menanyakan makanan yang sama setiap kali datang ke rumah atau bapak ibu berkunjung ke seminari. Saya sendiri, tidak pernah tahu, proses pembuatan tape ketan itu sampai sedemikian nikmat, sampai rasanya khas dan dihafal oleh teman-teman yang lain, karena setahu saya Ibu saya membuat tape ketan seperti pada umumnya: mencampur beras ketan dengan ragi, namun memang yang paling menentukan adalah takaran ragi yang pas, tidak kurang dan tidak lebih. Ragi yang kecil itu menjadi sumber sukacita bagi banyak orang ketika dipakai dengan baik dan sebagaimana mestinya. Mesti dalam pemakaiannya, tidak ada rumus pastinya, hanya pakai ‘feeling’ dan kebiasaan. Dan uniknya, ragi ini tidak bisa digantikan oleh benda lain, yang sama dan sepadan.

Perwujudan Kerajaan Allah di dunia, yang digambarkan oleh Yesus, diumpamakan seperti ragi, meski dalam konteks ini, adalah ragi pada adonan roti. Ragi itu tidak kelihatan tapi berefek luar biasa. Yesus hendak menunjukkan kenyataan tentang Kerajaan Allah di dunia, sebagai yang ‘memberi rasa’, mengembangkan yang lain, dan tentu saja tidak tergantikan oleh hal lain. Tanpa ragi, roti tidak pernah jadi. Tanpa ragi, roti barangkali menjadi hambar, dan tak lagi disebut roti. Maka, Yesus mengajak kita menjadi seperti ragi dengan menangkap kebaikan-kebaikan tanpa perlu menyombongkan diri, namun memberi pengaruh nyata bagi orang lain dalam hal-hal baik. Kerajaan Allah juga tidak tergantikan oleh hal apapun, bahkan oleh hal yang menurut kita baik dan nyaman.

Selamat pagi, selamat menjadi ‘ragi’ bagi dunia. GBU.

Comments are closed.
Translate »