Gembala Baik atau Hakim?
Rabu, 22 April 2020
Kisah Para Rasul 5:17-26
Mazmur 34
Yohanes 3:16-21

ca. 250 Masehi (Wilpert, Joseph (1857—1944) / Public domain, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Good_Shepherd_Catacomb_of_Priscilla.jpg)

Belakangan ini banyak beredar berita tentang kriminalitas yang semakin meningkat di masa wabah COVID-19. Ada yang berpendapat bahwa orang-orang yang di-PHK semakin banyak dan mereka kelaparan. Ada juga yang mempunyai teori bahwa mereka adalah para napi yang baru dibebaskan karena kekhawatiran akan merebaknya wabah virus corona di penjara-penjara.
Kisah para rasul hari ini di mana mereka dipenjarakan lalu dibebaskan secara ajaib oleh malaikat Tuhan membuat saya teringat pada nasib mereka yang berada di belakang jeruji besi. Sistem peradilan kita menjebloskan mereka ke sana karena telah melanggar hukum. Sekarang mereka harus membayar pelanggaran itu dengan dihukum dan kebebasan mereka dibatasi. Semakin besar pelanggarannya, semakin berat hukumannya. Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Itulah keadilan, hukuman yang setimpal.
Tapi apakah ini sungguh cara yang paling baik untuk mengatasi situasi ini? Nama resmi penjara-penjara kita adalah “Lembaga Pemasyarakatan”. Seyogyanya orang yang dikirim ke sini dibina, disembuhkan dari niat-niat jahatnya, supaya setelah keluar bisa kembali menjadi manusia yang bisa berfungsi dengan baik dalam masyarakat. Ini fungsi yang sering kita lupakan.
Injil hari ini mengandung kalimat terkenal dari Yohanes 3:16: “Begitu besar kasih Allah pada dunia sehingga Ia menganugerahkan AnakNya yang tunggal.” Pada ayat berikutnya: “Allah mengutusNya bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.”
Dalam Gereja awal, gambar Yesus yang paling sering ditemui adalah Sang Gembala Baik yang menggendong domba yang hilang. Tetapi perspektif ini tidak bertahan terlalu lama dan digantikan oleh Yesus Sang Hakim pada akhir zaman. Sepertinya kita hanya bisa puas akan citra Tuhan yang sudi menjatuhkan hukuman pada orang yang jahat, terutama mereka yang sudah menyakiti kita atau orang yang kita sayangi.
Sanggupkah kita menghayati kembali misi agung Tuhan yang berinkarnasi menjadi manusia? Dapatkah kita percaya kepada Tuhan yang datang bukan untuk menghakimi tetapi untuk menyelamatkan kita karena cintanya?