Datang dan belajarlah daripadaNya
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Kamis, 17 Juli 2025; Injil Matius 11:28-30
Rutinitas dalam pekerjaan dan keseharian hidup Anda dan kita semua tak jarang membuat diri merasa lelah. Baik itu kelehan fisik maupun psikis/mental kerap tak terhindarkan. Segala hal yang menjadi tuntutan dan tanggung jawab dalam hidup suka atau tidak, berat atau ringan, mendesak atau tidak, semuanya mewarnai rangkaian kegiatan keseharian hidup kita. Satu hal yang selalu bisa dipertanyakan dengan keadaan ini ialah kemanakah kita meluapkan rasa lelah itu? Kepada siapakah kita mencurahkan isi hati itu? Bagaimanakah cara kita mengekspresikan kelelahan bahkan kejengkelan, kemarahan, kekecewaan, kegagalan yang menghampiri pikiran dan perasaan kita selama ini? Dunia memang menawarkan aneka pilihan untuk menjadi solusi atas setiap persoalan tersebut, tetapi apakah sungguh-sungguh bisa memberikan kelegaan batin? Inilah satu pergumulan hidup yang terus menerus mewarnai perjalanan hidup manusia dari waktu ke waktu.
Hari ini Yesus memberikan satu pengajaran iman yang mendasar melalui Sabda-Nya, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Kelelahan jasmani, psikologis, bahkan spiritual adalah kondisi yang dialami oleh manusia siapa pun mereka. Yesus sangat memahami kebutuhan mendasar setiap pribadi manusia ialah kelegaan dan ketenangan batin dalam hidupnya. Banyak orang berusaha menggunakan obat tidur dan obat penenang agar bisa rileks. Sekian banyak orang mengikuti sesi latihan meditasi dan hipnoterapi untuk merasakan ketenangan pikiran dan perasaan mereka. Namun kali ini Yesus sendiri yang memberi jaminan untuk datang kepada-Nya dan memberikan janji memberikan kelegaan. Kelegaan seperti apa yang dimaksud? Apakah kelegaan seperti orang haus lalu mendapatkan air minum, atau orang lapar yang kemudian kenyang karena sudah makan. Satu refleksi kecil bentuk kelegaan yang Tuhan Yesus janjikan ialah kelegaan karena kita dibimbing untuk menemukan dan memberik makna baru atas apa yang terjadi atau sedang kita lakukan. Kita merasakan kelegaan karena Tuhan selalu memberikan rahmat dan karunia yang kita butuhkan untuk melengkapi kita dalam perjuangan.
Yesus begitu peduli dengan kelemahan dan keterbatasan manusia. Ketika Yesus mengundang kita yang kelelahan datang pada-Nya, betapa kita disadarkan Ia begitu murah hati dan terbuka menerima kita semua. Sebuah keteladanan kerendahan hati dan kelembutan hati yang sedang Yesus tunjukkan kepada kita. “Belajarlah dari-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan.” Satu peneguhan iman yang kembali menyadarkan kita bahwa kunci ketenangan batin atau jiwa adalah meneladani kelemahlembutan dan kerendahan hati Yesus. Bukankah kesombongan, kemarahan, iri hati, penolakan merupakan sebagian dari akar yang membuat hidup kita dipenuhi beban, stres, frustasi dan sulit untuk bersyukur. Maka dari itu, marilah kita terus memohon rahmat kelembutan hati dan kerendahan hati agar kita terhindar dari sikap keras hati dan tinggi hati sepanjang hari ini. Tuhan memberkati.
(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Yusuf Dimas Caesario
Dalam Injil hari ini Yesus berdoa:
“Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena Engkau menyembunyikan semuanya itu bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau menyatakannya kepada orang kecil.” (Mat 11:25)
Sungguh luar biasa. Tuhan yang Mahabesar justru senang menyatakan rahasia-Nya kepada orang kecil, sederhana, rendah hati.
Yesus mengkritik kesombongan orang bijak dan pandai—bukan karena ilmu itu jelek, tapi karena hati mereka sering tertutup. Mereka merasa sudah tahu segalanya, tak butuh Tuhan.
Orang kecil bukan hanya orang miskin secara materi, tapi orang yang hatinya sederhana, terbuka, dan mau diajar. Tuhan tidak menolak yang pintar, tapi menolak yang sombong.
Tuhan tidak menolak yang pandai, tapi menolak yang merasa cukup tanpa Dia.
Yesus sendiri adalah gambaran terbaik kerendahan hati.
Dia berkata: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku. Tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepada-Nya Anak berkenan menyatakan-Nya.” (Mat 11:27)
Pengetahuan tentang Allah bukan hasil riset atau kepintaran, tapi anugerah. Hanya Yesus yang bisa membukakan pengenalan akan Allah kepada kita. Kita dipanggil untuk datang kepada-Nya dengan sikap anak-anak, percaya, terbuka, siap belajar.
Pernah saya bertanya kepada seorang anak kecil:
“Kamu tahu siapa Tuhan?”
Dia jawab polos: “Tuhan itu bosnya Yesus!”
Lucu memang, tapi di balik kepolosan itu ada pengakuan sederhana tentang relasi Bapa dan Anak.
Kadang anak-anak mengajarkan pada kita kesederhanaan iman yang kita lupakan.
Pertanyaan reflektif:
Apakah aku punya hati yang terbuka seperti anak kecil di hadapan Allah?
Apakah aku sombong secara rohani—merasa tidak perlu diajar Tuhan?
Bagaimana aku bisa lebih rendah hati dalam hidup sehari-hari?
Doa singkat:
Tuhan Yesus, ajarilah aku memiliki hati yang sederhana, terbuka seperti anak kecil. Jauhkanlah aku dari kesombongan yang menolak kasih dan kebenaran-Mu. Bukalah mataku untuk mengenal Bapa melalui Dikau. Jadikanlah aku murid-Mu yang rendah hati dan setia. Amin.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm