Browsed by
Tag: Romo Lusius Nimu

Agape

Agape

5th Sunday in Ordinary Time [C]

January 30, 2022

Luk 4:21-30

1 Cor 12:31 – 13:13

What is the greatest gift of the Holy Spirit for Paul? Is it speaking in tongue? Gift of understanding intricate mysteries of God? Gift of performing mighty deeds or healing? For Paul, it is love.

Paul himself says that if we have the gift of tongues to speak foreign languages or the language of angels, it will be useless without love. If we have the gift of prophecy or possess the knowledge and understanding of the mysteries of faith or the faith to move the mountains, they will be meaningless without love. If we donate everything we have, and to the point of sacrificing ourselves, but the motive is not to love, then it will be useless.

But, what makes this love is special? In Greek, several words can be translated as ‘love,’ namely ‘eros,’ ‘filia,’ and ‘agape.’ Eros is a love that unites man and woman in marriage and is open to new life. Filia is the love of friendship. People who have the same interest or vision in life tend to like and stick together as friends. Then, we have ‘Agape.’ This kind of love is radically different from Eros and Filia. While the other two are love moved by emotional power, agape primarily is the willpower and commitment. No wonder it is also called sacrificial love.

One powerful element that Paul introduces to the agape as a gift of the Holy Spirit is that it is not a static gift. It is not only something received and then given. Paul calls it ‘the most excellent way.’ The word ‘way’ points to journey, process, and growth. Agape is dynamic and growth-oriented. We do not only love, but we also grow in love.

In English, the words used to describe agape are adjectives, but these words are verbs in original Greek. Agape is not something static but action-oriented and dynamic. Agape is not simply patient, but agape is trying to be patient. Agape is not merely kind, but it is performing kindness. There is a transformation from someone who does not care about others to someone who learns to show compassion. Agape is not simply quick-tempered but is making a great effort not to be destructive in expressing anger.

What is fantastic about agape is that it is a gift of God for every Christian, and we possess the ability to learn and grow in love. We might not have the gift of healing, or the gift of prophecy, or the gift of performing miracles, but we can learn to be more patient with one another. We might not have the charism to teach or the authority to govern our communities, but we can decide not to be rude to people we do not like. We might not be the most brilliant guys in the group or someone who contributes a lot to others, but we can always be someone who patiently listens.

Agape is both the most fundamental as well as the most excellent. We are called to grow in love each time because, in the end, all things will cease, and only love remains.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Renungan 30 November 2013

Renungan 30 November 2013

Pesta St. Andreas, Rasul

Rm 10: 9-18; Mat 4:18-22

standrewDan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan.

Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Hari ini kita merayakan Pesta Santo Andreas, Rasul.  Santu Andreas adalah saudara dari Simon Petrus. Dia iuga yang membawa Simon Petrus kepada Yesus.

Ada sebuah lukisan yang sangat menarik tentang Santo Andreas. Pada lukisan itu terdapat tiga hal yang sangat inspiratif. Pertama, IKAN. Santo andreas sedang memegang ikan. Kedua, JALA. Dia mengenakan jala sebagai mantel luarnya. Ketiga, X. Dibelakangnya terdapat huruf X.

Ketiga symbol ini sebenarnya menceritakan kepada kita sejarah hidup Santo Andreas: bagaimana dia menjadi penjala ikan bersama saudaranya Simon Petrus dan kemudian diajak Yesus menjadi penjala manusia dan pada akhirnya menuruti tradisi, dia disalibkan pada salib yang berbentuk X  sebagai martir.

Cerita Santo Andreas ini mengingatkan kita bahwa kita juga dipanggil menjadi penjala manusia sebagai pewarta kabar sukacita.  Dan seperti Santo Andreas, tempat yang pertama dan utama untuk mewartakan kabar gembira adalah di rumah sendiri.  Ketika Santo Andreas pertama kali bertemu dengan Yesus, Dia menceritakannya kepada Petrus saudaranya bahwa ia menemukan Mesias.  Sebagai orang yang percaya kepada Yesus, apakah kita berani men-share-kan pengalaman iman kita kepada keluarga kita? Yesus mengundang kita untuk membagi apa yang sudah kita terima dari Dia, pertama-tama kepada orang terdekat kita. Paus Yohanes Paulus II menegasakan bahwa Iman kita diteguhan ketika kita mau membagikanya kepada orang lain.

Renungan 29 November 2013

Renungan 29 November 2013

Luk 21:29-33

Parable of the Fig TreeLalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

Yesus menggunakan gambaran pohon ara  untuk  mengajarkan para muridNya bagaimana mereka membaca tanda-tanda akan kedatangan KerajaanNya.

Tanda yang sama pun diberikan Tuhan untuk kita. Tanda ini sesungguhnya tidak hanya mengingatkan kita akan hari kedatanganNya tetapi juga  membangkitkan semangat kita untuk selalu siap dan cermat dalam melihat kedatangan KerajaanNya yang penuh dengan kekuasaan dan kemulian.

Pertanyaan refleksi buat kita; apakah kita melihat tanda-tanda Kerajaan Allah  dalam hidup keseharian kita? Seperti apa kerajaanNya? Minggu lalu kita merayakan Hari raya Kristus Raja Alam semesta.  Dalam doa prefasi dikatakan Kerajaan abadi berpedoman kebenaran dan kehidupan, kerajaan yang memancarkan  kesucian dan rahmat, kerajaan yang berlimpahkan keadilan, cinta kasih dan damai. Kalau Kerajaan Allah  bercirikan dengan nilai-nilai tersebut,  sudah sejauh mana kita berusaha untuk hidup dalam kerajaanNya?

Dia akan datang kepada setiap kita dan mengetuk hati kita masing-masing untuk menyadari kerajaaNya dan bertekun untuk mewujud nyatakan dalam hari-hari hidup kita. Yesus mengatakan, pada hari kedatanganNya segala bentuk kejahatan dan setiap hati yang menolak kerajaanNya akan dihalau Sebaliknya, bagi mereka yang selalu rindu untuk  melakukan kehendakNya akan melihat wajah Allah, dan hari–harinya akan penuh sukacita dan kegembiraan.

Maukah kita memandang wajah ALLAH dan hari-hari kita penuh dengan kegembiraan dan sukacita?  Mari bertekun untuk mengenal Kerajaan Allah dan bertekun untuk melakukannya.

 

Renungan 28 November 2013

Renungan 28 November 2013

Dan 6:12-28

Luk 21:20-28 

arch_titus_relief1Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat.

Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis.

Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut.

Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang.

Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.”

Dalam Injil hari ini, Yesus kembali mengajak kita untuk terus percaya kepadaNya.  Ketika banyak hal dalam hidup ini tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita kehendaki; ketika hidup ini terasa semakin sulit; ketika kita sudah putus asa; Yesus berkata “teguhlah dalam imanmu.”  Kita lihat iman Job dalam perjanjian lama. Ketika dia kehilangan seluruh materinya dan istrinya meminta dia untuk tidak lagi percaya pada Tuhan, dia tetap berpegang teguh pada Tuhan karena dia percaya bahwa ketika dia sampai tidak mempunyai apa-apa lagi, Tuhan akan berikan sesuatu  dalam hidupnya.

Demikianpun Daniel, ketika dia di buang dalam mulut singa, dia percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkan dia dan Tuhan menyelamatkan dia.

Dalam pengalaman hidup sehari-hari, kita menyaksikan begitu banyak orang atau bahkan kita sendiri sering kali mudah putus asa. Kita mungkin kehilangan kepercayaan pada Tuhan ketika kita menghadapi tantangan-tatangan yang sulit. Kita merasa Tuhan meninggalkan kita.

Ingatlah, semua kesulitan dan tantangan hanya ada dalam tahap-tahap hidup kita, akan tetapi hidup bersama Yesus adalah kekal, untuk selama-lamanya. Mari kita tetap teguh dalam Tuhan karena Dia datang dengan kekuatan dan  kejayaanNya untuk membebaskan kita dari belenggu hidup kita saat ini.

Renungan 27 November 2013

Renungan 27 November 2013

Luk 21:12-19

Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku.

Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelaipun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Injil hari ini berbicara tentang ketekunan. Yesus mengingatkan para muridNya akan tibanya penderitaan, penganiayaan dan percerai-beraian sebagai konsekuensi dari pilihan untuk mengikuti Yesus sebagai guru, Tuhan dan penyelamat. Kamu akan dibenci karena nama-KU, tetapi barangsiapa bertahan sampai akhir akan diselamatkan (Mat 10:22). Pangilan untuk mengikuti Yesus adalah panggilan untuk memikul salib dan mengikuti Dia setiap hari. Ini sangat dimengerti karena semakin kita mengikuti Yesus, semakin kita menjadi seperti Dia.  Dan semakin kita menyerupai Yesus, semakin dunia membenci kita.  sebagaimana Yesus dianiaya dan menderita di tangan orang-orang Yahudi, demikian juga kita pengikutNya. Tidak ada murid yang lebih dari gurunya.

Penderitaan, pencobaan dan penganiayaan tidak dapat dihindari dalam keseharian hidup kita tetapi Barang siapa bertahan sampai akhir akan diselamatkan. Penderitaan atau pencobaan seperti apa yang sedang kita alami saat ini? Penderitaan dikucilkan dari keluarga atau lingkungan karena mempraktekan iman kita? Merasa cemas ditinggalkan oleh orang-orang terdekat karena ketahuan kita Katolik? Takut memberi kesakasian akan pengalaman iman kita akan Yesus? Setiap pribadi mempunyai penderitaan dan pencobaan masing-masing dalam mengikuti Yesus. Santo Yohanes menguatkan kita barang siapa yang bertekun sampai akhir akan memperoleh hidup kekal. Berbahagialah mereka yang bertahan hingga akhir  dari penderitaan dan pencobaan.

Panggilan untuk menjadi murid adalah panggilan untuk melanjutkan, meneruskan pewartaan kabar gembira; pantang mundur dan bertekun untuk menjadi saksi akan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yang telah dilakukan oleh Yesus; dan menyelesaikan tugas perutusan yang dipercayakan kepada kita. Tuhan membutuhkan penerus; mereka yang mempunyai komitment dan mau berjalan – kendati kesulitan atau tantangan – sampai akhir. Tuhan membutuhkan kita untuk menjadi saksi. Berani dan siapkah kita untuk menerima panggilan ini?

Translate »