Kesatuan Tubuh Gereja
Sabtu, 9 Mei 2020
Hari Biasa Paskah IV
Bacaan I Kis 13: 44-52
Bacaan Injil Yoh 14: 7-14
Paulus dan Barnabas menemukan keretakan dalam tubuh Gereja, yakni masih adanya kecenderungan menyombongkan diri dari jemaat asli Yahudi. Orang Yahudi tidak serta merta menerima jemaat dari luar bangsanya. Persoalan egoisme masih dimiliki oleh orang Yahudi sehingga Paulus dan Barnabas harus mengebaskan debu kaki sebagai peringatan bagi mereka. Padahal, kedua rasul itu berusaha untuk menyatukan orang-orang ke dalam tubuh Gereja. Kedua rasul hendak memperkenalkan bahwa Gereja itu satu. Gereja tidak mengkotak-kotakkan jemaat berdasarkan suku, bangsa, jabatan dan lainnya. Di dalam Gereja, semua orang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Namun, nampaknya gagasan itu susah diterima oleh orang Yahudi. Inilah yang terjadi jika dalam tubuh Gereja masih ada sikap egois yang menjadi cikal bakal-bakal tindakan meremehkan orang lain. Lalu, bagaimana dengan kita?
Kecenderungan untuk mengistimewakan diri mungkin masih ada. Misalnya, fanatik pada lingkungannya sendiri, pada kelompok kategorialnya dan sebagainya. Melalui bacaan I mari kita belajar memahami dan menyadari kembali tentang kesatuan Gereja. Di dalam Gereja ada keselamatan yang diperuntukkan bagi mereka yang percaya, sebagaimana sabda Yesus dalam Injil, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Sebab, Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku”. Kesadaran akan kesatuan inilah yang sebenarnya membawa kelanggengan pada Gereja. Kendati ada banyak tantangan, tetapi Gereja masih kokoh berdiri sampai ribuan tahun. Sebab, kesatuan yang diwujudkan oleh Gereja mengejawantah ke dalam kesatuan rasa, pikiran dan kehendak. Gereja di negara satu dengan negara lainnya memiliki keyakinan iman yang sama.
Saya belajar banyak tentang kesatuan ini melalui Gereja. Satu hati, satu rasa, satu kehendak, merupakan identitas Gereja. Misalnya, melalui pandemi covid-19, Gereja berusaha membantu tanpa memedulikan teritorial dan kepentingan egosime. Ada bantuan berpola silang donasi, ada doa syafaat untuk mereka yang menderita, dan sebagainya. Inilah tanda kesatuan Gereja; satu bersama umat, satu bersama masyarakat dan satu bersama dunia. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menghayati makna kesatuan Gereja pada dimensi hidup kita masing-masing?