Komitmen Mengikuti Yesus
Mat 10: 34-11:1
Senin, 15 Juli 2019
“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”
Saudari-saudara terkasih dalam Kristus, bagian ini merupakan bagian nasehat yang disampaikan Yesus kepada para murid. Dimana para murid ditegaskan kembali bahwa konsekuensi menjadi pengikut Yesus tidaklah mudah. Mengapa? Mereka akan terpisah dengan keluarga mereka sendiri. Kondisi ini mungkin konsekuensi yang berat yang bakal diterima oleh para murid ketika mengikut Yesus, mengingat para murid yang adalah orang Yahudi sangat menyanjung tinggi hubungan kekerabatan dan kekeluargaan. Keberadaan Keluarga merupakan salah satu identitas dan jatidiri orang Yahudi, yang dengannya berpengaruh pada status dan hubungan sosial. Hal ini berakar kuat dan tidak begitu mudah untuk dilepaskan.
Dari perikop injil ini, kita juga mendapati bahwa menjadi pengikut Yesus ternyata membutuhkan kesungguhan, komitmen dan pengorbanan yang besar. Selama ini pengalaman hidup kita menyatakan bahwa komitmen dan kesungguhan sebagai orang percaya sering bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi dan alami. Pengalaman sering menyaksikan kepada kita bagaimana kita sebagai orang Kristen kerap kali menyatakan kesungguhan dan komitmen mengikut Dia manakala kenyataan-kenyataan hidup kita bersesuaian dengan apa yang kita harapkan. Dan ketika apa yang kita harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, kita kecewa, menggerutu bahkan komitmen dan kesungguhan mengikut Dia menjadi kendor.
Bagian lain dari injil hari ini mengingatkan kita bahwa Komitmen yang kuat dan kesungguhan mengikut Yesus akan tercermin dalam hidup orang percaya yang diwarnai dengan semangat mengasihi dan menghidupkan orang lain (lih. Ayat 40-42). Ini berarti komitmen dan kesungguhan mengikut Yesus sekalipun beresiko harus pula berdampak dalam tindakan-tindakan dan karya yang menghidupkan. Dengan mengikut Yesus, pandangan kita bukan hanya tertuju pada kita dan bagaimana nasib kita tetapi kita diajak untuk dengan sukarela menundukkan keinginan-keinginan pribadi dan memikirkan kebaikan orang lain.
Saudari-saudara terkasih dalam Kristus Yesus, ternyata mengikut Yesus bukanlah hal yang mudah dan yang selalu identik dengan kesenangan dan kegembiraan. Mengikut Yesus sangatlah beresiko namun itulah yang yang harus kita jalani. Menjalaninya dengan penuh syukur dalam kepastian “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Ayat 10:22).
Maka, mari kita belajar dari Kristus, bahwa memang kadang kita harus berdiri teguh, namun dengan penuh kasih untuk mewartakan kebenaran, walaupun tentu saja mempunyai resiko. Namun diperlukan suatu sikap yang bijak untuk mewartakan kebenaran. Cara yang paling efektif adalah mewartakan kebenaran dengan kehidupan kita yang memancarkan kasih Kristus, atau dengan hidup kudus. Tuhan kiranya memampukan kita untuk melakukannya. Amin.