Kamis, 30 Januari 2020

Kamis, 30 Januari 2020

Markus 4: 21-25

Hari Biasa Pekan III

1. Pelita itu menerangi. Hari ini Yesus meneruskan pengajaran yang kemarin Ia sampaikan. Ia tidak menginginkan murid-murid-Nya menutupi segala perkataan-Nya. Ia mengibaratkan firman-Nya seperti pelita yang seharusnya menerangi kehidupan orang lain: “Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.” Hakikat pelita yang dinyalakan itu bukan untuk disembunyikan, melainkan memberi terang.  Berdasarkan sifatnya, terang membuat dirinya bersinar sedemikian rupa sehingga dapat dilihat oleh banyak orang. Begitu jugalah kebenaran, yang adalah terang firman Tuhan. Jika para murid telah mendengar kebenaran Allah, mereka bertanggung jawab untuk menyatakan dan membagikan terang itu dan tidak boleh menyembunyikannya. Apa yang telah mereka dengar bukan untuk disimpan bagi diri mereka sendiri.

Oleh karena itu, Yesus mengajak mereka untuk mendengarkan setiap firman-Nya dengan baik:  “Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Kebenaran firman-Nya yang mereka dengar akan memberikan manfaat pada mereka. Kesediaan dan kesetiaan para murid untuk mendengar akan menjadikan mereka semakin mampu memahami dan mengalami kebenaran firman-Nya. Murid yang tidak menggunakan kemampuannya untuk memahami dan mengalami firman Tuhan, akan kehilangan kemampuan itu: “Apa pun juga yang ada padanya akan diambil.” Maka para murid tidak bisa diam saja tentang pemahaman dan pengalaman mengenai Yesus dan Kerajaan Allah. Mereka dipanggil untuk mewartakannya.

Begitulah terang firman yang dinyatakan pada kita, bukan hanya untuk kepentingan kita sendiri, melainkan kepentingan orang lain juga. Panggilan untuk menyalakan dan berbagi terang firman adalah tugas semua murid-Nya, tanpa kecuali, dan dengan caranya masing-masing yang khas. Ada seorang gadis remaja yang setiap hari tergerak untuk membaca dan merenungkan firman-Nya, dan ia mencoba mewartakan kebenaran firman-Nya melalui gambar animasi yang hampir setiap hari kita terima. Kita pun bisa mewartakan dengan cara kita masing-masing. Orang yang menemukan sesuatu yang berharga pasti tidak akan diam saja dan menyembunyikannya. Ia pasti akan memberi tahu orang lain dengan sukacita sebab ia telah menemukan Sahabat yang berharga bagi jiwanya.

2. Diutus sebagai terang pelita kasih, belas kasih dan pengampunan. Yesus mengingatkan para murid-Nya bahwa “ukuran” yang mereka kenakan kepada orang lain akan “diukurkan” juga kepada mereka: “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.” Para murid telah menerima kasih, belaskasih dan pengampunan dari Allah. Ini semua adalah harta surgawi yang patut disyukuri. Sebagai pembawa terang kebenaran Kristus, yang dipenuhi dengan kasih, belas kasihan, pengampunan-Nya, seorang murid diutus untuk berbagi hadiah surgawi itu. Itulah hidup seorang murid yang bermutu. Semakin ia melakukan tindakan kasih, belas kasih dan pengampunan, semakin Allah melimpahkan rahmat itu.  

Paus Fransiskus berkata: “Ada interaksi yang luar biasa antara belas kasih dan perutusan. Mengalami belas kasihan membuat kita menjadi utusan belas kasihan, dan menjadi utusan memungkinkan kita untuk bertumbuh lebih dalam belas kasihan Allah. Karena itu, marilah kita menanggapi panggilan Kristen kita dengan serius dan berkomitmen untuk hidup sebagai orang percaya, karena hanya dengan demikian Injil dapat menyentuh hati seseorang dan membukanya untuk menerima rahmat kasih, untuk menerima kemurahan Tuhan yang besar dan serba ramah ini.

Comments are closed.
Translate »