Kasih Tanpa Batas
Kamis, 13 Agustus 2020
Hari Biasa XIX
Bacaan I Yeh 12: 1-12
Bacaan Injil Mat 18:21 – 19:1
Mengampuni adalah sebuah kedewasaan sebab tidak semua orang mampu sungguh-sungguh mengampuni. Mengampuni itu soal keikhlasan dan ketulusan di tengah kehidupan dunia yang dominan mengejar keuntungan. Sebagai makhluk sosial, kita harus menyadari konsekuensi adanya interaksi dengan orang lain. Karena interaksi itulah, maka lahir potensi bibit-bibit konflik. Tidak ada manusia yang hidup tanpa konflik sosial. Yang membedakan satu dengan yang lain adalah soal kualitas konfliknya: apakah konflik besar, kecil, lokal atau komunal? Di sisi lain, cara setiap orang untuk menanggapi konflik dengan mengusahakan perdamaian, merupakan tolok ukur kualitas dewasa setiap pribadi.
Ajaran Yesus hari ini dengan mengambil tema pengampunan mengajak kita untuk berani melakukan tindakan yang radikal. Memahami ajaran pengampunan, itu mudah. Namun, melaksanakannya secara spontan dan mendarah-daging, itu yang butuh proses. Mungkin, kita terbisa membela diri “Ah, dia khan sombong, kenapa harus diampuni?” “Bagaimana aku dapat mengampuni dia, sakit yang dia berikan padaku sungguh keterlaluan” atau “Baiklah aku akan mengampuni, tetapi hanya kepada orang-orang tertentu sajalah”. Pembelaan diri semacam itu cenderung membawa orang untuk menunda berbuat pengampunan. Ada yang belum tulus dalam getar iman dan suara hatinya. Maka, perlu waktu dan tantangan agar bisa semakin terasah.
Mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali merupakan ajakan yang diwartakan Yesus. Kiranya, ajakan tersebut bukan melulu terkait tentang angka dan hitungan, melainkan tentang ketiadaan batas dari sebuah tindakan pengampunan. Yesus sendiri meneladankan dalam hidup-Nya untuk memiliki semangat bela-rasa, empati dan kasih tanpa batas. Nilai-nilai itulah yang bisa kita terapkan dalam mengusahakan pengampunan. Allah Sumber Kerahiman juga memberi kita pencerahan bahwa tidak memandang berapa banyak dan berat dosa kita, tetapi jika ada yang mau bertobat dengan keseluruhan diri dan keinginan berubah, Allah pasti akan mengampuni. Mari, kita belajar mengampuni. Belajar memperpanjang kasih kepada sesama tanpa batas, sebab kita telah dicintai-Nya tanpa batas sejak dahulu, kini dan selamanya.