Dengarkan Hatimu
Bagi kita umat Katolik, Yesus bukan hanya seorang nabi, artinya seorang pengajar. Ia juga Tuhan bagi kita. Sebagai Tuhan, hatiNya dipenuhi dengan belas kasih, karena ketuhanan Yesus bukanlah untuk menghukum sebaliknya untuk menyelamatkan. Penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus seringkali dilakukan lewat cerita. Namun tujuan dari cerita Yesus sangatlah jelas yaitu memberi petunjuk supaya orang mau dan mampu berubah dari hal yang buruk menuju hal yang baik. Pada hari ini Yesus bercerita tentang para penggarap kebun anggur. Jelas bahwa dalam cerita ini Ia hendak menyadarkan para penggarap kebun anggur yaitu para imam, para tetua Yahudi dan juga para ahli Taurat. Lewat cerita ini Yesus secara tidak langsung memberi sanksi kepada mereka, yaitu lewat jawaban-jawaban mereka sendiri.
Kalau kita mau sungguh jujur pada diri kita sendiri, sebenarnya Tuhan seringkali juga menegur kita lewat hati nurani kita. Acapkali saat kita jauh dari Tuhan, saat kita berbuat hal yang tak benar hati kita “memberitahu” bahwa tindakan kita tidaklah benar. Maka baik bila kita selalu ingat kata-kata pemazmur ini “Pada hari ini bila kamu mendengar suaraNya, janganlah bertegar hati”. Mengapa Yesus dan pemazmur meminta kita untuk tidak bertegar hati? Karena hati kita jauh lebih peka dari pada nalar logika kita. Hati adalah pusat kehidupan kita baik fisik, mental maupun spiritual. Bila hati kita benar, maka benarlah hidup kita. Namun bila hati kita salah, tersesatlah hidup kita. Amin.
Masa Prapaskah adalah masa untuk merenung, masa untuk mendengarkan Tuhan yang berbicara banyak dalam hati kita. Adakah kecenderungan dalam hidupku yang harus diubah? Mau dan mampukah aku mendengarkan hatiku?