Kompetitif Vs Sinergi
Rabu, 2 September 2020
1 Korintus 3:1-9

Sejak kecil, dunia ini mengajari kita untuk berkompetisi, bukan bersinergi. Bahkan orang tua terbiasa membujuk anak-anaknya agar bisa mengalahkan orang lain. Mereka merasa bangga kalau anaknya juara di kelas, dalam kompetisi olah raga, bahkan juara dalam hidup dan bisa mengalahkan orang lain. Rasanya tak bisa lepas kita dari dunia kompetisi, bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang tetap merasa harus menang.
Umat Korintus rupanya suka berkompetisi juga. Dalam kehidupan beragama kompetisi juga tetap berlangsung. Ada pewarta bernama Apolos yang pandai berkotbah dan berfilsafat. Banyak orang Korintus Kristen tertarik padanya. Mereka menyatakan diri sebagai kelompok Apolos.
Ada pula kelompok lain yang lebih menyukai Paulus. Lalu mereka membentuk kelompok Paulus dan merendahkan lain. Selain dua kelompok itu, ada yang lebih membanggakan diri karena mereka ikut kelompoknya Petrus! Paulus mencela cara berfikir mereka yang membanggakan diri padahal lahiriah. “Kalian manusiwa duniawi dan hidup secara duniawi! Karena yang seorang berkata aku dari golongan Paulus, dan yang lain dari golongan Apolos!”
Paulus memberi alternatif cara berfikir lain, bahwa semua orang harus mampu bersinergi dalam hidup. Bersinergi adalah usaha untuk memadukan kemampuan semua orang sehingga kelompok bisa menghasilkan output yang optimal.
Dia berkata, “Aku yang menanam, Apolos yang menyiram dan Allah yang memberikan pertumbuhan.” Baik yang menyiram dan menanam adalah sama. Paulus ingin membuat umat agar bisa menjaga hidup bersama. TIdak berfikir kalah atau menang, lebih baik atau lebih buruk! Orang perlu menghargai kelebihan dan keutamaan orang lain, juga mencintai keutamaan dan kebaikan diri. Semua bisa dipakai untuk membangun komunitas menjadi lebih baik.