Mengedepankan Kasih

Mengedepankan Kasih

Matius 12: 1-8

Jumat, 19 Juli 2019

Di sebuah taman yang memiliki banyak pohon rindang dan tanaman asri ada sebuah papan ‘peringatan’ bertuliskan, “Orang yang mengasihi pasti taat aturan, tetapi orang yang taat aturan belum tentu mengasihi.” Saya menduga peringatan tersebut bermaksud untuk mengajak para pengunjung taman untuk mengasihi lingkungan dengan menjaga kebersihan dan kelestarian serta merawat tanaman yang ada di taman itu. Tetapi yang menarik bahwa tindakan untuk mengasihi lingkungan tersebut harus didasari kasih dan bukan semata-mata karena diminta atau diperintahkan

Saudari-saudara terkasih di dalam Yesus, Injil hari ini mengisahkan bahwa kaum Farisi mengkritik murid-murid Yesus karena mereka memetik bulir gandum dan memakannya pada hari Sabat. Di dalam tradisi Yahudi ada larangan ada 39 larangan yang berlaku pada Hari Sabat, diantaranya mengenai menabur, membajak, menuai, memetik gandum, mengirik, menampi, menyalakan api, dll.  Yesus dalam menjawab kritikan orang-orang Farisi mengatakan bahwa Anak manusia adalah Tuhan atas hari Sabat sebenarnya mau mengembalikkan makna Sabat. Sabat adalah hari istirahat, hari yang istimewa dimana Allah menganugerahkan pembebasan kepada Bangsa Israel. Dalam Ulangan 5, Musa mengulangi sepuluh hukum kepada generasi yang baru dari bangsa Israel. Di sini, setelah memerintahkan untuk memperingati Sabat dalam ayat 12-14, Musa memberikan alasan mengapa Sabat diberikan kepada bangsa Israel, “Sebab haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di tanah Mesir dan engkau dibawa keluar dari sana oleh TUHAN, Allahmu dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung; itulah sebabnya TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau merayakan hari Sabat” (Lih. Ulangan 5:15). Jadi maksud Allah memberi Sabat kepada orang-orang Israel bukan supaya mereka mengingat penciptaan, namun mengingat perbudakan mereka di Mesir dan pembebasan dari Tuhan.

Saudari-saudaraku, di sini terjadi kontradiksi, yakni Sabat yang seharusnya menjadi hari berkat atau pembebasan justru menjadi beban berat karena macam-macam larangan.Maka, dalam injil hari ini tekanan Yesus justru pada tindakan belas kasih bukan pada pelaksanaan hukum yang kaku. Dengan mengatakan bahwa, “Yang kukehendaki adalah belaskasihan”, Yesus mau menegaskan bahwa hukum kasih lebih tinggi daripada hukum Taurat. Dengan kata lain, manusialah yang harus selalu didahulukan, aturan-hukum dan peraturan mengikuti.

Maka, kata-kata “Orang yang mengasihi pasti taat aturan, tetapi orang yang taat aturan belum tentu mengasihi” adalah sebuah ajakan kepada kita sekalian bahwa kasihlah yang harus menjadi dasar seluruh tindakan kita dalam hidup ini. Semoga Tuhan memampukan kita untuk selalu mengasihi apapun keadaaan kita, dengan siapapun dan di manapun kita hidup. Tuhan memberkati!

Comments are closed.
Translate »