Sabat Dibuat Untuk Manusia

Sabat Dibuat Untuk Manusia

Selasa, 22 Januari 2019

Ibrani 6:10-20
Mazmur 11
Markus 2:23-28

Beberapa tahun lalu, sebagai bagian dari pendidikan pastoral, saya magang (internship) sebagai chaplain atau pembimbing rohani di sebuah rumah sakit Yahudi di Los Angeles, California. Di sana ada sebuah lift khusus, di mana setiap hari Sabat (Sabtu), lift ini akan berhenti di setiap lantai. Dengan demikian, orang-orang Yahudi Ortodoks tidak perlu memencet tombol lantai, sesuatu yang dianggap pekerjaaan dan tidak boleh dilakukan di hari Sabat.

Situasi demikian mungkin kedengaran aneh dan absurd di telinga kita. Saya tidak mencoba berdebat dengan alasan teologis dan spiritual mereka. Tetapi ini menunjukkan bagaimana orang Yahudi, baik jaman Yesus sampai masa kini, sangat serius dengan peraturan tentang hari Sabat.

Beberapa kali saya melihat atau mendengar bagaimana sekelompok umat Katolik di Amerika menjadi seperti polisi liturgi. Di gereja, mereka mengawasi setiap tindakan romo dan petugas-petugas liturgi dalam misa. Jika ada sesuatu yang menurut mereka tidak sesuai peraturan, mereka akan melaporkan ke uskup. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka bisa berkonsentrasi untuk merayakan sakramen Ekaristi jika pikirannya terfokus untuk menemukan kesalahan-kesalahan dalam liturgi.

Kisah Injil hari ini bukan bermaksud meyakinkan kita untuk mengabaikan segala peraturan dengan seenaknya. Yesus mengajak kita melihat prioritas kita yang sejati. Apakah hukum atau peraturan lebih tinggi dari kepentingan hidup dan hak asasi manusia? Apakah kita lebih mementingkan kata-kata dalam sebuah peraturan daripada melihat konteks dalam hidup bermasyarakat?

Yesus memberi jawabannya pada kita. Hari Sabat dan semua peraturan dibuat untuk manusia, bukan sebaliknya. Manusia dibuat untuk mengasihi Tuhan dan sesama. Inilah tujuan hidup kita. Peraturan dan hukum dapat membantu mencapai tujuan itu. Tetapi mereka hanyalah sarana, bukan tujuan.

Comments are closed.
Translate ยป