Betapapun gersangnya hati kita, Allah terus menerus memenuhi kebutuhan kita

Betapapun gersangnya hati kita, Allah terus menerus memenuhi kebutuhan kita

HARI RABU DALAM PEKAN KE 16

MASA BIASA – 24 July, 2019
Keluaran 16:1-5, 9-15

Matius 13:1-9
Saudara-saudariku terkasih,
Dapatkah Allah masih terus memenuhi apa yang diperlukan bangsa Israel di padang gurun? Padang gurun dikenal sebagai tempat yang penuh dengan kekurangan, yang ada hanyalah pasir. Tidak ada makanan, tidak ada air, tidak ada tempat yang nyaman untuk berteduh. Singkatnya, padang gurun adalah tempat yang tidak pernah bisa bersenang-senang, dan disinilah Mosses and Aaron memimpin bangsa Israel. 
Yang jelas bahwa bangsa Israel sudah boleh dibilang bebas dari perbudakan Mesir, tetapi pengalaman di padang gurun sepertinya sama saja dengan pengalaman mereka ketika masih berada di Mesir seperti yang kita jumpai dalam bacaan hari ini. Ketika perut mereka perlu diisi dengan makanan, dan kerongkongan mereka menjadi kering, setiap kebutuhan yang paling kecil sekalipun bisa menjadi suatu persoalan yang besar; oleh karena itu mereka sepertinya rela berada dalam perbudakan, yang paling penting mereka masih mempunyai sesuatu untuk mengisi perutnya yang lapar. Tidak heran kalau bangsa Israel mengeluh dan berontak melawan Moses and Aaron, mereka mempertanyakan:…”Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan Tuhan ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang!” Itulah sebabnya mereka mempertanyakan tentang kebaikan dan kekuasaan Allah? “Can God spread a table in the desert?”
Saudara-saudariku terkasih,
Di dalam ketidak nyamannya situasi di padang gurun itu, Allah memenuhi kebutuhan bangsa Israel dengan “manna” yang turun dari langit; roti yang memenuhi padang gurun itu. Hal itu bisa dibilang sebagai suatu mukjizat yang telah Tuhan lakukan untuk merobah situasi yang tidak nyaman menjadi nyaman. Namun bangsa Israel masih saja tidak berterimakasih.Bukan tidak mungkin hal yang sama terjadi didalam kehidupan kita masing-masing. Sebagai orang tua misalnya yang menghadapi anak-anak yang tidak tahu  berterimakasih kepada orangtuanya; betapapun orangtua sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Demikianlah apa yang telah dialami Musa dan Aaron dengan sikap bangsa Israel di padang gurun kepada Allah.
Oleh karens itu, saudara-saudariku terkasih, Kita perlu belajar dari pengalaman bangsa Israel dipadang gurun itu dengan apa yang kita dengar dalam bacaan Injil hari ini. Perumpamaan tentang penabur. Apa yang menjadi sikap hat kita terhadap benih sabda Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah hati kita seperti tanah di jalan yang gersang, di tanah yang berbatu-batu, di semak duri, atau di tanah yang subur? Dalam kaitan dengan bacaan pertama tadi, apakah sikap batin kita kepada Sabda Tuhan? Mampukah kita mengatasi segala tantangan dalam keidupan ini untuk tetap setia kepada Than? Suatu pertanyaan yang akan menjadi fokus refleksi kita sepanjang hari ini. Terimakasih!!!

Comments are closed.
Translate »