Kenosis
Bacaan: Filipi 2: 5-11
“Yesus Kristus walau dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.”
Ajaran tentang kenosis atau “Jalan menurun dari Yesus Kristus” menjadi salah satu pengajaran khas Paulus pada kita semua. Kata rupa dalam bahasa aslinya adalah “eikon” yang berarti bahwa Yesus sungguh memiliki kesamaan dengan Allah. Kesamaan ini berarti bahwa kealahan Yesus itu penuh dan sama seperti yang dimiliki oleh Bapa sendiri. Selanjutnya Paulus memakai kata “milik yang harus dipertahankan.” Kesetaraan itu tidak membuat Yesus ingin agar statusnya dipertahankan, dan takut kehilangan apa yang sudah dimilikinya. Dia bahkan dengan rela melepaskan dan mengosongkan diri, artinya membiarkan kesetaraan itu tak tampak dan seakan hilang dari hidup dia.
Kalau kita bandingkan dengan perjalanan hidup manusia, sebenarnya perjalan kita juga ke arah kenosis. Pada awalnya sebagai seorang anak manusia yang terlahir, kita tak memiliki banyak kekuatan dan butuh bantuan serta perlindungan. Kita lemah sebagai anak-anak. Menginjak dewasa kita merasa hidup ini berjalan naik sealur dengan kenaikan karier, jabatan, status ekonomi dan sosial kita. Sering kali orang sulit melepaskan semua status sosial, ekonomi dan penghargaan karena dia mencari dan meraihnya dengan penuh perjuangan. Padahal kalau hidupnya terus dijalani. Gerakan kita akan menurun. Orang semakin renta dan tua. Mulai kehilangan tenaga juga fungsi tubuh yang berkurang. Hingga akhirnya orang tak mampu lagi berbuat apa-apa terbaring dan butuh bantuan orang lain lagi karena kelemahan dan ketuaan. Gerakan hidup kita mulai dari bawah, naik, dan turun lagi.
Yesus mengajari kita dengan semangat kenosis bahwa orang perlu siap untuk melepaskan segala yang mengikat, terutama tentang status sosial dan kejayaan pribadi. Semua itu tidak harus dipertahankan sebagai milik. Namun orang perlu mengosongkan diri agar mengikuti gerak Yesus yang turun ke bawah, merendahkan diri. Semoga gerakan kita dalam hidup ini menjadi gerak turun sehingga suatu saat nanti Allah akan meninggikan kita juga karena kita menjadi murid yang mengikuti teladan Paulus dalam gerak kenosis.