Hari Raya Santo Yusuf, Suami Santa Perawan Maria

Hari Raya Santo Yusuf, Suami Santa Perawan Maria

Matius 1: 16.18-21.24a atau Lukas 2: 41-51.a

Kamis, 19 Maret 2020

1. Sosok teladan dalam beriman. Yusuf memiliki pekerjaan sebagai tukang kayu. Pertunangannya dengan Maria tentu membahagiakan hatinya. Namun tiba-tiba dunia terasa runtuh! Maria hamil! Padahal mereka belum hidup sebagai suami istri. Tentu ia kecewa karena merasa dikhianati. Meski mencintai Maria, pasti sulit bagi dia untuk memercayai cerita Maria. Lalu apa yang harus dia lakukan? Hukum yang berlaku saat itu bagi para pelaku zinah adalah dilempari batu hingga mati. Ini bisa menjadi alasan untuk memutuskan pertunangan. Namun Yusuf memilih untuk memutuskan pertunangan diam-diam. Ia tidak ingin mempermalukan Maria di depan umum: “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” Ketika mempertimbangkan rencananya itu, tanpa disangka, malaikat menemui dia di dalam mimpi dan berbicara secara khusus mengenai kehamilan Maria: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”   Respons Yusuf sungguh berbeda dari sikapnya sebelumnya. Ia bersedia menaati Allah dan menjadikan Maria sebagai istrinya. Yusuf bukanlah pemeran utama dalam kisah kelahiran Yesus, tetapi ia adalah sosok penting. Yusuf berani melangkah untuk mengambil Maria sebagai isterinya karena ia mau menundukkan dirinya kepada rencana Allah dengan mengesampingkan kepentingannya. Ia mengorbankan hasrat, harapan, atau ambisi dan mimpinya.

Kita terkadang menemukan diri kita dalam keadaan sulit tanpa jalan yang jelas ke depan. Apakah kita berusaha untuk membuat keputusan dengan memohon bantuan rahmat-Nya dan menggunakan kecerdasan, emosi, dan kehendak kita? Seringkali kita tidak berani mengambil keputusan untuk tunduk kepada kehendak dan rencana Allah karena kita lebih mementingkan keinginan diri sendiri. Kita cenderung tidak bersedia mengambil resiko kehilangan sesuatu yang kita sukai.

2. Sosok pelindung. Yusuf adalah “pelindung” karena dia mendengar suara Tuhan dan percaya pada kehendak-Nya. Sikap ini memungkinkan dia untuk mengambil keputusan dengan bijak: “Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.”  Keputusannya untuk tidak menceraikan Maria yang mengandung Yesus menjadikan dirinya sebagai pelindung kehidupan bagi Yesus dan Maria.

Menjadi pelindung berarti menjaga dan mengayomi. Para suami dan istri pertama-tama perlu menerima dengan iman bahwa “satu sama lain” adalah anugerah hidup dari Allah. Kemudian, sebagai orang tua, mereka meneruskan anugerah kehidupan mereka yang nyata dalam kehadiran anak-anak mereka. Menjadi pelindung bagi anak-anak berarti menerima kehadiran mereka dengan segala keadaannya, menjaga, dan menjadi penjamin keamanan atas hidup mereka. Anak-anak pun, pada waktunya, melindungi orang tua mereka. Pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa Tuhan telah mempercayakan pribadi-pribadi itu kepada kita agar kita melindunginya.  Kita semua bertanggung jawab atas hidup mereka, dan bukan sebaliknya menelantarkannya atau tidak mempedulikannya. Menjadi pelindung kehidupan orang lain adalah pilihan dan keputusan. Hari-hari ini pun kita diajak untuk melindungi kehidupan mereka dari ancaman virus Corona yang mematikan. Mereka adalah hadiah Tuhan yang harus dilindungi!

Comments are closed.
Translate »