Anggur Baru

Anggur Baru

Senin, 21 Januari 2019
Hari Peringatan Santa Agnes, Martir

Ibrani 5:1-10
Mazmur 110
Markus 2:18-22

Bacaan Injil hari ini seperti meneruskan tema dari Injil hari Minggu kemarin mengenai pernikahan di Kana. Yohanes kemarin menempatkan mujizat Yesus merubah air menjadi anggur sebagai tanda pertama dalam misinya di dunia. Hanya Yohanes yang menggunakan peristiwa ini dalam Injilnya. Mungkin kita bisa melihat tanda ini sebagai tanda Yesus memulai hubungan istimewanya dengan umat manusia secara nyata. Kisah pernikahan di Kana menjadi latar belakang pernikahan Yesus sang mempelai pria dengan GerejaNya.

Serupa dengan pemikiran ini, Markus pun menggunakan istilah pernikahan untuk menggambarkan Yesus: sebagai mempelai laki-laki yang sudah datang dan makan bersama semua yang hadir dalam pesta. Tapi tidak semua orang mengenalnya, dan tidak semua orang mau ikut berpesta dengannya. Para pengikut Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi mencemooh pengikut Yesus karena tidak pernah berpuasa. Pandangan mereka sempit dan tidak pernah berkembang, berkutat pada perkataan dalam Hukum Taurat dan mengabaikan tanda-tanda yang diberikan Yesus. Seperti kain tua, ketika ditambal dengan kain baru yang belum susut mereka menjadi robek setelah dicuci. Seperti kulit tua yang diberi anggur baru, mereka menjadi rusak dan bocor.

Yesus datang sebagai anggur baru, anggur yang berkualitas terbaik seperti yang dirasakan orang dalam pernikahan di Kana. Tapi apakah kita siap menyambutnya? Apakah kita memilih berpegang pada ego, kenyamanan, kekayaan, nilai-nilai kolot, atau hal lainnya yang kita pikir membuat hidup kita lebih nyaman? Kata lainnya adalah comfort zone.

Memang manusia pada hakikatnya susah untuk mau berubah, kecuali kalau terpaksa. Hidup Kristiani bukan tentang hidup gampang atau nyaman. Seorang Kristen menyerahkan dirinya pada gerakan-gerakan Roh Kudus, dan harus peka pada panggilan Tuhan dalam segala situasi.

Hari ini di Amerika Serikat adalah hari libur nasional untuk mengenang Dr. Martin Luther King, Jr., tokoh penegak keadilan dan pembela hak asasi manusia, terutama untuk masyarakat kulit hitam pada saat itu. Sebagai seorang pendeta dan orang yang terpelajar, Dr. King dapat saja meneruskan hidupnya dengan nyaman memimpin sebuah gereja kecil di daerah Selatan. Tapi dia memutuskan menjawab panggilan Tuhan untuk memulai gerakan membela hak warga minoritas. Dia membawa anggur baru Tuhan ke dalam kantong kulit orang jaman itu yang tidak mau memberikan hak sama pada warga kulit hitam. Kantong kulit lama tidak siap menerima anggur baru. Sama seperti orang Yahudi pada jaman Yesus, mereka yang berkeras hatinya berhasil membunuh Dr. King.

Untuk sesaat, sepertinya kebaikan kalah dan kejahatan menang, kantong kulit lama berhasil menghancurkan anggur baru. Tapi seperti diperkirakan Yesus, kantong kulit itu pun juga lama-lama hancur setelah diisi dengan anggur baru yang terus melimpah. Marilah kita juga selalu meneruskan anggur baru Tuhan ke dalam kantong-kantong kulit tua di dunia ini yang terbuat dari kejahatan dan ketidakadilan.

Comments are closed.
Translate ยป