Browsed by
Category: renungan

katagory untuk renungan

Holy Week Reflection: Dimuliakan dalam Keheningan

Holy Week Reflection: Dimuliakan dalam Keheningan

Rm. Agung Wahyudianto O.Carm


(Refleksi berdasarkan Yohanes 13:21–33, 36–38)

Di banyak komunitas tradisional Andes di Peru, terdapat pemahaman mendalam bahwa segala sesuatu saling terkait—gunung, langit, manusia, dan bahkan penderitaan. Dalam filsafat hidup mereka, tidak ada kejadian yang berdiri sendiri, dan bahkan apa yang tampak sebagai kehancuran bisa menjadi bagian dari proses penyucian atau kelahiran kembali. Ada keyakinan bahwa ketika sesuatu “runtuh,” itu bukan akhir, melainkan pemulihan harmoni yang lebih dalam dan tersembunyi.

Dalam Injil hari ini, Yesus baru saja mengungkapkan bahwa seorang dari antara murid-Nya akan mengkhianati Dia. Di tengah peristiwa yang tampaknya gelap dan memilukan itu, Ia berkata, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan, dan Allah dimuliakan di dalam Dia.” Ini bukan kemuliaan yang gemerlap atau penuh sorak-sorai. Ini adalah kemuliaan yang muncul di tengah pengkhianatan, dalam keheningan malam, dalam luka yang sedang terbuka.

Yesus tidak memisahkan penderitaan dari kemuliaan. Ia tidak memisahkan kegelapan dari cahaya. Dalam dirinya, semuanya hadir sebagai satu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan. Dan karena itulah, Allah dimuliakan di dalam Dia, dan Ia dimuliakan dalam Allah. Ini bukan tentang satu momen istimewa atau tindakan heroik, melainkan tentang keutuhan kehadiran—tetap tinggal, tetap mengasihi, tetap percaya, bahkan ketika semua tampak runtuh.

Seperti filosofi hidup masyarakat Andes yang melihat waktu sebagai siklus, bukan garis lurus, Yesus menunjukkan bahwa kemuliaan tidak datang “nanti setelah semuanya baik kembali,” melainkan hadir sekarang, di tengah peristiwa yang sedang berlangsung. “Ia akan dimuliakan segera,” kata-Nya. Tidak ada penundaan, karena apa yang sejati tidak dibatasi oleh urutan waktu atau penilaian manusia.

Dalam Pekan Suci ini, kita diundang untuk merenungkan: Di mana kita sedang mengalami luka atau kehilangan? Di bagian hidup mana kita merasa segalanya mulai runtuh? Mungkin, justru di sanalah tempat di mana kemuliaan sedang muncul, diam-diam, tanpa sorotan. Bukan karena penderitaan itu indah, tetapi karena di dalamnya, ada kemungkinan untuk tetap hadir dalam kasih, untuk tetap membuka diri terhadap karya Allah yang sedang berjalan.

Yesus tidak melawan malam itu—Ia tinggal di dalamnya, sepenuhnya. Dan dalam ketidakterpisahan antara Allah dan Dia, kemuliaan tidak perlu dicari. Ia hanya perlu disadari. Dan saat kita ikut masuk ke dalam keheningan itu, kita pun dibentuk menjadi bagian dari kemuliaan yang sama—yang tidak datang dari kemenangan di luar, tetapi dari kesatuan yang tak tergoyahkan di dalam.

Renungan Hari Selasa

Renungan Hari Selasa

Romo Endi


(Yoh. 13:21–33; 36–38).

Saudara-saudariku terkasih, hari ini kita merenungkan kasih yang tanpa batas dan kenyataan manusia menanggapinya. Injil mengisahkan kepada kita dimana Yesus duduk bersama para murid-Nya, dalam suasana yang tenang tapi berat. Hati-Nya sedang bergolak. Dia tahu bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya. Dan itu bukan orang asing, tapi seseorang yang selama ini berjalan bersama-Nya, makan bersama-Nya, bahkan dilayani-Nya.

Bayangkan bagaimana rasanya disakiti oleh orang yang begitu dekat. Tapi Yesus tidak menjauh. Ia tetap membasuh kaki Yudas. Ia tetap memberinya roti. Ia tetap mengasihi.

Apa yang Yesus lakukan saat itu bukan hanya menunjukkan betapa besar kasih-Nya, tapi juga mengajak kita untuk melihat diri sendiri. Karena dalam hidup ini, kita pun pernah atau bahkan sering menjadi seperti Yudas, yakni memilih yang salah, demi kenyamanan, demi keuntungan, atau karena takut.

Lalu ada Petrus. Yang begitu yakin akan tetap setia, tapi kemudian menyangkal tiga kali bahkan sebelum ayam berkokok. Kita pun bisa seperti dia. Begitu mudah berkata: “Tuhan, aku mengasihimu,” tapi ketika tekanan datang, saat takut, kita mundur. Kita lupa janji kita.

Yang menarik adalah, Yesus tahu semua itu. Dia tahu Yudas akan pergi. Dia tahu Petrus akan menyangkal. Tapi Dia tetap mengasihi mereka. Tetap setia sampai akhir. Bahkan saat malam menjadi begitu gelap, kasih-Nya tetap menyala. Inilah kasih yang tanpa batas, bahkan mengasihi hingga terluka.

“Malam pun tiba,” kata penginjil Yohanes. Tentu, yang dimaksud bukan hanya malam secara waktu, tapi juga malam dalam hati. Malam pengkhianatan. Malam ketakutan. Malam di mana manusia lebih memilih gelap daripada terang.

Kita pun punya malam-malam seperti itu. Saat hidup terasa berat. Saat relasi rusak. Saat kita merasa sendirian atau dikhianati. Tapi kabar baiknya: Tuhan tidak pergi. Dia tetap hadir. Dia tahu kerapuhan kita, dan tetap mengasihi kita.

Pertanyaan dari Petrus, “Tuhan, ke mana Engkau pergi?” adalah pertanyaan banyak dari kita. Dan jawaban Yesus adalah janji: “Sekarang kamu belum bisa ikut Aku. Tapi nanti, kamu akan ikut.” Artinya: kamu tidak sendirian. Aku tahu jalan yang kamu tempuh. Aku lebih dulu ke sana. Dan kamu akan menyusul. Akan ada jalan pulang.
Saudara-saudariku terkasih, Yesus tidak menunggu kita menjadi sempurna baru dikasihi. Ia mengasihi dulu, dan mengajak kita kembali. Malam boleh datang. Tapi kasih-Nya tidak pernah hilang.

Mari kita kembali pada-Nya. Diam sejenak.
Dan izinkan terang kasih-Nya perlahan menyinari sisi gelap dalam hati kita. Dengan demikian, kita sungguh-sungguh hidup di dalam terang kasih-Nya dan mampu memancarkan terang itu pada orang/orang yang Tuhan temptkan dalam hidup kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Senin dalam Pekan Suci

Senin dalam Pekan Suci

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
14 April 2025
Yes 42: 1-7 + Mzm 27 + Yoh 12: 1-11

Lectio
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.” Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus.

Meditatio
‘Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku’. Inilah pemaknaan Yesus terhadap tindakan yang Maria, saudari Lazarus, yang membasuh kakiNya dengan minyak narwastu dan menyeka dengan rambutnya. Mengapa Yesus memaknainya seperti itu? Atau memang Maria sungguh tahu akan apa yang terjadi pada Tokoh yang dipuja-pujinya itu?
Waktu akan dimakamkan, adakah orang yang mengurapi jenasah Yesus dengan rempah-rempah? Maria Magdalena pun gagal mengurapi jenasah Yesus, karena memang Dia sudah bangkit pada waktu itu. Apakah Yesus merasakan dan memaknai sungguh bahwa keberangkatanNya esok hari dipersiapkan oleh Maria? Keberangkatan ke Yerusalem adalah proses pemuliaan Yesus oleh Bapa. Maria mempersiapkan dan memberangkatkanNya, dan orang-orang Yerusalem menyambutNya dengan penuh sukacita.
Tindakan Maria juga mengingatkan kita semua, bahwasannya segala tindakan akan sungguh berguna dan mendatangkan keselamatan, bila memang kita satukan dan kita persembahkan kepada Tuhan. Perhatian kita terhadap yang miskin dan melarat, tetapi tidak kita persembahkan kepadaNya, maka tindakan tersebut hanya sebatas mendatangkan pujian dari orang-orang yang ada di sekitar kita, tetapi tidak mendatangkan berkat keselamatan daripadaNya. Keberanian kita menyatukan segala karya dan tindakan kepada Tuhan adalah salah satu bentuk salib tersendiri bagi kita.
Memanggul salib adalah cara satu-satunya yang dilakukan Yesus untuk ditinggikan di salib. Tak mungkin, Yesus tiba-tiba ditinggikan di salib, tanpa harus memanggul salib, yang dipakai Allah Bapa, untuk meninggikan diriNya. ‘Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa’ (Yes 42: 6). Yesus adalah Sakramen keselamatan Allah. Memanggul salib adalah keharusan bagi Yesus untuk ditinggikan di salib, dan demikian juga bagi semua orang yang percaya dan mengikuti diriNya. Barangsiapa mau mengikuti Aku, harus berani memanggul salib, menyangkal diri dan mengikut Aku.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau memangul salib hanya demi keselamatan kami. Maria telah memberangkatkan Engkau. Semoga kami pun semakin menaruh hati kepadaMu dalam setiap langkah hidup kami sebagaimana dicontohkan Maria, dan siap memanggul salib seperti Engkau sendiri. Amin.

Contemplatio
‘Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku’.

Yesus, Bukan Raja Biasa

Yesus, Bukan Raja Biasa

Minggu Palma Sengsara Tuhan

13 April 2025

Lukas 19:28-40 dan Lukas 22:14-23:56

Minggu Palma adalah salah satu perayaan liturgi yang paling unik dalam Gereja karena memberikan dua bacaan Injil: Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja (Lukas 19:28-40) dan kisah Sengsara Kristus (Lukas 22:14-23:56). Bacaan-bacaan ini bukan kebetulan ada, tetapi Gereja mendampingkan keduanya untuk mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kedua bacaan ini. Namun, apakah hubungan ini?

Injil pertama menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem, kota Raja Daud dan para penggantinya. Para murid-Nya mengikuti-Nya sementara penduduk Yerusalem menyambut-Nya, menyatakan Dia sebagai raja. Namun Injil ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah seorang penguasa duniawi biasa. Dia bukanlah seorang raja yang berkuasa secara militer dengan menunggang kuda perang, tetapi seorang raja yang rendah hati dan cinta damai dengan menunggang keledai. Dia datang dalam nama Tuhan – tidak melalui garis keturunan kerajaan, sistem politik modern, atau tipu daya. Dia memerintah bukan atas satu bangsa, tetapi atas semua ciptaan, bahkan “batu-batu akan berseru” untuk menyatakan kerajaan-Nya.

Injil kedua, kisah Sengsara, lebih jauh mengungkapkan Kristus sebagai Raja. Dia tidak memerintah dengan kekerasan tetapi merangkulnya dan mengakhirinya di kayu salib. Kerajaan-Nya beroperasi bukan melalui teror tetapi melalui hukum kasih, mengorbankan diri-Nya sendiri agar umat-Nya dapat ditebus dari dosa dan kemudian hidup.

Saat kita memasuki Pekan Suci, kita diundang untuk memeriksa identitas kita sebagai umat kerajaan Allah. Apakah kita mengasihi Raja kita atau takut akan Dia? Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita harus belajar untuk semakin menyerupai Dia dan juga mengasihi seperti Dia mengasihi. Selama dua ribu tahun, banyak sekali martir yang mengikuti teladan Kristus hingga mati. Bahkan saat ini di abad ke-21, umat Kristiani terus menghadapi penganiayaan: Para imam di Nigeria diculik dan dibunuh; komunitas Kristiani di Suriah diserang dan diusir; juga meningkatnya permusuhan anti-Kristen di Israel.

Banyak dari kita yang hidup di tempat di mana iman dapat diekspresikan dengan bebas, namun lingkungan ini menghadirkan bahaya yang berbeda – materialisme, rasa puas diri, atau kepengecutan dalam bersaksi tentang Kristus. Kita tergoda untuk memprioritaskan diri sendiri di atas Tuhan, untuk mencintai diri kita sendiri daripada Yesus.

Kita bisa belajar dari teladan St. Katarina Siena. Pada masanya, paus lebih memilih tinggal di Avignon, Perancis daripada di Roma karena ia takut berurusan dengan orang-orang yang menentangnya di sana. Namun, alih-alih menjadi pemimpin dalam iman dan teladan moral, paus lebih banyak melibatkan diri dalam politik. Maka, St. Katarina dengan berani pergi ke Avignon dan menghadapi Gregorius XI, mendesaknya untuk kembali, “Jika Anda mati di Roma, anda mati sebagai seorang martir – tetapi jika anda tetap di sini, anda mati sebagai seorang pengecut.” Tindakannya mengalir dari cinta yang radikal kepada Kristus Sang Raja.

Jika Yesus adalah Raja kita, bagaimana kita harus mengikuti-Nya?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus sebagai Raja kita? Bagaimanakah kasih kita kepada Kristus diwujudkan secara praktis? Apakah kita siap untuk menyatakan iman kita dalam lingkungan yang penuh tantangan? Apakah kita mau berkorban untuk orang lain karena kasih kita kepada Yesus? Apakah kita siap untuk menanggung penderitaan sebagai orang Kristen?

Kamis, 10 April 2025

Kamis, 10 April 2025

Injil Yohanes 8:51-59

          “Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” (Yoh 8:51). Pernyataan yang diucapkan Yesus kepada para pemuka Yahudi ini pastinya tidak mudah untuk dimengerti oleh mereka, termasuk juga saya dan Anda. Ada banyak alasan untuk meragukan dan mempertanyakan pernyataan Yesus ini. Siapakah Dia sehingga berani mengucapkan hal tersebut? Apakah Yesus ini lebih hebat dari para Nabi, bahkan lebih besar Abraham yang diagungkan sebagai Bapa bangsa Israel? Abraham dan para nabi saja pada akhirnya mati, lantas apa dasarnya Yesus berucap demikian? Dan tentunya masih banyak lagi alasan dan keraguan yang bisa muncul. Di sinilah kita diarahkan untuk semakin rendah hati memperdalam pengenalan akan Allah yang mulia dan mahakuasa. Pengenalan akan Allah yang benar akan membawa pada keyakinan dan sukacita karena percaya bahwa Allah beserta kita. Iman kita akan Yesus akan menuntun peziarahan manusia beriman ini pada hidup kekal, artinya hidup yang senantiasa dibimbing oleh Allah dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.

          “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia. Jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya.” (Yoh 8:54-55). Satu pernyataan Yesus yang kalau kita renungkan lebih mendalam semakin menyadarkan kita tentang seberapa dalam kita mengenal Allah dan seberapa intens kita menjalin relasi dengan Allah. Mengenal Allah dapat ditempuh melalui pengenalan akan Yesus yang sengsara, wafat, dan bangkit sebagaimana kita renungkan selama masa prapaskah dan tobat ini. Sengsaranya memberikan gambaran nyata Allah yang peduli dan solider dengan penderitaan manusia, bahkan dosa-dosa manusia yang tak terhitung jumlahnya. Kematiannya memberikan jawaban konkrit bahwa maut tidak menguasainya dan menjadi akhir dari segalanya. Yesus memberikan keyakinan iman bahwa hidup ini tidak pernah dilenyapkan tetapi diubah menuju keabadian bersama Allah sendiri. Hingga akhirnya, kebangkitan Yesus menjadi tanda bahwa Yesuslah Alfa dan Omega, Awal dan Akhir dari segala ciptaan ini. Artinya kepercayaan kita pada Yesus ialah kepercayaan yang melampaui batasan ruang dan waktu, bahkan logika manusia.

          Masa Tobat dan Tahun Kerahiman ini menjadi saat berahmat untuk memeriksa kembali pengenalan kita akan Allah yang menjelma dalam diri Yesus. Apakah saya dan Anda meragukan Yesus? Apakah kita meragukan ajaran iman Gereja Katolik? Apakah kita meragukan kebenaran Kitab Suci? Apakah kita masih percaya pantang, puasa, matiraga, amal kasih, dan perbuatan kesalehan sebagai latihan untuk merasakan bahwa kita sungguh bergantung pada Allah dan Allah sungguh bekerja dalam hidup kita? Marilah kita benahi kesalahpahaman dalam mengenal Allah dengan menggunakan segala daya manusiawi dan rahmat Ilahi untuk mengenali sisi kemunafikan diri kita lebih dahulu. Tuhan memberkati.

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

Translate »