Jesus Christ Superstar!

Jesus Christ Superstar!

Kamis, 24 Januari 2019
Hari Peringatan St. Fransiskus de Sales, Uskup dan Pujangga Gereja

Ibrani 7:25 – 8:6
Mazmur 40
Markus 3:7-12

Setelah beberapa hari ini kita mendengar bagaimana Yesus melakukan banyak mujizat dan menyembuhkan orang sakit, bacaan Injil hari ini menjadi seperti sebuah kata penutup dari tema ini. Berita tentang Yesus sudah menyebar ke mana-mana dan orang-orang pun berdatangan untuk minta disembuhkan oleh Dia. Saking banyaknya orang, Yesus sampai meminta sebuah perahu disiapkan supaya Dia jangan sampai terhimpit oleh massa. Rupanya bangsa Israel jaman itu belum tahu budaya antri. Atau memang ketenaran Yesus membuat orang tergila-gila. Tidak heran Andrew Lloyd Weber memberi nama drama musikalnya Jesus Christ Superstar!

Suatu kali saya pernah berkunjung ke Cikanyere, tempat pertapaan yang didirikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, untuk misa hari Minggu. Sesuai rutinitas, ada perarakan sakramen Maha Kudus setelah misa, di mana dipercaya telah terjadi banyak mujizat penyembuhan. Orang datang dari mana-mana memenuhi gedung gereja yang menyerupai sebuah stadium, bahkan saya melihat ada beberapa ibu Muslim memakai jilbab. Walaupun Romo Yohanes berulang kali mengingatkan umat bahwa kuasa penyembuhan ada di tangan Yesus dan dia hanya sebagai alat yang dipakai Tuhan, tetap orang berbondong-bondong datang ke “misa penyembuhan Romo Yohanes.” Dapat kita bayangkan bagaimana orang sangat merindukan kesembuhan dan akan pergi ke mana pun di mana dipercaya terjadi banyak penyembuhan, dari Cikanyere, Sendangsono, Lourdes, Medjugorje, dan seterusnya.

Sangat mudah untuk sebuah tempat kesembuhan menjadi terkenal atau orang yang dipercaya mempunyai kuasa penyembuhan menjadi seperti superstar. Tapi kalau kita hanya melihat kesembuhan jasmani saja, berarti kita mengabaikan arti kesembuhan yang lebih besar. Ketika seorang yang lumpuh dibawa kepada Yesus di bab 2 Injil Markus, Yesus tidak langsung menyembuhkan kelumpuhannya, tetapi pertama-tama mengampuni dosa-dosanya. Inilah kesembuhan yang lebih penting, yang sering tidak kita lihat atau kita lupakan.

Saat kita merasa seperti massa yang mengejar Yesus di Danau Galilea untuk meminta kesembuhan, apakah kita hanya meminta kesembuhan yang hanya di permukaan saja? Apakah kita siap disembuhkan luar dalam, untuk dilepaskan dari kuasa kejahatan atau dosa di dalam hidup kita? Apakah kita ingin melihat seorang superstar atau bertemu dengan sang juruselamat dunia?

Comments are closed.
Translate ยป