Mencintai tanpa Pura-pura

Mencintai tanpa Pura-pura

Jumat, 31 Mei 2019

Pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet

Bacaan Injil Lukas 1: 39-56

Dalam bacaan hari ini, Paulus mengajak kita untuk hidup dalam pengharapan. Kita diminta untuk sabar menanggung derita dan tekun di dalam doa. Tuhanlah yang menjadi kekuatan kita di tengah hiruk-pikuk dunia. Harapan yang ada dalam diri kita hendaknya senantiasa bernuansa sukacita agar semakin mengalami kesempurnaannya. Maka, Paulus mengajak kita untuk melihat kualitas cinta kasih kita, baik kepada Tuhan maupun sesama. “Kasihmu janganlah pura-pura!” demikianlah pesan Paulus. Tentu mencintai dengan tanpa kepura-puraan memanglah hal yang berat. Mari kita saksikan sendiri betapa kita memerlukan kepura-puraan agar dapat mencintai secara penuh. Misalnya, ketika dulu di masa-masa awal merajut cinta dengan pasangan, tentu kita harus pura-pura. Istri pura-pura mencintai tayangan sepakbola, misalnya, agar suaminya merasa tenang dan nyaman ketika menonton pertandingan sepakbola di televisi. Sebaliknya, sang suami juga pura-pura merasa senang jika diajak istri berbelanja di pasar dalam waktu yang amat lama, misalnya. Dengan kepura-puraan itu, suami dan istri mencoba untuk mencintai hingga akhirnya cinta mereka semakin lekat dan ada masanya mereka tidak butuh lagi kepura-puraan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa mencintai adalah proses panjang yang mana kadang di awal membutuhkan sikap pura-pura.

Ajakan Paulus agar kita mencintai tanpa pura-pura semoga membuat kita sadar betapa mencintai adalah tindakan serius. Maria yang mengunjungi Elisabet dalam Pesta hari ini, menunjukkan bahwa cinta kasih Maria kepada Elisabet tidaklah pura-pura. Hatinya sungguh-sungguh ingin mengunjungi saudarinya itu. Mengunjungi berarti membuka pintu, tidak tinggal tertutup di dunia kecil pribadi, tetapi pergi mendatangi orang lain. Bukankah mencintai juga merupakan tindakan keluar dari diri sendiri dan menghampiri sesama untuk berbagi kisah dan peneguhan hati?

Apa yang dilakukan Maria itu menjadi pembelajaran bagi kita agar mampu mencintai secara sempurna, tanpa membutuhkan kepura-puraan. Maka, apa yang dipesankan Paulus sebetulnya bisa dilakukan dalam taraf manusiawi, dengan Maria sebagai tokoh teladannya. Mari, kita mencoba mengukur kualitas cinta kita. Apakah kita sungguh melakukan tindakan mencintai dengan tanpa kepura-puraan? Apakah kita sudah mampu membuka hati dalam mencintai? Kita mohon berkat Tuhan untuk perjalanan hidup kita, terutama dalam mencintai sesama dan Tuhan sendiri.

Comments are closed.
Translate »