Keluarga yang beriman dan penuh tanggungjawab
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah [C]
2 Februari 2025
Lukas 2:22-40
Hari ini, kita merayakan Pesta Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah, sebuah peristiwa di Injil ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus yang baru lahir di Bait Allah di Yerusalem. Namun, mengapa Yesus harus dipersembahkan di Bait Allah?
Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Bait Allah karena Dia adalah anak sulung Maria. Menurut Hukum Musa, semua anak sulung laki-laki, baik manusia maupun hewan, harus dikuduskan bagi Tuhan (lihat Kel 13:1-2; 11-16). Kata “dikuduskan” atau dijadikan kudus (bahasa Ibrani: kados) berarti menjadi milik Tuhan. Cara yang paling umum untuk menguduskan sesuatu adalah melalui pengorbanan, yang menandakan transisi dari alam biasa ke alam ilahi.
Tentu saja, pengorbanan darah hanya diperlukan untuk hewan ternak, seperti domba atau kambing. Hewan-hewan ini disembelih dan dibakar di altar, yang menandakan peralihan hidup dari dunia ini ke alam ilahi. Namun, tidak semua hewan harus disembelih. Dalam kasus hewan pekerja, seperti keledai, dan anak sulung manusia, mereka dibawa ke Bait Allah dan dipersembahkan kepada imam. Kemudian, pemilik atau orang tua diharuskan untuk menebus anak sulung mereka dengan mempersembahkan hewan untuk dikorbankan sebagai gantinya. Untuk menebus Yesus, Yusuf dan Maria mempersembahkan sepasang burung tekukur atau merpati, kurban yang biasa dipersembahkan oleh orang miskin.
Mengapa anak sulung harus dikuduskan bagi Tuhan? Kitab Keluaran (pasal 12) menceritakan bahwa sebelum bangsa Israel meninggalkan Mesir, tulah kesepuluh yang membunuh anak-anak sulung Mesir terjadi. Anak-anak sulung Israel pun sebenarnya bisa terbunuh karena tulah ini, namun mereka diselamatkan oleh kurban Paskah, yakni anak domba tidak bercacat yang disembelih, darahnya dioleskan pada tiang-tiang pintu, dan dagingnya dipanggang dan dimakan. Dengan cara ini, anak domba Paskah dikorbankan untuk menebus anak-anak sulung Israel dari kematian.
Yang menarik adalah Lukas tidak pernah mengatakan bahwa Yesus “ditebus”. Ya, Dia memang dipersembahkan, dan Maria serta Yusuf memang membawa hewan kurban, tetapi kata “tebus” tidak ada dalam cerita ini. Tampaknya Lukas sengaja menghilangkan kata ini untuk menekankan bahwa Yesus tidak pernah ditebus. Dia telah dikuduskan untuk menjalankan perannya sebagai anak sulung yang sejati, sang Domba Paskah, yang akan dikorbankan agar kita dapat ditebus dari dosa dan maut.
Sebagai umat Kristinani, kita tidak lagi mengikuti ritual pengudusan anak sulung seperti yang diuraikan dalam Keluaran 13. Alasannya adalah karena kita semua telah dikuduskan bagi Tuhan melalui sakramen pembaptisan kita. Melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, Yesus adalah Anak Domba Paskah (1 Kor. 5:7) yang menyelamatkan kita dari dosa dan maut serta menebus kita bagi Allah. Sekarang, kita adalah milik Tuhan, dan sebagai milik Tuhan, kita adalah kudus. Inilah sebabnya mengapa Santo Paulus, dalam surat-suratnya (1 Kor 1:2; Ef 1:1; Flp 1:1), tidak menyebut anggota Gereja sebagai orang Kristen, tetapi sebagai “orang-orang kudus.” Sebagai orang-orang yang dikuduskan bagi Allah, kita dipanggil untuk hidup kudus, karena Allah itu kudus (Im 11:44).
Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:
Apakah kita sadar bahwa kita telah dikuduskan bagi Tuhan? Apakah yang dimaksud dengan kekudusan? Apakah kita hidup sebagai umat Allah yang kudus? Bagaimana kita menghidupi kehidupan yang kudus dalam rutinitas kita sehari-hari? Apakah kita menolong orang lain untuk bertumbuh dalam kekudusan? Jika ya, bagaimana caranya?
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Yusuf Dimas Caesario O.Carm
Markus 4:26-34
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan tentang Kerajaan Allah melalui dua perumpamaan: benih yang tumbuh sendiri dan biji sesawi. Ia menggambarkan bagaimana Kerajaan Allah seperti benih yang ditaburkan, yang tumbuh dengan cara yang misterius, tanpa kita sadari. Juga, seperti biji sesawi yang kecil, tetapi kemudian menjadi pohon besar tempat burung-burung bersarang.
Dua perumpamaan ini mengajarkan kita bahwa rencana Allah sering kali bekerja dalam cara yang tak terlihat dan membutuhkan kesabaran. Tuhan yang menumbuhkan, kita hanya menabur dan merawat. Namun, sering kali kita ingin segala sesuatu instan—pekerjaan yang sukses, relasi yang harmonis, doa yang langsung terkabul, iman yang langsung kokoh, dsb. Kita lupa bahwa dalam kehidupan rohani, ada proses yang harus dijalani dengan sabar, tekun, dan setia.
Dunia Serba Cepat VS Cara Allah
Di zaman sekarang, kita terbiasa dengan sesuatu yang cepat: makanan cepat saji, internet super cepat, belanja online dalam hitungan menit. Kita sering kali menerapkan pola pikir ini dalam hidup beriman. Kita ingin doa-doa segera dijawab, pertumbuhan iman langsung terasa, perubahan hidup datang seketika.
Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa Kerajaan Allah bekerja seperti benih yang tumbuh perlahan. Tuhan sering kali bekerja dalam keheningan, dalam proses yang tidak langsung terlihat hasilnya. Mungkin kita berdoa bertahun-tahun untuk seseorang, dan perubahan terjadi bukan sekarang, tapi bertahun-tahun kemudian. Mungkin kita melayani tanpa melihat dampaknya langsung, tapi Tuhan sedang bekerja dalam hati orang-orang yang kita layani.
Refleksi Pribadi
Apakah saya bersedia untuk bersabar dalam proses pertumbuhan iman saya dan orang-orang di sekitar saya?
Apakah saya percaya bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan ketika saya tidak melihat hasilnya secara langsung?
Dalam hal apa saya harus lebih tekun dan setia menabur, meskipun saya belum melihat buahnya?
Doa Penutup
Ya Tuhan, Engkau adalah Sang Penabur yang menumbuhkan benih iman dalam hati kami. Ajarilah kami untuk percaya pada proses-Mu, meskipun sering kali kami tidak melihat hasilnya secara langsung. Berilah kami kesabaran untuk bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih, serta kesetiaan ketekunan dalam melayani tanpa menuntut hasil instan. Semoga kami selalu percaya bahwa Engkau bekerja dengan cara yang lebih indah daripada yang kami bayangkan. Amin.