Sembuh dari dosa
mis Pekan Biasa XIII, 4 Juli 2019
Bacaan: Kejadian 22: 1-19; Matius 9: 1-8
Kisah orang lumpuh yang disembuhkan oleh Yesus membuat takjub banyak orang dan sekaligius kemarahan para ahli Taurat. Hal itu terjadi karena Yesus mengaitkan penyembuhan dengan pelepasan atas dosa, padahal hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa. Sebuah realita yang sangat menarik dan sekaligus mendalam yang ingin disampaikan Yesus kepada semua orang yang menyaksikannya. Si lumpuh disembuhkan karena keinginannya dan usaha mereka yang membawanya, yang oleh Yesus dilihat sebagai kepercayaan dan iman mereka kepadaNya. Oleh sebab itulah iman yang ditampilkan itu membuahkan wujud nyata, yakni kesembuhan si lumpuh, yang membawa perubahan dalam hdiupnya.
Ternyata bukan hanya kesembuhan fisik yang terjadi, bahkan dosa si lumpuh pun diampuni Yesus. maka si lumpuh terbebas dari dosa dan kelumpuhannya. Ternyata Tuhan Yesus ingin mempertegas bahwa yang utama diperlukan adalah pembersihan dan penyembuhan batin, yakni pertobatan dan pembebasan dari dosa. Jika dosa telah terampuni, maka keadaan fisik pun menjadi lebih baik dan sehat. Tubuh boleh sakit atau cacat, namun hati tetap bersih dan murni. Apalagi orang Yahudi sering menghubungkan penyakit, seperti kelumpuhan sebagai akibat dosa, yakni kutukan dari Tuhan. Oleh sebab itulah Yesus mau menjernihkan pandangan ini, bahwa tidak ada hubungannya antara dosa dan kelumpuhan, apalagi dianggap sebagai kutukan Tuhan. Maka untuk meluruskan pandangan itu, maka Yesus melakukan keduanya pada diri orang lumpuh itu.
Kita disadarkan bahwa semua penyakit dan berbagai realita yang kurang baik bukanlah hukuman Tuhan karena dosa kita. Keadaan itu bisa terjadi sebagai konsekuensi dari sebuah tindakan yang dilakukan oleh kita atau orang lain. Oleh sebab itulah kita diingatkan untuk selalu memohon kesembuhan atas kedosaan kita, yang justru menjadi penyakit yang berbahaya untuk kehidupan kita dan bukan hanya fisik. Sembuh secara rohani dan batin sangat diperlukan pada jaman ini, apalagi terkadang kita kurang mau akrab dengan rahmat pengampunan Tuhan melalui Sakramen Tobat atau Rekonsiliasi. Kinilah saatnya bagi kita untuk lebih merawat rohani kita sehingga fisik kita pun menjadi sehat dan segar.