Kamis Pekan Paskah II 2019
(Pw. St. Athanasius Agung)
Kisah Para Rasul 5:27-33; Yohanes 3:31-36
Kalau kita mau menyadari, setiap hari kita sering berbicara kepada diri sendiri. Kita bertanya pada diri sendiri mau makan apa hari ini, mau memakai baju warna apa, mau berangkat kantor pagi-pagi benar atau sedikit terlambat, mau pergi misa harian atau tidak dst. Percakapan kita dengan diri sendiri itu terjadi hampir sepanjang hari. Secara khusus saat kita memikirkan atau mempertimbangkan untuk memilih keputusan yang baik atau tidak baik, mau melakukan tindakan baik atau jahat. Disinilah peran besar suara hati mendapatkan tempatnya. Suara hati kita yang jernih tentu saja akan mendorong kita memilih yang baik dan benar.
Tindakan mentaati suara hati atau hati nurani adalah salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah. Dalam bacaan pertama hari ini, Santo Petrus dan para rasul berani memilih untuk taat kepada Allah dari pada taat kepada manusia. Pilihan untuk taat kepada Allah itu seringkali membawa konsekuensi yang tidak mudah, karena membuat yang bersangkutan mengalami kesusahan dan penderitaan. Disini, para rasul harus banyak menderita karena mentaati Tuhan dan menolak mentaati para Imam Besar dan pemimpin-pemimpin Yahudi yang memang menolak Tuhan Yesus.
Hari ini kita diajak untuk melatih ketaatan kepada Allah dengan cara selalu berusaha mentaati suara hati yang adalah suara Allah sendiri. Bila kita membiasakan diri berlawanan atau menolak suara hati, sebenarnya kita sedang berada dalam situasi bahaya karena kita membiasakan tindakan dosa dan salah itu sebagai hal yang biasa. Hendaknya kita perlu membiasakan mentaati suara hati kita sejak kecil. Dan sebagai orang tua, kita harus mengajarkan dan mendidik anak-anak kita agar mentaati suara hati dan melatih untuk menjauhi tindakan jahat dan dosa. Semoga Roh Kudus membantu kita dan seluruh keluarga kita membangun semangat taat kepada suara hati sehingga hidup kita akan menjadi damai dan sukacita. Tuhan memberkati.