Bertanggung jawab atas Pilihanku

Bertanggung jawab atas Pilihanku

Sabtu, 15 Agustus 2020

PW. St. Maksimilianus Maria Kolbe

Bacaan I          Yeh 18: 1-10, 13b, 30-32

Bacaan Injil    Mat 19: 13-15

Bacaan pertama hari ini memberi pengajaran kepada kita tentang pertanggungjawaban. Dengan melihat pengalaman Israel yang saat itu berdosa di hadapan Allah, Israel ditantang untuk tidak melemparkan akar dosa kepada golongan nenek moyang mereka. “Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu”. Allah menolak alasan kedosaan Israel yang disebabkan oleh perbuatan leluhur mereka. Allah meminta Israel untuk bertanggungjawab atas segala pilihan tindakan mereka saat itu. Apa yang dituai adalah apa yang ditanam. Mereka menanam tindakan tidak setia pada Allah, maka mereka akan menuai hukuman dari Allah.

Memang, kecenderungan kita ketika berhadapan dengan kesalahan adalah sebisa mungkin melemparkan alasan-alasan kepada orang lain. Ini lumrah sebab sebagai pribadi, kita memiliki mekanisme pertahanan diri yang menghendaki agar diri kita benar, bersih dan selamat. Biarlah orang lain menanggung hukuman dari sebuah kesalahan yang mana kita juga terlibat. Prioritas kepada diri sendiri haruslah dipertahankan. Dinamika hidup yang demikian jelas-jelas ditolak oleh Allah. Kita harus berani mempertanggungjawabkan segala pilihan, kendati ada dorongan dari luar diri kita yang menuntun kita menuju pada kedosaan atau kesalahan. Namun, penekanannya adalah bahwa kita yang menentukan pilihan sikap.

Apa yang bisa kita petik? Kedewasaan iman dan hidup. Itulah keuntungan yang kita dapatkan jika dengan kesadaran, kita mau mengakui berbagai macam kelemahan diri tanpa perlu menyeret orang lain sebagai pemicunya. Kita harus ingat salah satu sifat dosa dimana melemparkan kesalahan kepada orang lain merupakan cara untuk tetap kelihatan bersih. Dalam peristiwa Taman Eden, misalnya, kita bisa mencermati ketidakdewasaan Adam dan Hawa dimana mereka berdua sama-sama melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Adam melemparkan kesalahan kepada Hawa sedangkan Hawa kepada ular.

Kita mohon rahmat agar dalam situasi mendatang, kita mampu bersikap dewasa dengan bertanggungjawab atas segala pilihan yang kita tentukan. Kalau salah, harus rendah hati mengakui kesalahan. Dengan demikian, kita semakin belajar pula untuk rendah hati kepada Allah sehingga kita akan mudah dibentuk oleh-Nya.

Comments are closed.
Translate »