Hidup dalam iman berarti mampu mengidentifikasi diri sebagai anak-anak Allah
HARI SABTU MINGGU BIASA KE 27
10 Oktober, 2020
Galatia 3:22-29
Luke 11:27-28
Saudara-saudari terkasih,
Sementara orang berspekulasi bahwa “seorang perempuan tanpa nama diantara orang banyak” dalam bacaan Injil hari ini sangat mungkin adalah Elizabeth yang berseru kepda Maria ibu Yesus. Dan jawaban Yesus kepada perempuan tanpa nama itu, merupakan suatu pernyataan yang berani dan tegas tentang “fiat” Maria: “Berbahagialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”
Pemeliharaan dan pemenuhan Sabda Allah, sebagaimana malaikat Gabriel sampaikan kepada Maria, dan apa yang Yesus katakan disini mengidentifikasikan tenang relasi yang sangat dalam dengan Allah – dan dengan Kristus, sang Sabda Ilahi. Memelihara Sabda Allah, lalu hidup dalam suatu kehidupan dengan Yesus.
Saudara-saudari,
Salah satu dari sekian banyak topik yang sering disampaikan oleh Paus Fransiskus adalah relasi dalam iman. Kehidupan manusia dipenuhi dengan pelbagai macam relasi, dan relasi kita dengan Tuhan telah menjadi sentral. Relasi kita dengan Tuhan disebut sebagai iman. Dan dalam relasi kita dengan Tuhan itu, disana ada dialog, suatu kesempatan dimana kita bisa mengungkapkan rasa gembira/bahagia dan sekaligus juga cinta sebagai jaminannya. Relasi yang sangat dalam dengan Allah hanya mungkin kalau kita bisa bekerjasama dengan Yesus Kristus, yang telah memberikan kita kemungkinan untuk hidup sebagai anak-anak Allah daripada menjadi budak setan.
Relasi kita dengan Tuhan berpusat pada kemanusiaan kita, dimana relasi itu terjadi karena iman yang pada dasarnya menjadi model kehidupan kita sebagai orang Kristen dan yang sekali gus menjadi identitas kita yang paling mendasar. Ketika seseorang dibaptis kedalam Kristus, sebagimana yang dikatakan Santu Paulus bahwa orang itu telah masuk ke dalam identitas yang baru. Dalam Kristus, identitas kita menjadi apa yang dikatakan relasi iman. Karena dalam Kristus, identitas itu menjadi berarti dan nyata. Allah telah mempersatukan kita dengan Kristus melalui iman dan pembaptisan.
Saudara-saudari terkasih,
Namun identitas kita tetap memiliki kebebasan untuk menyatakan siapa kita sebenarnya. Dan bagaimanapun juga kita masih terus berusaha menjunjukkan kepribadian kita dengan segala kelemahan dan keterbatasan kita. Akan tetapi dalam Kristus kita masih akan selalu tetap berbangga bahwa kita adalah milik Kristus. Dengan demikian seperti Santu Paulus katakan dalam bacaan pertama hari ini: “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang meredeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Krsisus…maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Singkatnya semua orang hidup dari imannya, yakni mereka yang mendengar Sabda Tuhan dan yang memeliharanya … dimana kehidupan anda dan saya adalah suatu kehidupan yang berdasarkan pada pengetahuan akan identitas kita sebagai anak-anak Allah. Amin.