Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

RENUNGAN 29 MEI 2025 HARI RAYA KENAIKAN TUHAN

RENUNGAN 29 MEI 2025 HARI RAYA KENAIKAN TUHAN

Kis 1:1-11, Luk 24:46-53

Peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga menjadi babak baru dalam kehidupan nyata para murid. Yesus berpisah secara fisik dengan para murid-Nya. Para murid tak akan lagi melihat ataupun berjumpa secara fisik dengan Yesus. Namun, inilah menjadi tanda awal dari kehidupan baru untuk mewartakan kehidupan dan kebangkitan Yesus. Misi gereja dimulai melalui para murid. Petrus menjadi kepala di antara murid-murid lainnya.

Pesan Yesus sangat jelas disampaikan kepada para murid.  Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Pesan inilah yang harus diwartakan kepada semua orang di segala penjuru dunia. Titik berangkat dari pewartaan kabar baik adalah di Yerusalem. Yerusalem adalah pusat pemerintahan sipil dan pemimpin agama. Para pemimpin sipil dan pemimpin agama perlu mendapatkan pencerahan tentang penderitaan, kebangkitan, pertobatan dan pengampunan dosa.

Penolakan terhadap Yesus masih terasa kental dan dialami terus menerus oleh para murid. Cemas, gelisah, takut dan putus asa mungkin sangat kuat dirasakan oleh para murid. Untuk itulah Yesus memberikan peneguhan dan kekuatan bagi mereka.

Para murid tidak merasa sendirian karena ditinggal oleh Yesus kembali kepada Bapa. Yesus akan menggenapi janji yang diberikan oleh Bapa yaitu Penghibur dan Penolong bagi para murid. Inilah peneguhan bagi para murid dalam perutusan sejak saat Yesus naik ke surga, sampai saat ini dan di masa yang akan datang. Penghibur dan Penolong adalah Roh yang menyertai setiap perjalanan karya pewartaan. Di manapun para murid memberitakan Yesus, mereka selalu ada dalam bimbingan dan tuntunan Roh Penghibur dan Penolong. Sehingga tidak ada sesuatupun yang dapat menggoyahkan karya pewartaan di manapun bereka berada.

Pada akhirnya Yesus harus sungguh-sungguh meninggalkan para murid secara fisik. Sebelum terangkat ke surga, Yesus mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Berkat yang dirasakan dan dialami secara langsung oleh para murid. Berkat itu menjadi penanda bagi para murid bahwa Yesus selalu ada pada mereka dan gerejaNya. Setiap karya pewartaan senantiasa mendapatkan berkat dari Yesus. Kiranya bukan hanya para murid yang merindukan berkat dari Tuhan Yesus. Setiap orang Kristiani pun merindukan berkat-berkat dari Tuhan bagi kehidupan pribadi, pekerjaan dan keluarganya. Berkat-berkat Tuhan itulah yang memberikan kekuatan dan perlindungan dari segala musuh yang jahat.

Berkat Tuhan bagi para murid dan orang Kristiani selalu memberikan rasa sukacita dan damai sejahtera di hati. Yesus naik ke Surga membagikan berkat-Nya, agar para murid berani menjadi saksi-saksi cinta kasih. Saksi kebangkita mulia. Saksi kehidupan Tuhan selamanya. Kitapun di zaman ini turut diminta menjadi saksi kebangkitan dan kehidupa. Berkat yang kita terima dari Tuhan untuk dibagikan kepada sesame saudara dana mengalahkan kuasa jahat. Semoga Injil terus diwartakan di manapun kita berada. (rm. medyanto, o.carm)    

Ketika Diam Menjadi Jalan Terbuka

Ketika Diam Menjadi Jalan Terbuka

Rm Agung Wahyudianto O.Carm
(Yohanes 16:12–15 | 28 Mei )

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.” (Yohanes 16:12)

Di banyak komunitas tradisional di Peru, terutama di pegunungan Andes, orang-orang tua tidak terburu-buru menjelaskan sesuatu. Mereka tidak selalu menjawab pertanyaan dengan kata-kata. Sebaliknya, mereka sering duduk bersama dalam diam, membiarkan yang muda mengamati, mengalami, dan pada waktunya—memahami. Tradisi ini dikenal sebagai bagian dari sabiduría del silencio: kebijaksanaan yang lahir bukan dari penjelasan, melainkan dari kehadiran dan kesabaran.

Yesus, dalam Injil hari ini, berbicara seperti seorang guru yang memahami irama batin murid-murid-Nya. Ia tidak memaksakan semua kebenaran sekaligus, karena tahu bahwa beberapa hal tidak bisa dipahami hanya dengan mendengar, tetapi harus dialami dan diresapkan. Ia tahu bahwa kata-kata yang terlalu cepat bisa membingungkan, sementara keheningan yang tepat bisa membuka ruang bagi pemahaman yang sejati.

Roh Kebenaran dijanjikan bukan untuk membawa ajaran baru dari luar, tetapi untuk membimbing ke dalam kedalaman yang sudah ditanamkan. Ia tidak memaksakan terang sekaligus, tapi menuntun perlahan—seperti matahari yang naik di balik gunung, mengungkapkan lanskap satu per satu. Segala sesuatu yang dimiliki Bapa, dimiliki Anak; dan yang dimiliki Anak, dinyatakan oleh Roh. Tidak ada yang terpisah, tidak ada yang saling menunggu giliran. Semua saling menyatakan, dalam irama yang tak tergesa.

Kita hidup di zaman yang mengandalkan kecepatan, kepastian, dan penjelasan instan. Namun, hidup rohani berjalan dengan cara lain. Terkadang, justru dalam ketidaktahuan, dalam diam yang tak nyaman, kebenaran sedang mendekat—bukan untuk dipegang, tetapi untuk dihidupi. Dalam keheningan, kita belajar mendengar bukan dengan telinga, tapi dengan kesadaran yang dalam.

Dalam terang nilai sabiduría del silencio, hari ini kita diajak untuk tidak buru-buru memahami segalanya, tidak menuntut Tuhan menjelaskan semuanya sekaligus. Mungkin ada hal-hal dalam hidup kita yang belum bisa dijawab. Tapi bukan berarti Tuhan jauh. Bisa jadi, justru dalam keheningan itulah Roh sedang bekerja, perlahan menyingkapkan kebenaran yang hanya bisa diterima oleh hati yang terbuka.

Mari kita tidak takut berjalan dalam diam. Sebab dalam diam yang diterima dengan tenang, ada jalan menuju terang yang tak bisa dibantah.

Minggu Paskah ke VIC

Minggu Paskah ke VIC


(Kis. 15:1-2.22-29; Why. 21:10-14.22-25; Yoh. 14: 23-29)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan perintah untuk saling mengasihi. Setiap mereka yang mengasihi itu berarti ikut ambil bagian dalam perutusan sebagai anak-anak Allah. Mengasihi sama dengan membawa berkat. Kali ini Yesus menghibur kita dengan kata-kata yang sangat indah, sungguh menegguhkan dan menyejukkan hati.
Dia menjanjikan seorang Penolong yang akan menghibur kita. Yesus mengawali janjiNya dengan berkata, “Barang siapa mengasihi Aku, akan menepati SabdaKu… Barang siapa tidak mengasihi Aku, tidak menuruti firmanKu”. Janji Yesus ini dia berikan agar kepergianNya tidak menimbulkan rasa kehilangan melainkan kedamaian.
Penolong itu akan menyertai kita, akan mengajarkan segala sesuatu dan menuntun kita pada seluruh kebenaran. Sang Penolong yang dijanjikan oleh Yesus akan menyingkapkan seluruh rahasia Bapa dan memberikan kesaksian tentang diri-Nya. Cara Penolong menuntun kita tidak lagi dengan menggunakan kata-kata verbal, tetapi dengan berdiam di dalam kita. Dalam hati kitalah Penolong berdiam, menggemakan bisikan “jangan”, bahkah akan mengusik terus-menerus batin kita jika kita hendak menyimpang dari Firman Allah. Penolong itu akan menggemakan kata “ayo, lakukan!” jika kita mau melaksanakan Firman atau berbuat baik. Penolong itu akan mendorong kita untuk mengatakan “Ya” jika memang “ya” dan mengatakan “tidak” jika memang kenyataannya “tidak”. Sebab selebihnya berasal dari si jahat. Dia juga mendorong kita untuk bersikap jujur terhadap siapa pun, baik terhadap Tuhan, sesama maupun diri sendiri. Dia benar-benar menjadi pembela kita untuk tidak terjerumus oleh roh jahat ke dalam usaha penyesatannya. Namun gemanya kerap kali nyaris tak terdengar oleh hiruk pikuk dunia batin kita yang kacau. Akan tetapi tidak jarang pula Ia begitu kuat menggoncang-goncang hati kita, kala kita bersikeras untuk melakukan sesuatu kejahatan, terutama jika kejahatan itu baru pertama kali kita lakukan. Jantung kita akan berdebar lebih keras dan berdetak lebih cepat dari biasanya. Kita akan diliputi keragu-raguan
besar, tangan kita gemetar dan mata kita menjadi merah, keringat dingin mengucuri punggung dan seluruh badan kita.
Saat-saat kita selesai berbuat baik, kita tidak akan dapat menyangkal bahwa Penolong menyusupkan kedamaian dalam batin kita dan kekuatan yang tak terlukiskan dalam diri kita untuk berbuat baik lebih banyak lagi. Intuisi kita bergema kuat bahwa kedamaian dan kekuatan itu bukan berasal dari diri kita sendiri. Kalau toh suatu kali kita mengalami kekeringan, mengalami bahwa hidup kita terasa hampa, segala yang kita lakukan seperti tidak berarti lagi, kita akan tetap merasakan bahwa di dasar hati kita ada sesuatu yang tertingal dan mengendap yang menjadi semacam fondasi yang menguatkan kita untuk tetap percaya kepada Allah yang tidak sepenuhnya kita mengerti misteri-Nya. Penolong akan membuat mata hati kita melihat bahwa dunia ini begitu indah jika dilihat sebagai lahan yang luas untuk dapat berkiprah dalam banyak kebajikan, menolong sebanyak mungkin orang, sebagaimana peranan Penolong itu sendiri. Kita akan selalu diusik oleh pertanyaan ini: “Apa yang dapat kubuat untuk membahagiakan sesamaku sebagai baktiku pada Allah?”. Kita selalu didorong untuk ingin mempersembahkan yang terbaik bagi orang lain. Kita diusik untuk terus-menerus menjadi pewarna yang indah bagi dunia ini, sehingga kehadiran kita sungguh membawa sukacita, kegembiraan dan sumber kedamaian bagi sesama yang kita jumpai. Penolong menyadarkan kita bahwa Allah menciptakan kita bukan sekedar untuk ada, memenuhi bumi ini, tetapi untuk ada dan berguna bagi sebanyak mungkin orang. Betapa indahnya Penolong itu. Orang tidak mungkin akan sesat bila mendengarkan suara-Nya. Oleh karena itu agar suara-Nya selalu terdengar di hati kita, kita bisa memelihara-Nya dengan doa, membaca Kitab Suci, dengan tak henti-hentinya berpikir positif, berbicara dan berbuat baik. Semakin kita menyediakan diri untuk hal-hal positif ini, maka semakin terang dan jernih suara Penolong dalam hati kita. Sebaliknya gema Penolong akan makin hilang, redup, tak terdengar jika kita terus-terusan menentang-Nya, menyingkirkan kehadiran-Nya dengan pikiran, perkataan, niat dan perbuatan yang jahat. Jangan lupa Yesus menegaskan bahwa dosa melawan Penolong secara terus-menerus adalah dosa yang tidak akan diampuni, sebab Penolong itu adalah Roh Kudus (Mat 12:31). Mengapa demikian? Karena Penolong dimiliki oleh setiap orang
yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Jadi Dialah yang menjadi pusat penggerak hidup kita. Dialah yang memberi kita kemampuan dan kejujuran untuk menangkap wahyu dari dalam hati kita masing-masing. Yang diperlukan sekarang adalah kehendak untuk mau dibimbing oleh gema suara hatinya, yaitu gema Roh Kudus itu sendiri. Semoga kita masing-masing menyediakan tempat yang terbaik dalam hati kita untuk Penolong berkarya membaharui terus hati dan pikiran kita, melalui ketekunan berdoa, membaca dan merenungkan KS, melakukan perbuatan-perbuatan baik kepada sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

PERSAHABATAN ADALAH VITAMIN JIWA

PERSAHABATAN ADALAH VITAMIN JIWA

Rm Ignatius Adam Suncoko

RENUNGAN LUBUK HATI
Jumat 23 Mei 2025
Hari Biasa Pekan Paskah V
Kis 15:22-31, Yoh 15:12-17

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku tidak menyebut kamu hamba. Aku menyebut kamu sahabat”. Setelah Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai sebuah tindakan persahabatan yang sangat kuat. Yesus menunjukkan kepada para muridNya bagaimana makna sabahat yang begitu mendalam. Yesus membasuh kaki mereka hanyalah sebagian dari ekspresi persahabatannya, masih ada tindakan yang lebih kuat untuk mereka pada hari berikutnya, yakni Yesus akan menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatNya.

Yesus tidak membasuh kaki kita, tetapi Dia telah memberikan nyawa-Nya untuk kita semua. Kita semua dapat berkata bersama Santo Paulus: “Aku hidup oleh iman dalam Anak Allah yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Yesus telah menjadi sahabat kita masing-masing dengan cara yang luar biasa ini. Seperti yang Yesus katakan dalam bacaan Injil: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”. Yesus telah memberi kepada kita masing-masing karunia persahabatan-Nya. Yesus menjadi sahabat seperjalanan hidup kita dalam situasi dan kondisi apapun! Semoga pengalaman persahabatan dengan Yesus, meneguhkan dan menguatkan persabahatan kita dengan siapa saja yang menjadi bagian hidup kita. Mari kita mengasihi sahabat-sahabat kita, seperti Yesus telah mengasihi kita sebagai sahabatNya. Persahabatan adalah obat untuk hati yang terluka dan vitamin jiwa yang penuh harapan. Tuhan memberkati.

Pergi ke stasi lewat rawa-rawa
Jangan lupa bekal roti canai
Persahabatan adalah vitamin jiwa
Jalani, nikmati dan maknai.

TINGGAL DALAM KRISTUS, BERBUAH DALAM HIDUP

TINGGAL DALAM KRISTUS, BERBUAH DALAM HIDUP

RENUNGAN INJIL – Yohanes 15:1–8
“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.”

Rm Yusuf Dimas Caesario

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menggambarkan relasi kita dengan-Nya melalui citra pokok anggur dan ranting. Sebuah gambaran yang sangat mendalam: Yesus adalah pokok anggur, kita adalah ranting-rantingnya, dan Allah Bapa adalah sang pengelola kebun. Relasi ini bukan hanya indah secara simbolis, tetapi juga sangat konkret dalam kehidupan rohani kita.

Yesus menegaskan, “Tinggallah di dalam Aku,” sebab di luar Dia, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan realitas hidup sehari-hari. Berapa banyak dari kita yang pernah mencoba mengandalkan diri sendiri, berjalan tanpa doa, tanpa firman, dan akhirnya merasa kering, kosong, kehilangan arah? Seperti ranting yang lepas dari pokok anggur, kita cepat sekali kehilangan daya hidup bila tidak terhubung dengan Sang Sumber.


Bayangkan sebuah handphone canggih, lengkap dengan semua fitur. Tapi jika tidak terhubung dengan sumber daya—alias charger—maka secanggih apa pun, ia hanya menjadi benda mati. Demikian juga kita. Tanpa keterhubungan dengan Kristus, kita bisa sibuk dalam banyak kegiatan, tetapi tidak menghasilkan buah rohani yang bertahan.

Dalam bagian lain, Yesus juga berkata bahwa ranting yang tidak berbuah akan dipotong. Sekilas terdengar keras. Namun justru di sanalah kasih Allah bekerja: pemangkasan itu adalah bagian dari pemurnian. Ada saat dalam hidup kita ketika Tuhan memangkas hal-hal yang tidak sehat: kesombongan, keterikatan yang salah, rutinitas kosong. Tidak nyaman, tetapi dari sanalah pertumbuhan baru bisa muncul.

Refleksi untuk kita:

  • Apakah saya sungguh hidup dari dan dalam Kristus?
  • Apakah saya membiarkan sabda Tuhan tinggal dalam hati saya dan membentuk tindakan saya?
  • Apa saja “ranting-ranting” dalam hidup saya yang mungkin perlu dipangkas demi pertumbuhan yang lebih baik?

Doa:
Tuhan Yesus, Engkaulah pokok anggur yang sejati. Aku ingin tinggal di dalam Engkau, hidup dari kekuatan-Mu, dan menghasilkan buah bagi kemuliaan nama-Mu. Ajarilah aku untuk menerima proses pemurnian dengan rendah hati, dan jadikanlah hidupku saluran kasih dan damai bagi sesama. Amin.

Translate »