HIDUP DALAM KELIMPAHAN DAN BERBUAH

HIDUP DALAM KELIMPAHAN DAN BERBUAH

Rabu, 13 Mei 2020, Pekan V Paskah

Yohanes 15:1-8


Kalau seseorang sejenak merenungkan hidupnya, akan muncul pertanyaan mengapa ia bisa terlahir di dunia? Untuk apa hidup ini? Siapa yang menghendaki ia hidup? Pertanyaan filosofis tersebut berujung pada kesimpulan bahwa bukan hal kebetulan seseorang hadir di bumi. Jika bukan suatu kebetulan tentu ada maksud dan tujuannya dan ada kekuatan yang menghendakinya. Siapakah yang memberi hidup dan yang menghendaki ia hidup? “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”(Kej 1:27). Allah menghendaki dan menciptakan secara unik masing-masing orang. Mengapa Allah menciptakan manusia? “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”(Kej 1:26). Manusia diciptakan untuk mewakili-Nya, mereka diciptakan seturut gambar dan rupa Allah sendiri, hal yang sangat agung padahal manusia adalah ciptaan-Nya, namun dianugerahi sifat-sifat Ilahi yang dimiliki oleh Allah. Semua itu bertujuan agar manusia bisa menjalankan panggilannya untuk mengelola bumi demi kesejahteraan semua mahluk hidup (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan alam) dan bukan hanya untuk kepentingan segelintir manusia saja atau kelompok tertentu. Inti dari tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia bisa berbuah dalam kebaikan-kebaikan yang mengalir dari sifat-sifat Allah; Kasih, Rendah hati, Murah hati, Adil, Bijaksana, dan Damai. “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.”(Kej 1:26A). Bagaimana manusia bisa berbuah seturut kehendak Allah? Karena seseorang masih terlekat dengan daging, yang sering tidak menyadari bahwa ia adalah Citra Allah. Kemudian apa yang dilakukan justru melawan Allah atau tidak sesuai dengan kehendak Allah. Manusia yang kehilangan kendali, bisa bertindak kejam dan tidak adil terhadap sesamanya, mereka juga bisa mencemari dan merusak ekosistem alam ciptaan Tuhan (di darat, laut, sungai, hutan, gunung, laut, dll). Dengan demikian jika manusia melepaskan diri dari Allah, mereka tidak terkendali dan akan hancur bahkan mati karena perbuatan-perbuatan mereka sendiri. Oleh karena itu, Allah hadir dalam diri Kristus, Putera-Nya, untuk membawa Kembali semua orang kepada-Nya, agar menemukan hidupnya kembali. Seperti sudah dikatakan oleh Yesus dalam Injil : “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yoh 15:1 dan 4). Karunia hidup mengalir dalam diri orang-orang yang bersatu dengan pokok anggur, Yesus Kristus. Manusia tidak hanya hidup dari makanan jasmani, namun ia juga membutuhkan makanan yang menguatkan iman, harapan dan kasih. Dengan ketiga keutamaan ini, seseorang akan hidup dalam kelimpahan dan akan menghasilkan banyak buah kebaikan. Yesus telah hadir semua orang, agar semua orang dihidupi dalam kelimpahan. Bukan seperti si iblis yang ingin mencuri dan merebut jiwa manusia dari Allah, agar tersesat. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”(Yoh 10:10).
Paroki St. Montfort Serawai, Kalbar, ditulis oleh: Rm. Aloysius Didik Setiyawan, CM

Comments are closed.
Translate »