Browsed by
Tag: Romo Antonius Galih

Renungan, 8 November 2013

Renungan, 8 November 2013

Luke 16:1-8  

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.  2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.  3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.  4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.  5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?  6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.  7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.  8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

“Duwit Bantale Setan” (Uang bantalnya setan)

Kadang kala orang-orang tua dari Jawa mengingatkan anak-anaknya untuk berhati-hati soal uang dan mereka bertaka, “Duwit iku bantale setan” (uang itu bisa membawa pada kejahatan). Saat direnungkan, kata-kata itu memang bisa benar bahwa keinginan akan uang bisa membawa pada kejahatan dan tindakan buruk. Berapa banyak orang bertengkar dan keluarga tercerai berai karena perebutan soal harta kekayaan. Teman baik menjadi musuh karena masalah uang.

Namun di sisi lain, uang itu seharusnya “netral”, uang bisa menjadi saran orang untuk berbuat baik bagi sesama, pun bisa menjadi sarana untuk memperkaya diri sendiri tanpa peduli orang lain.

Bacaan Injil hari ini memuji bendahara yang tidak jujur karena dia berhasil memanipulasi jumlah setoran piutang sehingga ia bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Orang-orang yang berhutang pada sang tuan uang akan merasa berhutang budi pada si bendara karena ia membuat hutang mereka tidak menjadi besar! Si bendaraha bisa menyelamatkan diri setelah dipecat dari pekerjaan karena ia akan mendapat balas jasa dari orang-orang yang pernah dibantunya.

Sang bendarana ini tidak siap menjadi orang miskin sehingga dia memanipulasi uang demi keuntungan diri. Banyak orang demikian juga, tak mau dipandang miskin, gengsi, dan merasa malu sehingga mencari segala cara agar kelihatan baik dan berstatus tinggi di depan orang lain.

Ada pula orang yang tidak siap menjadi kaya, sehingga ketika memiliki uang tak bisa memanfaatkan dengan baik, juga tak mampu memakai kekayaan untuk membantu orang lain.

Bagaimana kita memakai uang dan kekayaan? Apakah semua itu menjadi sarana untuk kebaikan kita dan sesama? Ataukah kita terjerumus pada hal negative karena memakai uang dengan tidak bijak dan membuat uang menjadi bantal setan!

 

Renungan, 7 November 2013

Renungan, 7 November 2013

Luke 15:1-10 

Pada suatu hari, banyak penagih pajak dan orang-orang yang dianggap tidak baik oleh masyarakat, datang mendengar Yesus. Orang-orang Farisi dan guru-guru agama mulai mengomel. Mereka berkata, “Cih, orang ini menerima orang-orang yang tidak baik dan malah makan bersama mereka!”  Oleh sebab itu Yesus menceritakan kepada mereka perumpamaan ini,  “Andaikata seorang dari kalian mempunyai seratus ekor domba, lalu ia kehilangan seekor apakah yang akan dibuatnya? Pasti ia akan meninggalkan domba yang sembilan puluh sembilan ekor itu di padang rumput, dan pergi mencari yang hilang itu sampai dapat.  Dan kalau ia menemukan kembali domba itu, ia begitu gembira sehingga dipikulnya domba itu di bahunya,   lalu membawanya pulang. Kemudian ia memanggil kawan-kawan dan tetangga-tetangganya, dan berkata, ‘Mari kita bergembira. Dombaku yang hilang sudah kutemukan kembali!’  Nah, begitulah juga di surga ada kegembiraan yang lebih besar atas satu orang berdosa yang bertobat, daripada atas sembilan puluh sembilan orang yang sudah baik dan tidak perlu bertobat.”  “Atau andaikata seorang wanita mempunyai sepuluh uang perak, lalu kehilangan sebuah apakah yang akan dibuatnya? Ia akan menyalakan lampu dan menyapu rumahnya serta mencari di mana-mana sampai ditemukannya uang itu. Pada waktu ia menemukan uang itu, ia memanggil teman-teman serta tetangga-tetangganya, lalu berkata, ‘Aku senang sekali sudah menemukan kembali uangku yang hilang. Mari kita bergembira!’  Begitulah juga malaikat Allah gembira kalau ada satu orang jahat bertobat dari dosa-dosanya. Percayalah!”

Betapa sering orang menghitung untung dan rugi dalam relasi social dan persahabatan. Ketika kita memberi dan menyumbang banyak hal pada orang, suatu saat kita berharap bahwa kita akan mendapat banyak juga sebagai imbalannya. Sesuatu yang sangat manusiawi! Sering kali hitungan ekonomis ini mempengaruhi cara kita melihat hidup dan menginginkan Tuhan juga akan bekerja seperti apa yang kita pikirkan.

Namun ternyata cara bekerja Allah tidak demikian. Bagaimana mungkin seorang gembala akan meninggalkan 99 domba, dan mencari yang seekor saja. Tentu saja resikonya lebih besar meninggalkan yang banyak, dari pada menemukan yang seekor saja. Namun, dia tak memperhitungkan resiko itu, asal saja yang seekor tertemukan dan kembali berkumpul dengan domba yang lain.

Allah akan menggerakkan orang berdosa untuk kembali pada jalan yang benar dengan mengusik hati nuraninya, membuat orang itu merasa tidak nyaman dan damai akan perbuatan jahat yang telah dilakukan. Kalau ia mendengarkan suara lembut dalam hati, ia akan kembali seperti domba yang ditemukan kembali. Sebaliknya, bila ia tidak mendengarkan, akan semakin jauh jalannya dari Allah.

Dua perumpamaan ini mengisahkan betapa besar kasih Allah bagi orang yang dipilihnya, melebih kemampuan kita untuk menangkap cara kerja Allah. Namun yang pasti bahwa,  kalau kita, manusia, tahu memberi yang paling baik pada anak yang kita cintai, terlebih Allah akan mengalirkan kasihnya pada orang yang percaya padaNya.

 

Renungan, 6 November 2013

Renungan, 6 November 2013

Luke 14:25-27

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:  “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Bacaan hari ini membuat para murid Yesus berfikir ulang untuk mengikutiNya. Mereka berfikir bahwa tuntutan dan kata-kata Yesus keras, dan menuntut banyak pengurbanan. Sebenarnya kata “membenci bapa, ibu, istri, dan anak-anak” bisa diterjemahkan dengan kata “tidak lebih mencintai” saudara dari pada mengasihi Tuhan. Ada tuntutan dan prioritas yang paling utama dalam hidup ini. Yesus menuntut sebuah komitmen dari para pengikutnya.

Dalam kehidupan modern ini, menghidupi komitmen sangatlah mahal harganya. Budaya ini jauh dari kehidupan orang Amerika. Berapa banyak orang memilih menjadi single parent, dari pada memilih berkomitment untuk menjadi orang tua. Orang lebih memilih hidup sendiri dari pada mengikat komitment dengan orang lain. Berapa banyak orang melepaskan ikatan perkawinan karena merasa tak bisa bersatu dan memperjuangkan hidup komitmen perkawinannya.

Berkomitmen untuk setia menjadi orang Katolik juga tidak mudah. Namun Yesus tak mau pengikutnya menjadi murid yang setengah-setengah. Ia ingin agar setiap orang yang berjalan bersamaNya memiliki dasar hidup Kristen yang kuat.

Mari kita bertanya dalam diri, hal-hal apa yang menggoda kita sehingga komitmen mengikuti Yesus dan kesediaan memanggul salib menjadi luntur?

Semoga kita berani datang pada Yesus dan meminta pertolongannya karena dia bersabda, “marilah datang padaku, kalian yang berbeban berat, karena kuk yang kupasang ringan.”

Renungan, 5 November 2013

Renungan, 5 November 2013

Roma 12: 5-15

Meskipun kita semuanya banyak, namun kita merupakan satu tubuh karena kita bersatu pada Kristus. Dan kita masing-masing berhubungan satu dengan yang lain sebagai anggota-anggota dari satu tubuh.  6 Kita masing-masing mempunyai karunia-karunia pelayanan yang berlainan. Karunia-karunia itu diberikan oleh Allah kepada kita menurut rahmat-Nya. Sebab itu kita harus memakai karunia-karunia itu. Orang yang mempunyai karunia untuk mengabarkan berita dari Allah, harus mengabarkan berita dari Allah itu menurut kemampuan yang ada padanya.  7 Orang yang mempunyai karunia untuk menolong orang lain, harus sungguh-sungguh menolong orang lain. Orang yang mempunyai karunia untuk mengajar, harus sungguh-sungguh mengajar.  8 Orang yang mempunyai karunia untuk memberi semangat kepada orang lain, harus sungguh-sungguh memberi semangat kepada orang lain. Orang yang mempunyai karunia untuk memberikan kepada orang lain apa yang dipunyainya, harus melakukan itu dengan murah hati secara wajar. Orang yang mempunyai karunia untuk memimpin, harus sungguh-sungguh memimpin. Orang yang mempunyai karunia untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain, harus melakukannya dengan senang hati.  9 Kasihilah dengan ikhlas. Bencilah yang jahat, dan berpeganglah kepada apa yang baik.  10 Hendaklah Saudara-saudara saling mengasihi satu sama lain dengan mesra seperti orang-orang yang bersaudara dalam satu keluarga, dan hendaknya kalian saling mendahului memberi hormat.  11 Bekerjalah dengan rajin. Jangan malas. Bekerjalah untuk Tuhan dengan semangat dari Roh Allah.  12 Hendaklah Saudara berharap kepada Tuhan dengan gembira, sabarlah di dalam kesusahan, dan tekunlah berdoa.  13 Tolonglah mencukupi kebutuhan orang-orang Kristen lain dan sambutlah saudara-saudara seiman yang tidak Saudara kenal, dengan senang hati di dalam rumahmu.  14 Mintalah kepada Allah supaya Ia memberkati orang-orang yang kejam terhadapmu. Ya, minta Allah memberkati mereka, jangan mengutuk.  15 Turutlah bergembira dengan orang-orang yang bergembira, dan menangislah dengan mereka yang menangis.

Paulus menulis surat dengan indah dan mengisahkan bagaimana tiap orang mendapat karunia untuk membangun komunitas. Dia meyakinkan jemaat bahwa setiap orang mampu menyumbangkan hal baik untuk hidu bersama. Ada beberapa karunia yang diberikan Allah: karunia untuk bernubuat, pelayanan, menjadi pewarta, penolong orang lain, mengajar, memimpin, menunjukkan belas kasih, dan memotivasi orang lain.

Semua karunia itu menjadi berbuah ketika dipakai sebagaimana mestinya. “orang yang bisa menolong, harus menolong sungguh-sungguh!” “orang yang bisa memimpin, harus memimpin dengan sungguh.” Dan “orang yang bisa memberi, harus memberi dengan murah hati.”

Kesungguhan hati dalam membagi karunia menjadi kunci bagaimana jemaat bisa dibangun. Selain itu dia juga memberi nasehat hal-hal praktis bagaimana seseorang bisa membangun imannya: bekerjalah dengan sungguh! Sabar dalam kesusahan, tekun dalam berdoa, dan bergembira bersama mereka yang gembira, serta bersedih bersama mereka yang bersedih.

Semoga nasehat praktis Paulus bisa kita terapkan dalam hidup hari ini: berbuatlah baik dengan tulus hati, bagilah karunia yang kita punyai, dan bisa ikut prihatin dengan orang yang menderita!

 

Renungan, 4 November 2013

Renungan, 4 November 2013

Lukas 14:12-14
 

Parvum Parva Decent (Humble things befit the humble)

Kehormatan dan appresiasi menjadi salah satu budaya Romawi di zaman Yesus. Ketika seseorang menyumbang uang, pikiran, tenaga bagi masyarakat,  namanya akan ditulis dalam prasasti kota. Orang yang berjasa besar bagi sebuah wilayah, akan diangkat menjadi pelindung kota. Oleh karenanya orang berlomba untuk berbuat sesuatu agar menjadi patron (pelindung), dikenal dan menjadi donatur wilayah.

Orang Romawi mengatakan berbuatlah sesuatu yang besar, karena hal sederhana hanya berguna untuk orang kecil!

Yesus memiliki cara pandang yang lain soal nilai kehormatan dan appresiasi. Dihormati dan diapresiasi orang dicari tidak dengan melakukan hal yang besar dan luar biasa. Tidak pula dilakukan dengan mengundang orang yang terkenal dan berpengaruh, sehingga nama baik kita ikut tersanjung. Ia memberi contoh Yohanes Pembaptis sebagai Nabi yang paling besar karena, “ia semakin kecil, dan  membiarkan Yesus menjadi semakin besar.” Maria Ibu Yesus juga digambarkan sebagai orang yang dikasihi Tuhan karena, “Tuhan memperhatikan hambanya yang hina ini.”  Kata-kata Yesus yang paling jelas, “siapa ingin menjadi yang terbesar, ia harus menjadi yang terakhir.”

Renungan hari ini: apakah perbuatan baik yang kulakukan hari ini membuatku ingin mencari nama baik sendiri dan mendapat balasan ataukan dikerjakan dengan tulus hati? Sebenarnya keinginan untuk menjadi nama baik dan diapresiasi orang tidak salah, asal saja hal itu bukan menjadi tujuan utama dan semata!

Translate »