Liquid Modernity

Liquid Modernity

Jumat, 4 Sept 2020

Luk 5: 33-39

Istilah diatas dipopulerkan oleh seorang filsuf bernama Zygmunt Bauman, seorang filsuf modern dari London Economic School. Liquid menunjuk pada sifat suatu materi yang cair, mudah bergerak, selalu berubah, dan bisa adaptasi pada setiap ruang. Ikatan atom dalam benda yang cair tidak kuat karena itu benda cair mudah berubah. Berbeda dengan benda padat yang tidak mudah berubah.

Liquid dekat dengan sifatnya yang ringan, mobile, dan tidak konsisten. Itulah ciri khas kehidupan manusia modern. Setiap hari kita dihadapkan pada banyak pilihan hidup. Orang memiliki opsi dan digoda untuk selalu memakai hal yang baru.

Ipad baru, formula baru, barang baru, mobil baru, dan sebagainya. Itulah hal-hal yang selalu berubah dan baru. Orang digoda untuk selalu memiliki semua yang berbau baru. Menjadi fleksible dan meninggalkan yang lama, karena yang lama itu kuno dan tidak baik.

Apakah sesuatu yang kuno dan tua itu selalu jelek? tidaklah begitu. Memang bacaan Injil hari ini omong soal, kain yang baru dan anggur yang baru. Yesus bersabda kalau anggur baru harus masuk dalam kantong yang baru, kalau masuk dalam kantong yang lama, maka kantongnya akan rusak. Namun yang pastil, anggur dan alkohol yang tua lebih nikmat dari pada yang baru! Sudah pasti itu!

Hidup manusia modern selalu memberi kebaharuan. Itulah tantangan kita! Kebaharuan sering menggerus kemendalaman. Hidup menjadi tidak mengakar dan tidak mendalam karena bergerak terlalu cepat. Orang tidak mau berhenti lama untuk merenung, memaknai peristiwa dan ingin cepat pergi dari pengalaman yang kurang enak.

Yesus mengajak Petrus untuk masuk dalam tempat yang dalam, “Duc in altum.” Masuklah dalam pengalaman yang esensial. Masuklah dalam dirimu yang terdalam. Namun sering kita menolak. Takut menelusuri lorong hati yang gelap dan tidak ingin dilihat.

Comments are closed.
Translate ยป