SELASA, 6 AGUSTUS 2019
Injil Markus 9: 2-10
Yesus membawa ketiga murid terdekatnya Petrus, Yohanes dan Yakobus menuju ke gunung untuk berdoa. 6 hari setelah dia mengatakan bahwa anak manusia akan diserahkan ke tangan penjahat dan mereka akan menyalibkan Dia, Yesus memberikan antisipasi bahwa penyesahan dan kematiannya bukanlah akhir dari segala-galanya. Penggelantangan dan kemuliaan yang Allah tunjukkan dalam penampakan Musa dan Elia adalah sebua antisipasi bahwa setelah penyaliban dan kematian, kemuliaan dan kemenangan Kristus akan kejahatan dan kematian sedang menanti. Peristiwa kemuliaan itu adalah sebuah cara ilahi dari Yesus sendiri untuk mengurangi rasa sedih yang menyeruak dalam hati para murid terkasih-Nya setelah mendengarkan bahwa ia akan disesah dan mati disalibkan. Ia juga mau mengingatkan kepada mereka bahwa penderitaan yang rela dilakukan-Nya adalah atas kemauannya sendiri dan karena itu mereka tak perlu berkecil hati dan gentar sebab Yesus tahu bahwa salib dan maut bukanlah akhir dari segala-galanya tetapi awal dari kemuliaan yang akan diberikan bukan saja kepada Yesus tetapi kepada semua yang percaya kepada-Nya. Yesus juga mengingatkan murid-murid-Nya agar tidak melihat salib sebagai batu sandungan tetapi sebagai sebuah batu loncatan yang menghantar pada kemuliaan.
Kitab Mazmur mencatat kalimat ini: “Tabor dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu (Mzm. 89:13). Yesus dimuliakan di puncak sebuah gunung yang tinggi. Menurut tradisi Alkitabiah, Yesus dimuliakan di atas puncak gunung Tabor.Kita ingat kisah perrjanjian lama ketika Musa bercakap-cakap dengan di puncak Gunung Sinai dan juga seperti ketika Musa memandang negeri Kanaan dari puncak Gunung Pisga. Gunung dalam Kitab Suci sering dikisahkah sebagai tempat di mana orang bisa mengambil jarak sebentar dari keseharian dan rutinitas yang penat dan padat, untuk pergi menyendiri, berpaling kepada alam dan dengan melihat dan mengagumi alam, orang bisa semakin menyadari kebesaran Allah yang sedemikian besar dalam hamparan pemandangan yang indah dan luas.
Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus. Dalam sejarah kita mengenal betapa Petrus terpilih sebagai pemimpin para rasul namun Petrus juga yang menyangkal Yesus tiga kali. Tho, Yesus tetap mempercayakan Petrus untuk memimpin para rasul setelah kematian-Nya. Petrus yang bertobat akhirnya mati di salib secara terbalik karena dia merasa tak layak untuk disalibkan seperti Kristus. Yakobus adalah Rasul pertama di antara kedua belas murid yang mati untuk Kristus, dan Yohanes hidup lebih lama daripada yang lain, untuk menjadi saksi terakhir dari kemuliaan-Nya; Yohanes bersaksi (Yoh. 1:14), “Kami melihat kemuliaan-Nya,” begitu juga Petrus (2Ptr. 1:16-18).
Dalam penampakan yang sangat menakjubkan itu, Petrus berkata: “Tuhan, betapa bahagianya berada di tempat ini, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah di sini, biarlah ini menjadi tempat peristirahatan kita selamanya.” Perhatikanlah, jiwa yang saleh menginginkan persekutuan dengan Kristus, bahwa adalah baik untuk berada dekat dengan Kristus. Tentunya baik bagi kita untuk untuk berada di tempat yang terpisah dari kebisingan dunia ini dan menyendiri dengan Kristus. Jika hanya dengan Kristus yang dipermuliakan di atas sebuah gunung dengan Musa dan Elia saja sudah sedemikian indah, apalagi kalau kita nanti bisa bersama-Nya dipermuliakan di sorga bersama semua orang kudus! Namun karena tugas belum purna, Yesus mengajak para murid untuk kembali turun gunung setelah pemuliaannya. Dalam semua doa dan pengalaman rohani kita yang mendalam, kita senantiasa diingatkan bahwa sekali kelak kita akan bersatu dengan Kristus dalam kemuliaan-Nya di surga namun kita juga realistis untuk tetap berjuang dan terus berbuat baik di dunia ini sesuai dengan nasihat-nasihat injili sampai pada titik di mana Tuhan memanggil kita untuk kembali bersatu dengan Dia di tempat kediaman-Nya kelak. Amin.