Penyerahan Diri
Kamis, 30 Mei 2019
Hari Raya Kenaikan Tuhan
Bacaan I Kis 1: 1-11
Bacaan Injil Lukas 24: 46-53
Kenaikan Yesus ke Surga menjadi momentum bagi para rasul untuk semakin giat menyerahkan diri mereka sebagai pewarta. Mereka adalah saksi atas segala hidup Yesus. Apa yang mereka lihat, mereka wartakan. Apa yang mereka dengar, mereka ajarkan. Dan apa yang mereka percayai, mereka taati. Kita belajar dari para rasul tentang cara hidup sebagai murid Kristus.
Satu hal yang bisa kita ambil dari Injil hari ini adalah tentang sukacita yang dibawa para rasul karena mereka melihat sendiri kenaikan Tuhan Yesus. Sukacita merupakan tujuan kehidupan. Ada berbagai macam sukacita, tetapi para rasul mengajak kita untuk memiliki sukacita secara sempurna dan penuh. Sumber untuk mengalami kesempurnaan sukacita berasal dari iman akan Yesus Tuhan. Melalui iman, seorang beriman akan merasakan berkat atas hidupnya sehingga muncullah banyak sujud syukur dan sembah bakti kepada Tuhan. Nilai-nilai hidup seperti itu mendorong terciptanya kesetiaan dan ketaatan sehingga kinerjanya menjadi semakin murni.
Saya seringkali mendengar tantangan-tantangan dari para pewarta dan pelayan Gereja, atau katakanlah orang-orang yang punya hati bagi Gereja, bahwa tegangan yang seringkali muncul adalah keinginan untuk dihargai secara istimewa. Karena telah berjasa bagi pelayanan menggereja, maka keinginan untuk dihargai, diistimewakan dalam Gereja terkadang menjadi semakin besar sehingga mudah melunturkan semangat pemberian diri. Ini yang mungkin bisa kita olah dalam kehidupan menggereja saat ini. Para rasul mengajarkan kepada kita bahwa penyerahan diri tanpa pamrih adalah pondasi dasar bagi para pewarta dan pelayan Gereja. Biarlah penghargaaan dan penghormatan hanya tertuju kepada Yesus semata sehingga tetap ada kemurnian bagi para pewarta. Kemurnian hati, batin dan kehendak harus tetap dijaga sebab tantangan tidak akan pernah berhenti. Maka, saya koq merasa bahwa salah satu tantangan berat bagi pewarta adalah menaklukkan kebutuhan-kebutuhan ingin pamrih dan dihargai. Ini persoalan dengan diri sendiri sehingga kita harus menang dengan diri sendiri dulu, baru sesudah itu menyerahkan diri bagi perutusan, pewartaan dan pelayaan.
Mari, kita mencoba untuk menjadi seperti para rasul yang memberikan diri bagi Gereja tanpa mengharapkan apapun sebagai imbalan. Semoga, pelayanan kita semakin hari semakin dimurnikan dan berkenan kepada Yesus Tuhan kita.