Browsed by
Month: April 2014

Damai

Damai

peace girl

Bacaan I : Kis 3: 11-26
Bacaan Injil : Luk 24: 35-48

Wajahnya ibu setengah baya itu murung dan keruh. Sambil memutar-mutar cangkir kopinya, dia berkata lirih: Romo, saya mendengar suara-suara yang berkata bahwa mereka akan mengambil anak saya. Suara-suara itu juga bilang saya ini bukan guru yang baik, tidak bisa mendidik anak, karenanya mereka akan mengambil anak saya. Suara-suara itu juga memutar rekaman, waktu saya bertengkar dengan suami saya. Memang kadang saya berselisih paham dengan suami saya sampai bantah-bantahan dengan suara keras dan tinggi. Saya tahu, itu bisa membuat anak saya yang semata wayang itu tertekan, tapi ya bagaimana yah… Pasti itu tetangga saya dulu, yang sudah pindah, yang merekam pertengkaran kami dan melapor pada yang berwajib. Tapi suami saya tidak mendengar suara itu, hanya saya. Sama sekali tidak ada orang lain yang mendengarnya. Lha apa saya ini sudah nggak waras, Romo? Saya takut dan bingung, tidak bisa tidur, cemas, ….

Saya terdiam. Saya sadar, saya tidak bisa berbuat banyak. Apa yang dibutuhkan Sang Ibu adalah pendampingan perawatan klinis, karena dia mengalami depresi berat. Dia juga membutuhkan seseorang yang sanggup menemaninya memasuki dunianya, dan turut menuntunnya keluar darinya secara lembut. Untunglah, ibu yang tak punya banyak kawan itu mendapatkannya dari seorang teman yang sabar mendengarkan, mendampingi, termasuk membantunya untuk segera mendapatkan perawatan psikiatri sebelum kesadarannya makin mengabur, setelah Sang Ibu sempat menelpon polisi yang segera datang karena dalam kepanikan ia melaporan bahwa anaknya akan diculik sore itu juga.

Menurut sebuah study WHO, rata-rata 1 dari 20 orang menderita depresi. Sementara Indonesia berada dalam skala ini, USA tercatat lebih tinggi, 1 dari 10 orang, dan Afganistan, dengan konflik dan perang yang berkepanjangan, lebih parah lagi, 1 dari 5 orang menderita depresi. Meskipun penyebab dan penanganan bermacam-macam, ada satu kenyataan yang mencuat: depresi meningkat dengan menurunnya kedamaian. Kedamaian yang kasat mata bebas dari konflik bersenjata, juga kedamaian yang lebih subtle seperti bebas dari trauma, rasa bersalah masa lalu, kecemasan akan masa depan, ketidakmampuan menerima diri, tipisnya rasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Menarik untuk mencatat bahwa menurut Lukas dan Yohanes, hal pertama yang dikatakan Yesus ketika Ia menampakkan diri pada para murid setelah bangkit adalah “Shalama (Aram)”, “Shalom (Ibrani), “Pax vobis ego sum (Yunani)”, “”Damai(Ku) besertamu!”. Lebih dari menyatakan “Jangan takut”, Yesus memberikan damai. Lebih dari sekedar bebas dari perang atau kegelisahan batin, Shalom merujuk pada kelengkapan, keutuhan, kesehatan, kesejahteraan, keselamatan, ketenangan, kesempurnaan, keselarasan, damai, baik jasmani maupun rohani, dalam relasi dengan Tuhan juga dengan sesama manusia.

Dalam Injil Lukas, Yesus membuka pikiran para murid hingga mereka memahami kitab suci. Mereka adalah saksi dari terpenuhinya nubuat para nabi tentang Mesiah yang menderita dan bangkit dari antara orang mati. Mereka adalah saksi yang mendapat tugas melanjutkan pewartaan tentang pertobatan, pengampunan dosa, dan kabar gembira. Mereka diutus melanjutkan karya penyembuhan luka jiwa karena dosa, dan memulihkan shalom. Sebagai pewaris iman para rasul, kita pun diutus untuk tugas yang sama. Semoga kita pun dimampukan untuk menyapa saudara-saudari yang membutuhkan: Damai Tuhan besertamu. Semoga setiap sapaan terutama pada saudara-saudari yang sedang tertekan oleh beban hidup di sekitar kita, membawa kasih Tuhan sendiri yang menyejukkan, yang menyembuhkan, yang mendamaikan.

Dengan Hati yang Berkobar

Dengan Hati yang Berkobar

road-to-emmaus1

Bacaan I: Kisah Para Rasul 3:1-10
Bacaan Injil: Lukas 24:13-35

Henry J.M Nouwen menulis buku yang sangat bagus berjudul “With Burning Heart”. Di dalamnya, ia merenungkan Ekaristi dengan kerangka kisah penampakan Yesus yang bangkit pada dua murid di jalan ke Emanus. Dengan indah ditariknya kesejajaran dinamika kisah Paskah itu dengan dinamika dalam Ekaristi, dan mengajak kita menemukan kesejajaran dalam dinamika hidup kita pula.

Dua orang murid yang berjalan bersama dirundung duka, kebingungan, kehilangan arah. Mereka merasa lemah, letih, lesu, bimbang, ragu. Dalam suasana itu kita memulai Ekaristi, menyadari kerapuhan kita dan berseru: Tuhan, kasihanilah kami. Kehancuran hati acap kali perlu terjadi agar rahmat dapat merasuk lebih dalam, seperti tanah kering yang keras perlu diaduk, dipecahkan, agar dapat menyerap air yang dicurahkan padanya, dan membuat biji yang ditanam dalamnya tumbuh subur dan berbuah.

Dalam suasana murung meratapi kehilangan sosok pemimpin ideal secara tragis dan memilukan, kedua murid tak mampu mengenali kehadiran Sang Guru yang mereka perbincangkan. Kehadiran orang asing yang mengajar mereka memahami kejadian2 yang lalu lewat terang tafsir kitab suci secara baru, diam-diam menata kembali hati mereka. Sungguh mereka mengalami, Sabda Tuhan adalah sumber penghiburan, kekuatan dan harapan hidup. Itulah pengalaman kita memasuki liturgi sabda. Mendengar sabda Tuhan dan penjelasannya dalam homili, dapat sungguh menata dan menerangi hati serta budi, memberi bekal pula dalam perjalanan hidup kita.

Saat hati disinari terang harapan dan sukacita baru, kedua murid tidak saja menemukan kegembiraan tiba di rumah dalam artian dinding, pintu, jendela dan atap, tetapi juga rumah dimana mereka bisa menjamu tamu dan berbincang seru dengan orang asing yang berubahmenjadi teman yang mengasyikkan, teman yang membuat hati berkobar, teman yang dipercaya untuk berbagi suka dan duka. Saat kita menyatakan “Aku percaya” usai bacaan dan kotbah, kita mengundang Yesus ke rumah kita dan mempercayakan diri kita untuk memasuki jalanNya.

Saat Yesus memasuki rumah kedua murid itu, rumah itu menjadi rumahNya. Kini Dia yang mengundang mereka memasuki ruang batinNya. “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka (Luk 24:30).” Hal yang biasa bahwa roti diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagi. Tapi kedua murid terbawa pada peristiwa dimana Sang Guru bersabda: Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku (Luk 22:19). Saat kita memasuki komuni, kita pun tahu, kita diajak memasuki ruang hidupNya, menjadi satu kawanan denganNya, menjadi seperti Dia, siap diambil, diberkati, dipecah dan dibagi2kan.

Hati yang berkobar bukanlah akhir cerita. Kepedihan yang sirna digulung sukacita meluap mengalami kehadiranNya juga bukan penutup. Komuni, persekutuan, bukan kesimpulan. Kedua murid langsung kembali ke Yesusalem, menjadi pewarta kabar kebangkitan, berbagi pengalaman pribadi, pengalaman ketersentuhan mereka. Ekaristi ditutup dengan tugas: Pergilah, engkau diutus. Epilog kisah perjumpaan denganNya adalah memasuki hidup Ekaristi, menebar dan menebar kabar gembira Injil. Siapkah kita?

Hidup hanyalah diubah

Hidup hanyalah diubah

resurrection-morning-iis

Bacaan I: Kisah Para Rasul 2:36-41
Bacaan Injil: Yohanes 20: 11-18

Atambua, Oktober 1999, kamp pengungsi Timor Leste di Atambua-Timor Barat. Seorang laki-laki tengah baya menceritakan pada saya, kisah-kisah tragis yang mengiringi pemindahan paksa ratusan ribu orang Timor Timur ke Timor Barat yang ditandai pembakaran rumah-rumah penduduk dan perusakan fasilitas2 publik, paska referendum yang menjadi titik balik kemerdekaan Timor Leste. Konflik terjadi bahkan antar saudara kandung yang berbeda pendapat dan sikap politik. Suatu ketika terjadi, dalam pengaruh obat, seorang milisi pro-Indonesia membunuh saudaranya sendiri yang pro-kemerdekaan. Saat pengaruh obat menghilang dan kesadaran pulih, hatinya hancur remuk redam menyadari apa yang telah dilakukannya. Nasi telah menjadi bubur, dan nyawa saudaranya tak dapat ditarik kembali. “Ah…. Tetapi pada akhirnya, kematian itu bukan akhir segalanya… hidup hanyalah diubah, bukan dilenyapkan….,” ujar Sang Penutur kisah dengan mata menerawang, pedih namun penuh kemantapan pada iman kristianinya.

Paskah bukan sekedar kesimpulan yang melegakan dari rangkaian kisah sengsara. Paskah adalah Penciptaan kedua, awal komunitas Gereja, kelahiran cara baru hidup dan memahami kehidupan dalam terang kasih Ilahi. Bagi para pengikut Sang Jalan, berpegang dari apa yang telah dilewati Sang Guru, kematian bukan lagi hal yang menakutkan, bahkan tak jarang orang memeluk kemartirannya dengan penuh sukacita karena rindu segera memulai hidup yang diubah. Kepergian yang tragis sebagai korban konflik, kecelakaan, atau menderita sakit pun dipeluk dengan iman dan harapan: kasih tak pernah dikalahkan bahkan juga oleh penderitaan dan kematian. Hidup baru yang jauh lebih baik, menanti dimasuki untuk orang-orang yang percaya.

Jawaban Petrus atas pertanyaan orang-orang yang tersentuh pewartaannya: “Apa yang harus kami perbuat?”, menjadi awal penciptaan kedua, kelahiran baru dalam setiap pribadi yang mengikutiNya: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus” (Kis 2:38) . Lewat baptis, kita menggabungkan diri pada Kristus, Yang Terurapi, Adam baru yang membawa rahmat penciptaan baru. Lewat baptis, kita mendapatkan peta jalan keselamatan yang menuntun kita mendapatkan dan membagikan damai serta sukacita. Lewat baptis, setiap kali ada saudara kita yang mendahului kita, kita pun merayakan keyakinan iman kita yang menghibur dan menguatkan: hidup hanyalah diubah, bukan dilenyapkan.

Translate »