Tuhan adalah harapan dan keselamatan kita

Tuhan adalah harapan dan keselamatan kita

Yes 49:1-6; Yoh 13:21-33

Bacaan pertama hari ini membantu kita untuk menelusuri jejak-jejak pembentukan dan panggilan kita sebagai ciptaan Tuhan yang agung dan mulia. Nabi Yesaya menghubungkan relasi dan ikatan mendalam yang ditenun oleh Tuhan yang hadir di dalam setiap pribadi. Melalui ikatan keluarga, khususnya dalam kandungan ibu, Tuhan membentuk kita menurut gambar dan rupa-Nya. Ini bukan hanya sebuah ungkapan sadar melainkan kebenaran tentang makna dan tujuan hidup kita. Kehadiran Tuhan nyata dalam setiap wajah. Dan panggilan-Nya terdengar di kedalaman jiwa. Ia menuntun dan memelihara kita dengan maksud dan tujuan yang ditetapkan oleh Allah sendiri sejak permulaan: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Ia tidak pernah melepaskan ikatan itu dan kedekatan-Nya jauh melampaui kesadaran manusiawi. Sungguh, Allah dekat dan berdiam di dalam jiwa. Seperti kata pemazmur: “Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkaulah yang telah mengeluarkan aku dari perut ibuku!” Kebaikan-Nya tak terkira dan kuasa-Nya hingga ke ujung-ujung bumi.

Kasih dan kebaikan Allah kepada manusia seperti digambarkan dalam bacaan pertama menemukan kontrasnya melalui keterlepasan jiwa untuk mengikuti keinginan sendiri dan berhamba kepada dunia. Kitab Suci banyak kali menyebut keterlepasan ini sebagai akibat dosa yang memaksa manusia untuk memisahkan ikatan natural dan ilahinya dengan Allah. Akibatnya kebebasan sejati dan keharmonisan hidup dengan Allah dirusakkan. Manusia lalu jatuh dalam ketidakbebasan dan paksaan dunia. Kitab Kejadian menggambarkan situasi ini sebagai kejatuhan Adam dan Hawa dalam dosa asal karena tertipu kekuatan jahat yang disimbolkan oleh ular. (Kej 3)

Dosa dan kematian lalu merasuki batin manusia. Gambaran yang benar tentang dirinya hilang dan Allah dipersepsikan secara salah sebagai ancaman ketidakbebasan. Makhluk yang mulanya diciptakan dengan maksud yang mulia dan dengan tujuan khusus untuk memuliakan Penciptanya, kini berbalik arah untuk melawan dasar keberadaan itu; ia menggantikan Allah dan menetapkan dirinya sebagai satu-satunya pusat. Tragedi terbesar yang dialami manusia modern terjadi ketika kuasa akal budi memaksanya untuk memerintah dunia secara otonom tanpa Allah! Babakan-babakan sejarah terus berlalu. Manusia dan generasinya pun terus bertambah. Kebudayaannya pun terus berkembang melalui ilmu dan teknologi. Namun Allah tidak pernah menganggap selesai memori keterpisahan dan tragedi paling menyakitkan itu dengan kata final. Maka Allah tak henti-hentinya mengutus para nabi, guru dan pemimpin untuk tetap menjaga dan menuntun umat-Nya. Allah ingin merangkul dan memanggil kembali manusia untuk kembali dalam pelukan-Nya. Hal ini nampak dalam pelbagai perumpamaan Yesus,

seperti kisah tentang anak hilang ( Luk 15) atau juga domba yang hilang (Mat 18; Luk 15).

Usaha Allah untuk membangun kembali relasi-Nya dengan manusia mengambil bentuknya yang paling nyata dalam diri Kristus, Putera-Nya sendiri. Inisiatif untuk menyelamatkan domba-domba-Nya yang hilang, terpisah dan tercerai-berai digambarkan oleh Yesaya sebagai satu harapan universal untuk mengumpulkan kembali bukan hanya satu kawanan tertentu, melainkan seluruh bangsa manusia: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” Di dalam nubuat ini, kita menemukan gaung pembebasan Allah, dan di dalam Yesus, kehadiran Allah yang hidup di tengah dunia menjadi nyata, dan melalui para murid, tugas perutusan untuk membawa kabar keselamatan terus menggema, melalui Injil dan pewartaan Gereja. Memori tentang Kerajaan-Nya yang hilang dari batin manusia akibat dosa ingin dikembalikan Allah, pertama-tama melalui sabda pertobatan dan pemulihaan kepercayaan manusia akan Allah (Mrk 1:15).

Keterpisahan abadi akibat dosa barangkali ada dalam memori manusia. Namun bukanlah demikian memori Sang Pencipta, sumber pengampunan dan keselamatan itu sendiri. Apa yang sekarang kita kenal dan persiapkan untuk dirayakan dalam Pekan Suci merupakan tahapan-tahapan perayaan iman keselamatan kita. Melalui Kamis Putih, Allah merayakan pemberian diri-Nya secara total kepada manusia dengan membasuh kaki murid-murid, menginstitusi perayaan Ekaristi, dan ajaran Allah tentang cinta kasih ditanamkan kembali di dalam batin mereka. Peristiwa penyangkalan Yudas dalam episode ini adalah gambaran nyata pertempuran spiritual antara kuasa Allah dan kuasa kegelapan. Kebingungan para murid tentang siapa yang bakal menjadi pengkhianat, dan kepastian dari pihak Allah bahwa kuasa jahat telah memasuki salah satu di antara mereka, adalah drama abadi pergolakan rohani antara Gereja dan dunia, antara kesetiaan, keberpihakan penuh kepada Allah dan ketidaksetiaan, perlawanan oleh dusta dan kuasa dunia.

Peristiwa Jumat Agung adalah puncak pemberian diri Allah melalui kematian Putra-Nya di atas kayu Salib. Dengan kematian-Nya, Allah di dalam diri Putera-Nya, memasuki dunia orang mati untuk membangunkan mereka dari tidur panjang kematian. Peristiwa Agung Sabtu Suci adalah puncak perayaan Paskah. Peristiwa kebangkitan dan cahaya Kristus yang mengalahkan maut menciptakan harapan dan dunia baru, memori dan janji keselamatan dipulihkan dan dipastikan. Allah secara total membaharui segala sesuatu di dalam Kristus yang bangkit. Wahyu dan pekikan kemenangan Kristus dirayakan secara meriah: “Kristus bangkit. Kristus jaya. Aleluia.” Minggu Paskah, sekali lagi, menegaskan kemenangan Allah atas maut demi pemulihan dan keselamatan jiwa-jiwa. Panggilan

akan kekudusan sekali lagi diperdengarkan sesudah kebangkitan untuk mereka yang mendapat kepercayaan untuk mewartakan kasih dan pengampunan Injil. Di dalam Roh Kudus, memori kasih Allah dijaga dan dikisahkan melalui perbuatan-perbuatan ilahi dalam diri para murid Tuhan yang bangkit. Kelahiran dan perkembangan Gereja adalah hasil dan buah karya Roh Kudus.

Di tengah ancaman dunia karena viruskorona, kita harus berani untuk menaruh harapan penuh pada Allah. Sudah banyak yang kehilangan orang-orang terkasih dan bertanya: “Di mana Allah?” Pertanyaan ini dapat menjadi penyakit atau virus baru yang bahkan jauh lebih kejam dari viruskorona, jika tidak diantisipasi, terutama ketika orang mulai merasa ditinggalkan, tidak dicintai, merasa hampa dan tanpa Allah. Dalam situasi ini doa dan harapan harus diperkuat. Komunikasi pribadi dengan Allah untuk meminta inspirasi dan kebijaksanaan Ilahi amat perlu, demikian juga, komunikasi dan relasi sosial dengan anggota keluarga dan teman-teman, harus tetap dijaga dan juga ditingkatkan. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sebesar apapun cobaan itu.

“Engkaulah harapanku, ya Tuhan, Engkaulah kepercayaanku, ya Allah.” Amen.

Comments are closed.
Translate »