JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN

JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN

Kamis, 14 Mei 2020, Pekan V Paskah

Yohanes 15:9-17

Setiap orang memiliki kerinduan untuk hidup bahagia. Karena masing-masing memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang kebahagian, maka masing-masing berbeda juga cara untuk mencapainya. Ada yang berpandangan bahwa bahagia itu jika bisa mendapatkan semua yang diinginkan. Ada juga yang beranggapan kebahagiaan itu saat bebas dari penderitaan. Kebahagian itu apa? Pemahaman tersebut penting, supaya seseorang tidak salah jalan. Kebahagian itu pertama-tama bukan suatu kondisi, tetapi suatu sikap hati. Kondisi bisa berubah-ubah seiring dengan situasi dan lingkungannya, namun sikap hati tidak akan berubah sekalipun kondisi diluar berubah-ubah. Sikap hati yang dimaksudkan adalah niat baik untuk selalu mengasihi. Kasih adalah sikap dan tindakan yang membawa kebahagiaan bagi seseorang. Itulah yang mau ditanamkan oleh Yesus kepada para murid-Nya. “Semua itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”(Yoh 15:11). Jadi kebahagiaan itu bersumber dari kasih. Jika orang saling mengasihi ia akan hidup bahagia. Sikap untuk mengasihi akan mempengaruhi seseorang untuk bisa tenang, sabar, optimis, kuat, tabah, damai dan suka-cita. Oleh karena itu kebahagiaan akan tetap tinggal dihati seseorang jika kasih tersebut dihanyati. Bagaimana kasih tersebut menjaga seseorang untuk bahagia, ia bisa belajar dari Yesus Kristus. Sekalipun Dia benci, difitnah, disiksa, dipermalukan di hadapan umum, dan disalibkan, namun hati Yesus tetap dan tidak berubah. Dia tetap mengasihi mereka, dan berdoa untuk mereka. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”(Lukas 23:34). Yesus tidak terpaksa dalam mengasihi, sebab Ia yakin bahwa kasih adalah jalan untuk mewujudkan keselamatan seluruh umat manusia. Jika kasih ada dalam diri seseorang, ia tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia tidak akan tergoda untuk balas dendam, sebaliknya ia akan terdorong untuk berdamai dan berdoa kepada mereka yang menyakiti hatinya. “…Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”(Matius 5:44). Banyak orang merasa kesulitan dalam mengasihi. Namun jika seseorang menyadari tentang kekuatan kasih, ia akan melakukannya karena dengan mengasihi, seseorang dibebaskan dari penderitaannya dan menerima damai, suka cita. Bagaimana memperoleh hati yang penuh dengan kasih? Kasih yang tulus datang dari Allah. Santo Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah kasih. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”(1Yoh 4:7-8). Tuhan Yesus sudah menujukkan jalan menuju kebahagian dan keselamatan. Oleh karena itu lebih baik, seseorang tetap setia pada kasih yang membawanya pada sukacita sejati, daripada mengikuti semua keinginan dan ambisinya yang akan berujung pada kecemasan dan kekosongan.

Paroki St. Montfort Serawai, Kalbar, ditulis oleh: Rm. Aloysius Didik Setiyawan, CM

Comments are closed.
Translate »