Murid yang DikasihiNya
Jumat, 27 Desember 2019
Hari Raya Pesta Santo Yohanes, Rasul dan Penginjil
1 Yohanes 1;1-4
Mazmur 97
Yohanes 1:1-8
Banyak tradisi dalam Gereja Awal yang membahas tentang sosok Yohanes ini. Kita tahu dari Injil yang lain bahwa Yohanes anak Zebedeus adalah salah satu dari 12 Rasul pertama Yesus. Tetapi penamaan pengarang Injil keempat ini lebih sulit dirunut sejarahnya. Si pengarang Injil ini sendiri tidak pernah menyebut namanya, melainkan hanya dengan sebutan “murid yang lain” atau “murid yang dikasihi Yesus”. Dalam Injil ini dan ketiga surat yang diatribusikan kepada Yohanes sangat banyak kita temui pembicaraan tentang kasih Tuhan.
Yang pertama kali menghubungkan Yohanes Rasul dan Yohanes pengarang Injil keempat dan pengarang ketiga surat adalah Santo Iraneus sekitar tahun 180. Ada kemungkinan bahwa Iraneus ingin menghindari asosiasi Injil keempat ini dengan pemikiran kelompok Gnostik yang berkembang saat itu. Injil ini memang lain dengan Injil yang lain dan sangat tinggi pemikiran teologis dan Kristologisnya (misalnya, Yesus sebagai Logos/Firman abadi di bab pertama).
Siapapun pengarang Injil ini yang sebenarnya, lebih penting lagi bagi kita untuk menyimak pesan di dalamnya. Tujuan Injil ini kita temukan jelas pada bagian akhir, di ayat 20:31 “… semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya.” Inilah yang dialami sendiri oleh sang murid yang dikasihi Yesus. Ketika dia sampai ke makam Yesus dan melihat jenazahnya sudah tidak ada, ia seketika juga mengerti isi nubuat Kitab Suci dan menjadi percaya.
Yohanes melalui Injilnya mengajak kita yang tidak melihat sendiri kebangkitan Yesus untuk menjadi percaya juga. Semoga dengan percaya, kita pun layak turut menjadi murid yang dikasihiNya.