Semua Kebagian
Jumat, 24 April 2020
Kisah Para Rasul 5:34-32
Mazmur 27
Yohanes 6:1-15
Salah satu cara merenungkan bacaan Kitab Suci yang diajarkan oleh para Yesuit adalah dengan menggunakan kemampuan imajinasi kita. Pilihlah salah satu karakter dalam cerita itu dan bayangkan anda ada di situ. Apa yang anda lihat dan dengar? Bau yang anda cium? Perasaan di kulit anda atau emosi di hati anda?
Kalau saya membayangkan menjadi salah satu murid Yesus yang bersama dia di atas bukit, kemudian melihat ribuan orang datang mau mendengarnya, saya pasti panik. Apalagi Yesus kemudian berbalik ke saya dan bertanya, “Bagaimana mau dikasih makan orang sebanyak itu?” Jawaban saya kurang lebih akan sama seperti Filipus:
“Tidak mungkin kita yang kasih makan. Biayanya pasti mahal sekali dan kita tidak punya banyak uang.”
“Suruh mereka cari makan sendiri! Itukan bukan tanggung jawab kita. Tidak ada yang menyuruh mereka datang.”
Tapi Andreas tiba-tiba menunjuk kepada seorang anak yang membawa lima roti dan dua ikan. Ternyata itu cukup untuk memberi makan semua orang sampai sisa duabelas keranjang. Jumlah yang sederhana dan kelihatannya kecil, ternyata bisa dibagikan dan mencukupi semua orang. Tidak ada yang serakah, tidak ada yang berebut, tidak ada yang merasa dicurangi.
Berkah Tuhan memang mencukupi untuk semua manusia dan semua makhluk ciptaannya. Tapi seringkali kita yang serakah dan tidak pernah puas. Adalah sebuah skandal besar di mana sebagian orang tidak cukup makan dan sebagian lagi suka memilih-milih makanan dan membuang sisa yang tidak dimakan. Adalah sebuah kekejaman di mana sumber daya alam digerusi untuk memuaskan kebutuhan mewah sebagian orang dan penduduk asli di sekitarnya hanya kebagian alam yang rusak dan terjangkit penyakit.
Salah satu pengalaman paling berkesan saya adalah ketika ke Sumba mengunjungi Romo Yosef Dowa yang pernah melayani umat Katolik di Los Angeles. Ketika itu tepat akan ada acara pentahbisan Uskup Weetebula yang baru. Sehari sebelum pentahbisan, semua wakil umat dari paroki-paroki dan komunitas sekeuskupan datang membawa bahan-bahan makanan untuk dikonsumsi setelah misa esok harinya. Sebagian besar masyarakat Sumba masih hidup sederhana dan makanan hanya apa adanya. Tetapi besoknya, semua berbagi makanan dan ribuan orang semuanya kebagian dan kenyang.