Hari Biasa Pekan III Prapaskah.

Hari Biasa Pekan III Prapaskah.

Markus 12: 28b-34

Jumat, 20 Maret 2020

1. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Dalam Injil hari ini (Markus 12: 28b-34), para ahli Taurat dan orang-orang Saduki berdiskusi dengan Yesus tentang Hukum Paling Utama dari aneka hukum yang ada. Diskusi ini makin menarik ketika ditempatkan dalam situasi wabah virus Corona yang belum bisa dikendalikan sampai saat ini. Beberapa orang berpendapat bahwa di tengah situasi ini umat Katolik tetap harus memperlihatkan cintanya kepada Allah melalui kehadiran di Ekaristi Mingguan, sebab Ia tinggal di altar suci. Sementara itu, beberapa orang mengatakan bahwa saat ini Tuhan sedang tinggal di pelataran suci umat-Nya yang sedang penuh masalah yang menakutkan dan memprihatinkan. Oleh karena itu cinta mesti terwujud dengan hadir bersama berdoa dan berjuang bagi lebih baiknya masyarakat yang sehat lahir dan batin. Diskusi tentang Hukum yang paling utama dalam konteks situasi masyarakat kita sekarang terus bergulir dan sepertinya belum menemukan simpul akhir.

Jawaban Yesus menarik. Ahli Taurat meminta satu pegangan dan kesimpulan yang pasti tentang Hukum Paling Utama. Yesus memberi dua hukum yang saling terkait:  “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” Apabila seseorang sepenuhnya mengasihi Allah, maka tindakan untuk mengasihi sesama akan muncul. Hukum itu meringkas hukum yang tertulis pada dua loh batu yang diterima Musa. Hukum itu menyatakan kewajiban manusia kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama.

2. Yesus, sang Bait Allah sejati: Di sini, saat ini.  Allah membuat keputusan besar ingin menyelamatkan umat-Nya dari virus  dosa yang mengancam hidup umat-Nya. Ia menampakkan kasih-Nya dengan keputusan yang membuat banyak orang terperangah: mengirim Anak-Nya, sang Bait Allah sejati. Allah tidak ingin menghapuskan atau menghilangkan praktik mencintai Allah dengan datang ke Bangunan Bait Allah. Tetapi di tengah situasi darurat kehidupan manusia yang terjakit virus dosa, Ia ingin agar umat-Nya selamat. Caranya adalah memberikan hormat bakti kita kepada-Nya dengan hati yang tulus, jiwa yang terbuka, akal yang rasional, etiket yang terukur, dan dengan kekuatan penuh. Hormat bhakti itu bisa dilakukan di bangunan Bait Suci. Kehadiran Allah dan ungkapan kasih kepada Allah tidak terpaku pada satu cara dan pola. Para murid bisa menemukan dan menyatakan kasih kepada Allah di setiap saat, dan setiap peristiwa. Mengasihi Allah tidak identik dengan melakukan kurban bakaran dan korban sembelihan. Yesus memuji ahli Taurat yang memahami dan menerima kebenaran pengajaran-Nya itu, dan berkata bahwa “mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Ia bahkan menambahkan: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”

Hari-hari ini  Gereja Universal dan lokal membuat keputusan besar karena ingin menyelamatkan kehidupan manusia dari virus Corona. Tanpa mengecilkan kerinduan umat berbakti dan mencintai Allah dengan datang ke bangunan suci, yaitu Gereja tempat berlangsungnya Ekaristi, Gereja mengambil keputusan agar untuk sementara umat yang sakit tidak datang ke Gereja khusunya pada situasi pandemi ini, yaitu masa dimana wabah penyakit menyebar di seluruh wilayah dunia.  Keputusan ini adalah keputusan cinta. Keputusan ini adalah pilihan untuk mencintai dan menyelamatkan kehidupan sesama. Hormat dan bhakti tidak pernah ditentukan semata oleh jadual bhakti ekaristi dan adorasi satu jam. Hormat dan cinta  harus berlangsung di tempat dimana kita berada: “Di tempat ini dan saat ini.” Hormat bhakti itu seluruh hari. Hormat bhakti tidak membatasi diri sekedar pada menerima komuni. Hormat dan cinta bhakti mendorong kita untuk tidak melupakan satu hal, yaitu datang ke pribadi Yesus, sang Bait Allah sejati: “kapan saja-dimana saja; saat ini dan disini.”

3. Beruang dan kita: Alkisah seekor beruang melintasi sungai yang airnya dingin. Ia melihat aneka macam ikan berkeriap ke sana kemari. Ia berpikir ikan-ikan itu sedang kedinginan. Ia merasa kasihan. Maka beberapa ikan diambilnya. Ia ingin menolongnya agar beberapa ikan itu mengalami kehangatan. Satu-satunya cara adalah menempatkan ikan-ikan itu di ketiaknya. Ia pun berjalan pulang dan menaruh ikan-ikan itu di ketiaknya. Sesampai di rumah ia terkejut karena ternyata ikan-ikan yang ingin ia selamatkan justru mati.

Pesan rohani untuk kita: Kadang dalam olah rohani kita, seperti si beruang, terjebak untuk mempertahankan satu cara tertentu saja. Kadang kita beranggapan bahwa satu-satunya cara untuk mengasihi Tuhan dan memberikan keselamatan adalah datang ke Gereja secara berjamaah. Tetapi cinta bukanlah cara. Cinta adalah daya. Daya itu mengalir dan menghidupkan. Pada saat-saat khusus kita diajak mencintai Allah dan sesama dengan cara yang berbeda. Kita mesti terbuka. 

Comments are closed.
Translate »