Browsed by
Month: December 2013

Konsekuen

Konsekuen

839738247_origJumat, 20 Desember 2013

Lukas 1: 26-38

 

Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya dalam hatinya, apakah arti salam itu.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, Maria adalah seorang yang sungguh beriman. Selain itu, ia bukanlah seorang yang bodoh.  Bukti bahwa ia sungguh beriman dan tidak bodoh adalah bunyi teks di atas. Maria berpikir dan bertanya makna salam dari Malaikat Gabriel kepadanya. Ia menanyakan makna “yang dikaruniai”. Tentu saja ia bertanya, dikaruniai apa? Dari pertanyaannya ia mendapat jawaban bahwa ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun alangkah sayang bahwa ia akan mengandung tanpa seorang suami. Celaka dua belas!! Tentu saja sebagai seorang wanita Yahudi baik-baik Maria tahu konsekuensinya bila ia mengandung tanpa seorang suami. Pasti ia akan jadi bahan hinaan dan lebih parah lagi pasti ia akan dihukum rajam karena dianggap sebagai seorang pezinah.

Namun sebagai seorang yang sungguh beriman Maria mau menerima tugas berat tersebut. Ia mau menerima kehadiran Tuhan dalam dirinya. Ia menyadari bahwa Tuhanpun memerlukan persetujuannya untuk menjadi juru selamat manusia. Maria menyadari bahwa perkataan “ya” yang ia ucapkan atas tawaran Tuhan mengandung konsekuensi yang amat sangat besar. Namun dengan penuh iman ia mengatakan “ya”. Maria sungguh sadar bahwa iman tidak pernah membuat dia lepas dari masalah, lepas dari kesulitan. Namun ia sadar bahwa imannya kepada Tuhan membuat dia mampu menghadapi setiap kesulitan yang dia alami. Dari kisah Maria ini kita bisa tahu bahwa beriman bukanlah jaminan bahwa kita akan lepas dari masalah, namun beriman membuat kita mampu untuk menghadapi segala persoalan hidup kita dalam Tuhan. Maka dalam hal ini kita perlu untuk tiap saat berseru bersama rasul Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. Amin. (Sulistya)20

Ragu

Ragu

hopeKamis, 19 Desember 2013

Lukas 1: 5-25

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dikisahkan bahwa barang siapa melihat Tuhan pasti ia mati. Maka tidak mengherankan bila dalam Injil hari ini Zakaria merasa takut karena ia melihat dan bahkan bertemu dengan malaikat yang adalah utusan Tuhan. Malaikat terebut mengatakan bahwa ia akan memperoleh seorang anak laki-laki dari istrinya, Elisabet, yang adalah mandul. Mendengar hal ini tentu saja Zakaria tidak langsung percaya. Secara logika ia memahami bahwa hal tersebut tidaklah mungkin karena baik ia dan Elisabet telah sama-sama lanjut usia dan mustahil untuk memiliki seorang anak. Maka untuk meyakinkan Zakaria bahwa hal itu benar malaikat Gabriel menjadikan Zakaria bisu. Ia dijadikan bisu untuk membungkam ke-tidakpercayaan-nya. Memang Allah terkadang membungkam kita ketika kita kurang percaya akan karya-karyaNya. Bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Bagi kita – menurut Jean Paul Sartre – yang hidup dalam “the age of reason” sangatlah sulit untuk menerima hal ini. Mungkin banyak orang mengatakan bahwa hal-hal ini hanyalah isapan jempol belaka. Bagi orang yang kurang percaya mereka bisa berkata demikian, namun bagi kita orang yang beriman hal ini adalah tanda kebesaran Allah. Dalam hal ini kita ditantang oleh Tuhan, kita mau mengikuti alur logika kita atau kita ingin mengikuti dan berserah kepada Tuhan. Segalanya berpulang kepada kita masing-masing. Namun hendaknya kita siap-siap bila sewaktu-waktu Tuhan membungkam kita karena ke-tidak-percayaan kita. (Sulistya)

Kosong

Kosong

Rabu, 18 Desember 2013

Matius 1: 18-24

Seorang guru Zen bernama Nan-in yang hidup pada masa pemerintahan kaisar Meiji di Jepang, suatu ketika membuat seorang profesor yang ingin berguru kepadanya terpaku keheranan dengan tindakannya. Nan-in menuangkan teh ke dalam cangkir hingga penuh, tetapi ia terus menuangkannya hingga luber dan tumpah.

Sesaat kemudian sang profesor mengingatkan sang guru akan kecerobohannya. Tetapi ia terperangah mendengarkan jawaban guru Zen, “sama seperti cangkir ini, engkau datang kemari dengan kepala penuh gagasan dan pikiran. Bagaimana aku dapat mengajarimu Zen kalau engkau tidak mengosongkan pikiranmu terlebih dahulu?”

Terkadang hidup kitapun sama seperti professor tadi. Kita ingin mengungkapkan Tuhan yang sedemikian besar dan memasukkannya dalam pikiran kita yang sedemikian sempit. Kita mungkin bertanya-tanya “Apakah mungkin Bunda Maria mengandung Yesus yang adalah Putra Allah tanpa perantaraan seorang laki-laki”? Dan mungkin kita masih punya banyak pertanyaan lain tentang Tuhan dalam pikiran kita yang sempit. Dalam hal ini kita perlu meniru Bunda Maria. Ia mau mengosongkan dirinya dari ego-nya sendiri. Dengan mengosongkan ego-nya ia memberi kesempatan kepada Tuhan untuk tinggal dan hidup dalam dirinya. Adven adalah masa yang sungguh agung untuk menyambut kedatangan Tuhan. Maka dari itu kitapun perlu mengosongkan sebagian dari diri kita agar Tuhan sungguh hadir dan menguasai diri kita. Kita perlu menyediakan “sebuah ruang kosong” dalam keluarga kita agar Tuhan sungguh-sungguh dapat hadir dan tinggal bersama kita. Semoga Tuhan memberkati kita. Amin. (Sulistya)

Tuhan adalah Pelupa

Tuhan adalah Pelupa

Selasa, 17 Desember 2013

Matius 1: 1-17

Saudara-Saudari terkasih dalam Kristus, mungkin kita bertanya-tanya apakah pentingnya silsilah keluarga Yesus Kristus ini? Buat apa silsilah ini dimasukkan dalam Injil? Injil (euangelion: kabar gembira) adalah berita gembira dari Allah untuk kita. Apakah kita bisa menemukan kebahagiaan dalam Injil yang kita baca hari ini? Bukankah Injil hari ini melulu hanya mengatakan silsilah Tuhan Yesus? Mungkin sepintas kita punya pertanyaan demikian. Namun kalau kita lihat dengan sungguh-sungguh ternyata Injil ini memang memuat kabar sukacita bagi kita umat manusia yang lemah dan berdosa ini. Mengapa demikian? Karea ternyata Tuhan Yesus pun tidak luput dari stigma dosa yang dibuat oleh leluhurNya. Mari coba kita lihat. Nenek moyang Yesus ternyata tidak semuanya “orang lurus”, sebut saja Tamar dan Salomo. Tamar adalah seorang wanita yang dicap tidak baik karena melakukan perselingkuhan. Di lain pihak Salomo adalah anak hasil perselingkuhan antara Daud dengan Batsyeba istri Uria. Dengan mengerti hal ini kita sebenarnya disadarkan oleh Tuhan bahwa Yesus pun mau dilahirkan lewat orang-orang yang memiliki dosa dan kelemahan.

Inilah kabar baik dari Injil ini untuk kita sekalian. Tuhan tidak pernah memandang latar belakang kita. Yang Ia lihat bukan apa yang kita lakukan di masa lampau namun lebih pada apa yang kita lakukan pada saat sekarang ini. Tuhan tidak pernah memusingkan kedosaan kita. Yang Tuhan inginkan dari kita adalah penyerahan diri kita kepada kerahimanNya. Dengan menyerahkan diri kita pada kerahiman Tuhan maka kita memberi kesempatan kepada Tuhan untuk mengubah diri kita sesuai dengan kehendak Tuhan. Sekali lagi Tuhan tidak pusing dengan masa lampau kita. Yang Tuhan inginkan dari kita adalah penyerahan diri kita kepada kerahimanNya. (Sulistya)

 

Translate »