‘DIET’ SUPAYA BISA LEWAT PINTU YANG SEMPIT

‘DIET’ SUPAYA BISA LEWAT PINTU YANG SEMPIT

Rabu, 31 Oktober 2018

Hari Biasa (H)

Ef. 6:1-9; Mzm. 145:10-11,12-13ab,13cd-14; Luk. 13:22-30

‘DIET’ SUPAYA BISA LEWAT PINTU YANG SEMPIT

Diskusi tentang hidup setelah kematian itu selalu menarik dan tiada habisnya untuk dibicarakan. Saya jadi ingat kisah di kampung halaman menjelang lebaran, orang-orang di desa biasanya membuat ‘sesaji’ yang terdiri dari makanan atau minuman kesukaan leluhur, entah kakek, nenek, atau buyut. Kepercayaan orang dulu bahwa orang yang sudah meninggal, arwahnya masih berada di sekitar rumah, atau dalam kesempatan tertentu, arwah ini akan pulang untuk sekedar bisa dekat dengan orang-orang yang berada di rumah. Nah, dari situ, lalu muncul pertanyaan: ‘Lalu di mana keberadaan jiwa setelah seseorang meninggal?’ Ada yang berkata: ‘Di neraka’. Ada juga yang yakin mengatakan: ‘Langsung masuk surga’. Meski ada juga yang masih percaya bahwa jiwa setelah kematian masih akan menempuh perjalanan, dan bahkan masih beberapa saat tinggal di dunia. Namun, pertanyaan semacam ini apakah sangat penting buat kita untuk diketahui jawabannya?

Yesus berhadapan dengan dua jenis orang: orang yang hanya ingin tahu tentang keselamatan dan orang yang sungguh ingin memperjuangkan keselamatan. Yesus tentu tidak ingin membuang waktu untuk melayani pertanyaan yang hanya sekedar memuaskan rasa ingin tahu, namun akan memberi jawaban bagi pertanyaan yang relevan saja. Ketika orang bertanya: ‘Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?’, maka bagi Yesus, pertanyaan ini hanya sekedar ingin tahu saja. Bila orang sudah tahu jawabannya, apa gunanya bagi dia? Maka Yesus memberi jawaban demikian: ‘berjuanglah untuk melalui pintu yang sempit itu!’ ‘Pintu sempit’ hendak menunjukkan bahwa untuk sebuah keselamatan, orang harus berusaha. Kalau anda masih merasa ‘gemuk’, maka mari berjuang untuk ‘diet’ dari keserakahan, ketamakan, kesombongan, kemarahan, ketidaksetiaan, keegoisan, sehingga kita ‘cukup’ untuk melalui ‘pintu sempit’ yang mengarahkan pada keselamatan.

Selamat pagi, semoga kita dianugerahi kerendahan hati untuk berjuang dan berusaha demi keselamatan. GBU

Comments are closed.
Translate »