Orang Kristen yang memulai ziarah pelayanan dalam kesederhanaan, mencontohi Dia yang memberi hidupnya.
PESTA SANTU YAKOBUS RASUL
HARI KAMIS, 25 July, 2019
2 Korintus 4:7-15Matius 20:20-28
Saudara-saudariku terkasih,
Hari ini kita memperingati Rasul Yakobus, yang legacynya termasuk Camino de Santiago, adalah suatu tempat ziarah yang terkenal di sepanjang bagian Selatan Spanyol. Gambaran ini memberi kesempatan untuk merenungkan perjalanan hidup iman kita sendiri. Kita tidak melakukan ziarah sebagai suatu liburan dengan mengunjungi tempat-tempat yang kita senangi. Perjalanan ziarah berarti menghindari tempat-tempat yang biasa kita kunjungi atau ke tempat-tempat yang belum pernah dicoba atau ke tempat-tempat yang masih asing bagi kita. Kalau kita mau melakukan suatu ziarah, kita perlu berziarah ke tempat yang lebih istimewa, dalam hubungan kita untuk mengenal Tuhan dengan lebih dekat dan intim.
Ziarah memanggil kita menghadapi tiga kenyataan yang sangat mungkin tidak pasti, tetapi yang bisa membuat kita lebih dekat dengan Tuhan. Pertama kita harus lebih rendah hati. Bacaan Injil hari ini berbicara tentang putera-putera Zebedeus. Betapapun Matius tidak menyebut nama mereka, Markus menyampaikan bahwa mereka adalah Yakobus dan Yohanes. Ibu Yakobus dan Yohanes mendekati Yesus, minta agar putera-puteranya itu…”boleh duduk kelak di dalam KerajaanMu yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu.” Seperti kebanyakan ibu pada umumnya, isteri Zebedeus sangat memperhatikan masa depan anak-anaknya. Yakobus tifak mencegah: “Ibu, biarkan saja saya menghadapi sendiri,” dengan demikian kita bisa saja menduga bahwa ia membiarkan ibunya menganjurkan untuk dia. Dalam hal ini apakah kita juga cukup rendah hati membiarkan seseorang memperhatikan kita? Menganjurkan, atau meminta seseorang berdoa untuk kita?
Kenyataan kedua datang dari St. Paulus dalam bacaan pertama hari ini; Ia berpendapat bahwa kita adalah hanya bejanah tanah liat. Dalam karya penciptaan, Allah membuat manusia dari tanah. Para tukang periuk meniru proses ini ketika mereka membentuknya, mempergunakan tanah dan air yang dicampurkan dalam bejana. Tetapi kita lebih dari hanya sebagai bejana. Kita dikaruniai kehidupan, Allah Pencipta menghembuskan napas kedalam diri kita, dan dijaga keutuhannya oleh Roh Kudus. Tidak ada sesuatu dalam diri kita yang menjadi ciptaan kita sendiri. Segala sesuatu berasal dari Tuhan, datang dari Tuhan. Ziarah kita adalah suatu perjalanan pulang kepada Dia yang telah menjadikan kita dari ketiadaan. Ziarah menjadi suatu proses perjalan kembali kepada Tuhan.
Dan yang ketiga kita perlu kembali kepada suatu pertanyaan yang tidak terlalu mudah untuk dijawab. Jesus bertanya kepda Yakobus dan saudaranya Yohanes: “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?” Kata mereka kepadaNya: “Kami dapat.” Tetapi Yesus menggaris bawahi: “CawanKu memang akan kamuminum, tetapi hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya.” Dan yang Yesus kehendaki dari para muridNya: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah iamenjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkanuntuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Dengan demikian apabila kita menyadari akan ziarah perjalan hidup kita kepada Tuhan, hendaklah kita menjadi pelayan yang rendah hati dalam hal melayani orang lain, menempatkan pada tempat pertama apa yang dibutuhkan orang lain. Suatu tuntutan ziarah yang tidak terlalu mudah untuk dilaksanakan.
Yesus minta apakah kita juga sanggup minum cawan yang akan Ia minum, cawan/piala yang kita peroleh dalam perayaan Ekaristi. Ketika kita minum dari piala itu dalam perayaan Ekaristi, berarti kita bersedia pula untuk meneruskan ziarah kita kepada Tuhan, menempatkan kebutuhan orang lain pada tempat yang pertama. Semoga dengan bantuan rahmat Allah semakin banyak dicurahkan kepada kita, untuk kebesaran dan kemuliaan nama Tuhan. Amin.