Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

RENUNGAN 3 APRIL 2025

RENUNGAN 3 APRIL 2025

Kel. 32:7-14; Yoh 5:31-47

Saudara dan saudariku terkasih. Seorang saksi dibutuhkan untuk menyampaikan suatu peristiwa dari yang dialami dan dilihat sendiri. Kesaksiannya sangat dibutuhkan agar banyak pihak mengetahui kebenaran dari peristiwa itu. Kebenara otentik yang dicari dari peristiwa tersebut.     

Ada banyak kesaksian namun kerapkali kebenaran kurang terungkap otentik, karena saksi menambahkan persepsi ataupun pandangan pribadi atas peristiwa. Penerima kesaksian menjadi kurang percaya atas kesaksiannya. Hendaknya dibedakan antara pandangan pribadi dan peristiwa otentik yang terjadi.

Demikian pula dalam Injil hari ini. Yesus sudah berulangkali memberikan kesaksian tentang Allah Bapa lewat kata-kata dan perbuatan-Nya kepada orang banyak. Orang banyak yang mendengar kata kata dan melihat perbuatan-Nya tidak semua percaya. Tak jarang mereka berbuat jahat menjatuhkan Yesus. Mereka mengirim utusan kepada Yohanes tetapi tidak percaya kepada Yohanes. Isi kitab suci juga telah memberikan kesaksian tentang Yesus, namun mereka tidak mau percaya kepada-Nya untuk memperoleh hidup kekal. Lantas kesaksian siapa lagi yang harus mereka dengarkan?

Yesus adalah saksi kebenaran yang menyampaikan kebenaran itu sendiri. Kebenaran Allah dan hidup kekal yang akan diterima bagi setiap orang yang percaya. Kesaksian Yesus sangat otentik. Yesus tidak membutuhkan kesaksian manusia yang kerapkali mudah berubah. Pada saat Yesus dibaptis Yohanes Pembaptis dan peristiwa transfigurasi di gunung Tabor sungguh nyata kesaksian yang dialaminya. “Inilah Putera-Ku yang terkasih, kepada-Nya Aku berkenan dan dengarkanlah Dia.”   

Allah Bapa berkenan kepada Yesus Putera-Nya dan kita manusia diminta percaya kepada Yesus. Seberapa banyak kita percaya pada kesaksian Yesus? Percaya pada Injil kabar gembira dari Allah? Perbuatan dan kata-kata Yesus berasal dari Allah.

Seluruh hidup kita, pengalaman iman dan pengalaman rohani kita merupakan kesaksian hidup bagi banyak orang. Kita memperkenalkan kebaikan dan kemurahaan hati Allah Bapa dan Putera-Nya melalui cara hidup yang baik dan benar. Semoga di masa Prapaskah ini kata-kata dan perbuatan kita berubah menjadi lebih baik. Kita berani melawan arus yang bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus. Tuhan memberkati hidup dan karya usaha saudara-saudari. 

(rm. Medyanto,o.carm)

Renungan Prapaskah: Bapa Terus Bekerja, Maka Aku pun Bekerja

Renungan Prapaskah: Bapa Terus Bekerja, Maka Aku pun Bekerja

Rm Agung Wahyudianto O.Carm


(Refleksi berdasarkan Yohanes 5:17–30)

Di Peru, ada satu ciri yang hampir selalu melekat pada masyarakatnya, terutama di kalangan rakyat sederhana: semangat kerja keras yang nyaris tak pernah padam. Entah itu pedagang kecil di pasar, petani di pegunungan, pengemudi combi yang bolak-balik tanpa jeda, atau ibu rumah tangga yang merawat keluarga sambil menjual makanan dari dapur rumahnya—mereka semua adalah contoh “trabajadores constantes”, orang-orang yang terus bekerja, bukan karena kemewahan yang dicari, tetapi karena hidup itu sendiri adalah panggilan untuk tetap berjalan.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja.” Kalimat ini begitu kuat dalam masa Prapaskah, ketika kita diajak untuk masuk lebih dalam ke dalam kehidupan rohani, bukan sebagai pelarian dari dunia, melainkan sebagai partisipasi dalam karya kasih yang terus berlangsung. Allah tidak pernah berhenti bekerja. Ia hadir dan berkarya dalam diam, dalam yang tersembunyi, dalam setiap proses pertobatan, penyembuhan, dan pembaruan.

Yesus, yang sepenuhnya selaras dengan kehendak Bapa, tidak datang dengan kehebohan. Ia hadir dalam kesederhanaan dan kesetiaan. Pekerjaan-Nya bukan tentang membuktikan kuasa, tetapi tentang menghadirkan kasih yang menyentuh hidup manusia satu per satu. Dalam masa Prapaskah, kita pun diajak bukan hanya untuk berhenti dari dosa, tetapi juga masuk ke dalam pekerjaan kasih yang terus dikerjakan oleh Bapa—dalam hidup kita, dan melalui hidup kita.

Yesus tidak bekerja demi ambisi pribadi. Ia bekerja karena Ia melihat Bapa-Nya terus bekerja. Itulah panggilan kita juga: berpuasa, berdoa, dan berbagi bukan sekadar sebagai kewajiban religius, tetapi sebagai bentuk keterlibatan dalam karya Bapa yang sedang menyentuh dunia dengan belas kasih. Kita tidak bekerja demi dilihat, tetapi karena kita sadar, Tuhan sudah lebih dulu bekerja di dalam diri kita.

Hari ini, mari kita bertanya: Apakah kita sudah selaras dengan pekerjaan Bapa? Apakah kita bekerja dengan kesadaran bahwa hidup kita adalah bagian dari gerakan kasih yang lebih besar? Dalam kesibukan kita sehari-hari, kita bisa ikut serta dalam pekerjaan Allah: ketika kita mengampuni, ketika kita mendengarkan dengan sabar, ketika kita memilih diam daripada menghakimi.

Bapa bekerja sampai sekarang—di tengah luka kita, dalam keheningan doa, dalam kekuatan untuk bertahan, dan dalam harapan yang tidak padam. Maka, kita pun memilih untuk tetap bekerja: menghadirkan kasih dalam hal-hal kecil, dalam kehidupan yang tampak biasa, tetapi sebenarnya sangat mendalam.

Sabda Allah Penuh Daya

Sabda Allah Penuh Daya

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Yoh 5:1-3a-5-16

Selasa, 1 April 2025

Air memiliki makna ganda. Di satu sisi, kekurangan air atau kelebihan  air [banjir] mengancam kehidupan. Di sisi yang lain, air merupakan sumber kehidupan. Tanpa air, kehidupan akan mengalami kesulitan. Air yang menghidupkan serta menumbuhkan makhluk-makhluk fisik dan alam diyakini pula sebagai lambang daya kekuatan yang menumbuhkan hidup sejati dan kekal, sebagai lambang Roh yang menghidupkan dan menyucikan, sebagai lambang Allah sendiri yang adalah sumber air hidup bagi umat-Nya [ bdk.Yeh. 47:1-9,12]. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah mencurahkan rahmat kepada ciptaan-Nya melalui air sebagai sarananya.

Dalam warta hari ini, Yohanes mewartakan satu tanda kuasa Allah bukan melalui air, melainkan melalui Yesus, Putra-Nya [Yoh. 5:1-9]. Ketika Yesus mendekati Bait Allah, Dia berhenti di kolam Bethesda yang berdekatan dengan Bait Allah.  di dekat kolam tersebut ada sejumlah besar orang sakit, orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh yang diletakkan di serambi kolam [Yoh. 5:3]. Kolam tersebut dianggap memiliki daya penyembuhan, bahkan sejak zaman Kanaan. Beberapa manuskrip menggambarkan seorang malaikat yang menggerakkan airnya pada waktu-waktu tertentu, menghasilkan penyembuhan bagi orang pertama yang masuk ke dalam air yang digoncangkan itu [Yoh. 5:4].

38 tahun bukanlah kurun waktu yang pendek. Karenanya jika dikatakan selama 38 tahun menderita sakit dapat dibayangkan betapa beratnya beban hidup tersebut. Hati dan pandangan Yesus tertuju kepada orang yang telah lama menanggung beban penderitaan ini. kepada orang tersebut Yesus bertanya, ”Maukah engkau sembuh?” [Yoh. 5:6]. Permohonan kesembuhan bukan dimulai oleh si sakit, melainkan Yesuslah yang berinisiatif. Yesus melihat orang sakit itu, dan pasti tahu keadaannya, dan mengerti kerinduannya akan kesembuhan. Akan tetapi Ia mengajukan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu diajukan. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa dari pihak Allah keselamatan adalah sebuah tawaran. Karenanya dengan mengajukan pertanyaan itu, Yesus hendak memunculkan tanggapan dari pihak si sakit. Namun orang sakit itu tampak mengelak dari pertanyaan Yesus. ia justru menyampaikan keluhan: “Tuan, aku tidak punya siapa-siapa untuk menurunkan aku ke dalam kolam itu ketika  airnya mulai goncang; dan sementara aku menuju kolam itu,orang lain sudah turun mendahului aku” [Yoh. 5:7].  Yesus menanggapi keluhan orang sakit itu dengan menyuruhnya bangun, mengangkat tilamnya, dan berjalan. Orang itu mendengarkan dan mematuhi perintah Yesus. Dampaknya pada saat itu juga sembuhlah orang itu, lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan [Yoh. 5:9]. Kenyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa sabda Tuhan penuh daya. Hanya dengan bersabda, bahkan tanpa perantara seperti misalnya malaikat, maka apa yang disabdakan sungguh terjadi. Percaya akan daya sabda Tuhan yang penuh daya sungguh tidak mudah. Semoga iman orang yang telah menderita 38 tahun itu menginspirasi kita dalam belajar percaya akan kekuatan sabda Tuhan.

Senin IV Pekan Prapaskah

Senin IV Pekan Prapaskah

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm


31 Maret 2025
Yes 65: 17-21 + Mzm 30 + Yoh 4: 43-54

Lectio
Pada waktu itu pergilah Yesus ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi, bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Maka setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu. Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur.
Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Maka kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.” Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.” Lalu ia pun percaya, ia dan seluruh keluarganya. Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

Meditatio
Menarik Injil hari ini, terlebih kalau kita mau membandingkan dengan Injil lainya. Pertama, perbedaan peminta: seorang perwira atau pegawai istana, kedua perbedaan yang sakit: apakah yang sakit itu seorang hamba atau seorang anak kecil, ketiga, ucapan ketidak-layakan perwira menerima Yesus, dan keempat ucapan perwira katakan sepatah kata saja kepada Yesus. Namun, waktu selesai mendengar kata-kata Yesus ‘pergilah, anakmu hidup!’, pegawai istana satu ini lalu pergi, sebab dia percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya. Hebat sungguh, iman sang pegawai istana satu ini.
Kepercayaan mendatangkan rahmat dan berkat. Apakah pegawai istana ini telah membaca dan terinspirasi oleh kitab Yesaya (65: 17-21), tentang sorak-sorai dan sukacita, dan tidak adanya bayi yang berusia hanya beberapa waktu saja? Namun tak dapat disangkal, dia benar-benar percaya akan Yesus Kristus. Sakit sang anak adalah sekedar tanda peringatan, kalau sang pegawai tadi harus percaya kepada Tuhan Allah sang Empunya kehidupan ini. Apakah kita harus diberi tanda agar selalu tumbuh dan berkembang dalam iman dan pengharapan kepadaNya?

Oratio
Yesus Kristus, percaya kepadaMu mendatangkan rahmat dan berkat. Semoga kami semakin hari semakin percaya kepadaMu, sang Empunya kehidupan ini. Amin.

Contemplatio
‘Pergilah, anakmu hidup!’.

Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Hukum Tuhan, Jalan Menuju Kasih

Hukum Tuhan, Jalan Menuju Kasih

Rm Yusuf Dimas Caesario

Matius 5:17-19

Saudara-saudariku yang terkasih dalam Kristus,

Pernahkah kita merasa bahwa hukum atau aturan itu membatasi kebebasan kita? Misalnya, peraturan lalu lintas yang melarang kita menerobos lampu merah. Kadang kita merasa terganggu, apalagi jika sedang buru-buru. Namun, kita tahu bahwa aturan itu dibuat bukan untuk menyusahkan kita, melainkan untuk melindungi kita dari bahaya. Demikian juga dengan hukum Tuhan. Ia tidak datang untuk membebani kita, tetapi untuk menuntun kita kepada hidup yang penuh kasih dan keselamatan.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata:

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat 5:17).

Yesus ingin menegaskan bahwa hukum Tuhan bukanlah sekadar kumpulan aturan kaku, melainkan sesuatu yang harus dihidupi dengan kasih. Orang-orang Farisi pada zaman-Nya sangat taat menjalankan hukum, tetapi sering kali mereka kehilangan makna sejati dari hukum itu. Mereka lebih sibuk mencari kesalahan orang lain daripada menghidupi kasih yang menjadi inti dari hukum itu sendiri.

Sebagai orang Katolik, kita sering menghadapi dilema yang sama. Kita tahu bahwa mengikuti perintah Tuhan itu penting, tetapi apakah kita melakukannya dengan cinta atau hanya karena kewajiban? Misalnya:

– Kita beribadah ke gereja setiap minggu, tetapi apakah kita benar-benar merasakan kehadiran Tuhan di dalamnya?

– Kita rajin berdoa, tetapi apakah kita juga rajin mengasihi sesama?

– Kita mengikuti aturan gereja, tetapi apakah kita juga membangun relasi yang akrab dengan Tuhan?

Yesus mengajarkan bahwa siapa pun yang setia pada hukum Tuhan akan disebut besar dalam Kerajaan Surga. Namun, kesetiaan itu bukan hanya soal mengikuti aturan, tetapi juga memahami maksud Tuhan di balik hukum-Nya. Seperti seorang anak yang tumbuh dalam cinta orang tuanya, kita dipanggil untuk menaati hukum Tuhan dengan hati yang penuh kasih, bukan dengan ketakutan atau keterpaksaan.

Poin-Poin Refleksi:

– Apakah saya menaati perintah Tuhan hanya sebagai kewajiban, atau karena saya sungguh mencintai-Nya?

– Bagaimana saya menghidupi semangat kasih di balik hukum Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?

– Apakah saya lebih sering menghakimi orang lain berdasarkan aturan, ataukah saya berusaha memahami dan mengasihi mereka?

– Dalam hal apa saya perlu lebih setia dalam menjalankan kehendak Tuhan?

– Bagaimana saya bisa menjadi saksi kasih Tuhan melalui kepatuhan yang penuh sukacita?

Doa

Tuhan yang penuh kasih, ajarilah kami untuk menaati hukum-Mu bukan sekadar sebagai kewajiban, tetapi sebagai jalan menuju kasih dan keselamatan. Bukalah hati kami agar kami memahami kehendak-Mu dan menghidupi semangat kasih dalam setiap aturan yang Kau berikan. Jadikanlah kami saksi-Mu yang taat dan penuh sukacita. Amin. 🙏

Semoga renungan ini membantu kita semakin mencintai Tuhan dengan segenap hati dan menghidupi hukum-Nya dengan kasih. Tuhan memberkati!

Translate »