Menjadi hamba yang rendah hati

Menjadi hamba yang rendah hati

Menjadi hamba yang rendah hati

Rabu pekan II Prapaskah, 20 Maret 2019

Bacaan: Yeremia (18:18-20); Matius 20:17-28

Satu hal yang selalu dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya adalah berusaha sedapat mungking agar anak-anaknya mempunyai hidup yang lebih baik. Orang tua selalu berusaha agar anak-anaknya tidak gagal dalam hidup mereka. Dalam membantu anak-anak, mereka tidak kenal lelah, bahkan dengan berbagai macam cara mereka akan gunakan demi anak mereka. Saking mencintai anaknya, kadang mereka tidak percaya pada anak mereka. Anak mereka yang sudah dewasa pun dianggap belum tahu apa-apa.

Dalam bacaan injil hari ini kita dapat melihat ibu anak-anak Zebedeus datang kepada Yesus meminta agar kedua anaknya boleh duduk kelak di dalam Kerajaan Allah, yang satu disebelah kanan dan yang lain disebelah kiri. Permintaan ibu anak-anak Zebedeus ini tidak tanggung-tanggung, langsung pada posisi yang paling tinggi, tidak di dunia tapi kelak dalam Kerajaan Allah. Sayangnya, permintaan ini tidak di kabulkan oleh Yesus. Yesus sendiripun tidak berhak untuk menentukan posisi tersebut. Yang berhak hanyalah BapaNya di surga.

Dengan peristiwa ini, Yesus lalu mengajarkan sesuatu yang tidak umum seperti yang sering tarjadi di dalam masyarakat. Yang sering terjadi di dunia adalah orang-orang berlomba-lomba untuk mencari kedudukan. Semakin tinggi kedudukan, semakain banyak mendapat kehormatan. Sebaliknya, Yesus mengajarkan,” barang siapa yang mau menjadi besar diantara kamu, hendaklah menjadi pelayan dan baranngsiapa yang ingin menjadi terkemuka hendaklah menjadi hamba”. Sebuah perintah yang tidak mudah dipraktekkan di jaman ini, akan tetapi Yesus menghendaki agar kita pengikutnya menjadi model dan contoh didalam pelayanan. Menjadi pemimpin atau boss, kita harus menjadi contoh dan teladan bagi bawahan atau orang yang kita layani.

Mari dalam masa Prapaskah ini kita terus belajar untuk menjadi pelayan-pelayan yang rendah hati, pelayang yang sungguh tahu apa yang harus kita lakukan demi kebahagiaan orang lain. Yesus menjadi model pemimpin yang luar biasa karena kerendahan hatiNya untuk menjadi pelayan, rela menjadi hamba bagi para muridNya termasuk kita pengikutnya. Semoga contoh Yesus menggairahkan hati kita agar kita boleh menjadi teladan dalam hal melayani kepada siapa saja yang telah dipercayakan kepada kita.

Comments are closed.
Translate »