Browsed by
Month: July 2014

Presiden baru?

Presiden baru?

“Matikan tv saja karena bingung melihat hasil quick count yang berbeda!” kata bapak saya ketika di telepon saya tanya bagaimana hasil pemilu. “Sudahlah, tak mau ikut mikir!” kata adik saya juga. Hari-hari ini kita disuguhi sebuah drama politik yang menggambarkan bagaimana mentalitas para pemimpin di Indonesia yang tidak siap menerima kekalahan dalam pemilu.

Mari kita kaji secara logis dan matematis, tanpa embel-embel kepentingan politik. Ada 8 lembaga survey memenangkan Jokowi-JK: Litbang Kompas (52,34 persen), RRI (52,71 persen), SMRC (52,91 persen), CSIS-Cyrus (52,1 persen), LSI (53,37 persen), IPI (52,47 persen), Poltracking Institute (53,37 persen), dan Populi Center (50,95 persen).

Sementara itu, empat lembaga survei yang mengunggulkan Prabowo-Hatta yaitu Puskaptis (52,05 persen), JSI (50,14 persen), LSN (50,56 persen), dan IRC (51,11 persen).

Hasil mana yang akan anda percaya? Misalnya kita mengambil hasil dari RRI: kalau RRI berbohong berarti Radio Republik Indonesia selama ini adalah pembohong publik!

KIta prihatin karena masyarakat tidak mendapat akses penuh pada kebenaran. Data yang seharusnya bisa dihitung secara transparan, accountable, ternyata menyesatkan karena bisa dimanipulasi demi kepentingan tertentu. Dibalik angka itu ada tangan-tangan yang ingin menggiring opini publik kalau mereka tidak kalah dalam pemilu.

Akibatnya? kalau nanti tanggal 22 Juli KPU mengeluarkan keputusan final hasil pemilu, pihak yang kalah bisa saja mengajukan banding ke Komisi Judicial dan tak menerima hasilnya. Mereka bisa meminta penghitungan ulang atau pemilu ulang. Lalu kita harus menunggu sebulan lagi untuk menerima hasil terakhir dari Komisi Judicial.

Betapa sulitnya melahirkan pemimpin baik di Indonesia! Banyak musuhnya!

“Jangan matikan tv-nya!” kata saya. “Lihat terus, jadilah warga negara yang cerdas dan kritis, jangan mudah dibohongi oleh orang yang mengaku pemimpin, tapi sebenarnya pecundang.”

Domba di tengah srigala

Domba di tengah srigala

DIUTUS SEPERTI DOMBA DITENGAH SERIGALA
(Mat 10:16-23)
 
Diutus seperti domba di tengah serigala. Ini adalah zona yang tidak aman, zona yang penuh resiko,  atau karya yang penuh tantangan tetapi kadang perlu dilalui. Sedang zona aman yaitu kerja di tengah Umat Katolik yang tradisional dengan merayakan Ekaristi harian rutin dan melayani doa-doa bersama dengan ibu-ibu yang sudah lanjut usia. Bukan maksudnya  menyatakan hal ini tidak baik.Tetapi misi Gereja lebih-lebih agar Umat terjun ke masyarakat.
Pernah ada seorang ibu Kadus (Kepala dusun) Katolik mensharingkan pengalamannya di depan warga lingkungan: “Sebagai kepala dusun saya harus melayani semua kelompok, beraneka tugas, sampai bertumpuk-tumpuk. Karena saya Katolik maka saya langsung dipercaya untuk mengurusi soal keuangan koperasi. Saya tidak bisa menolak. Tantangan yang harus saya hadapi sekali, Banyak kasus-kasus dari warga masyarakat, entah soal tanah, soal jual beli rumah, bahkan soal pekawinan juga ditumpahkan pada saya. Saya pernah membela penguburan Katolik di desa meskipun ada yang tidak senang dan membela memberi izin untuk adanya tempat doa bagi Umat Katolik. Tetapi saya mencari akal agar rumah doa ini untuk siapa saja, rumah doa paguyuban. Yang berat yaitu bahwa ke Gereja untuk Misa saya tidak teratur, karena kadang Minggu pagi ada rapat-rapat. Banyak warga yang pinjam kendaraan saya, katanya untuk mengantar sunatan. Kalau tidak dipinjami orang akan mengira bahwa saya tidak setuju, kalau saya setujui mobil saya lama-kelamaan cepat rusak…….dan masih banyak lagi”
Pengalaman ibu ini menunjukkan bahwa ia tidak takut resiko. Ia mencoba cerdik seperti ular, tetapi tetapi tulus seperti merpati. Ia tidak khawatir dan tidak takut resiko, meski ia juga pernah didemo oleh warga desa mengenai sengketa agama. Akibat kesaksian dan keberanian ibu, banyak warga desa ingin masuk jadi warga Gereja dan pastor juga amat berterimakasih atas perjuangan seorang ibu yang dipilih jadi kadus.Pernah ibu itu didatangi banyak tokoh masyarakat yang meminta agar ia mau dicalonkan sebagai camat, tetapi dengan syarat bahwa ia harus meninggalkan tanda salibnya. Namun ibu ini menolak tegas, bahwa ia tidak menginginkan kedudukan. Ibu mengatakan” “Kalau masyarakat mencalonkan saya untuk naik jabatan, tetapi saya tetap dalam keyakinan iman dan agama saya, saya mau.”
Inilah contoh diutus bagai domba di tengah serigala. Masih banyak contoh yang lain.
Ditulis oleh Rm. Alosius Budya Pr.
Tanda Panggilan Kristiani

Tanda Panggilan Kristiani

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.  Inilah nama kedua belas rasul itu: Pertama Simon yang disebut Petrus dan Andreas saudaranya, dan Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya,  Filipus dan Bartolomeus, Tomas dan Matius pemungut cukai, Yakobus anak Alfeus, dan Tadeus, Simon orang Zelot dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.  Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus –  Matthew 10:1-5

Bagaimana mungkin 12 orang ini tiba-tiba mengikuti Yesus tanda menunda? Tak ada kisah yang menceritakan kalau mereka meminta waktu untuk jeda, rehat dan menimbang jawaban. Mereka langsung menjawab “Ya”, dan mengikuti Yesus segera. Kitab Suci tak menceritakan bahwa mereka pernah bertemu Yesus sebelumnya. Sekali bertemu, dipanggil dan ikut langsung. Inilah jatuh cinta pada pandangan pertama! Langsung jatuh hati, spontan, dan dasyat!

Bonhoeffer, seorang pastor Episcopal dari Jerman berkata, “Tak ada alasan lain mereka  ikut Yesus. Dia sendiri yang menjadi alasannya!” Maria Magdalena dalam “Jesus Christ Super Star” menyanyikan lagu bagaimana dia jatuh hati kepayang pada sang Guru, “I don’t know how to love him. What to do, how to move him. I’ve been changed, yes really changed. In these past few days, when I’ve seen myself, I seem like someone else.”

Inilah beberapa tanda ketika panggilan kita sejati: pertama, spontan dan bahagia. Ada perasaan gembira menjadi orang Katolik dan pengikut Kristus. Spontanitas untuk mau meluangkan waktu berdoa, merenung, dan diam bersama Tuhan. Kegembiraan itu terlihat dalam wajah yang optimis, berani menjalani hidup walau banyak tantangan, tanpa mengerutu dan menyalahkan.

Kedua, panggilan kita untuk membangun komunitas. Yesus menanggil mereka sebagai sebuah kelompok, bukan hanya sendirian. Murid Yesus yang berbeda sifat dan karakter disatukan dalam panggilan dan iman yang sama: mau belajar menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik – tidak hanya diam dan menghindar, serta berani memperbaiki relais yang pernah rusak karena perpecahan.

Ketiga: panggilan kemuridan punya misi. Orang dipanggil menjadi murid Yesus tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi harus punya efek dan pengaruh untuk orang lain. Setiap dari kita perlu menyadari bahwa kita punya misi di dunia ini, membawa sesama makin dekat dengan Allah lewat contoh hidup dan perbuatan.

Mari kita merasakan lagi saat kita jatuh hati dalam panggilan menjadi murid Kristus, dan berkata, “I don’t know how He changes my life!”

Imam yang bahagia

Imam yang bahagia

 

 “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.  Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.  Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”  Matthew 9:35-38

Sejak puluhan kasus pedofilia mengguncang Boston, Amerika Serikat (AS), tahun 2002, kehidupan para imam seolah ada di bawah mikroskop. Gerak-gerik dan tabiat mereka menjadi perbincangan pubik. Apakah yang salah dengan semua ini? Dan, bagaimana kita bisa memperbaiki? Para psikolog dan pemerhati kehidupan Gereja melontarkan pertanyaan dalam diskusi publik, ”Apakah imam kita bahagia dengan hidupnya?”

Menanggapi persoalan itu, Institute St Lukas untuk formasi lanjut para imam di Maryland, AS mengadakan studi lapangan tentang kehidupan psikologis dan spiritual para imam. Selama tahun 2009, sebanyak 2.482 imam Diosesan dan religius dari 23 keuskupan di Amerika Serikat berpartisipasi dalam survei tersebut.

Sekitar 8,7 % dari para imam mengakui bahwa mereka mendapat perlakuan kekerasan seksual saat berusia kurang dari 18 tahun. Mayoritas imam senior, imamat antara 20-40 tahun, mengalami trauma tersebut. Data itu meneguhkan penelitian Vanderbilt pada 1992 yang mengklaim, lebih dari 40 % pelaku kekerasan seksual adalah mereka yang pada masa kecil juga menjadi objek penindasan seksual. Kasus pelecehan seksual dan pedofilia paling banyak ditemukan pada medio 1950-1980 dan pelaku kasus itu adalah imam yang kini usia imamatnya sekitar 20-40 tahun.

Persoalan pelecehan seksual pada anak juga sudah diteliti secara komprehensif pada tahun 2004. Di wilayah Gereja Katolik Amerika Serikat terdapat 4% imam yang dituduh melakukan pelecehan seksual pada anak-anak. Sebenarnya angka 4% ini lebih kecil dibandingkan pelecehan seksual yang dilakukan para guru di sekolah yang mencapai 5%. Sedangkan di dalam Gereja Anglikan Australia, pelecehan seksual oleh para imam yang menikah berkisar antara 3% – 4,4%.

Data di atas meragukan tuduhan bahwa selibat menjadi penyebab utama pedofilia. Persoalan pelecehan seksual ternyata tak hanya ada di kalangan orang selibat. Di antara para imam Anglikan yang menikah dan para guru sekolah, persoalan pelecehan seksual lebih besar. Jadi, selibat bukan menjadi biang kasus pedofilia.

Masalah kepribadian lain seperti stres, kesepian, dan depresi karena terlalu banyak kerja juga menghantui para imam. Sekitar 49% dari para imam (1.219 orang) mengaku pernah berkonsultasi pada psikolog. Pengakuan ini sebagian besar dari imam muda. Mereka berasal dari keluarga broken home dan tak ada relasi yang harmonis dalam keluarga sejak kecil.

Di samping itu, 83 % imam tetap merasakan bahagia. Kegembiraan imamat bersumber pada apa yang ada di dalam dan mewarnai hidup imamat, bukan yang diperoleh dari luar hidup imamat. Berdasarkan pandangan ini, ada empat hal utama yang berkontribusi pada kebahagiaan hidup imamat.

Pertama, relasi yang subur dengan Allah. Perasaan dicintai Allah, berterima kasih atas anugerah imamat, serta perasaan dekat dengan Allah menjadi sumber utama kebahagian hidup panggilan.Kedua, relasi yang baik dengan uskup dan rekan imam. Kedekatan dengan teman imam membangun kedalaman hidup batin dan membantu mengatasi rasa kesendirian. Relasi yang baik dengan uskup, bisa bekerjasama, dimengerti, didengarkan, dan perasaan dimiliki keuskupan, berkontribusi besar dalam membangun dan berkarya pastoral. Ketiga, cara pandang terhadap hidup selibat. Ketika selibat dilihat sebagai rahmat, bukan beban, dan konsekuensi gerejani dari tahbisan, kegembiraan akan bertumbuh. Keyakinan bahwa Allah memanggil dan memberi rahmat selibat akan memampukan sang terpanggil menjalani imamat dengan ringan. Dan, keempat, imam yang bahagia adalah imam yang mampu membangun relasi sosial yang sehat dan mendukung secara emosional, spiritual, dan sosial.

Data studi lapangan ini amat berguna bagi para uskup, imam, dan awam yang terlibat dalam pembinaan para imam. Mereka harus menyiapkan calon imam dan mendampingi para imam agar hidup kepribadian dan spiritualnya terolah. Kalau para imam bahagia, kegembiraan imamat mereka menjadi sumber rahmat bagi umat yang ditemui.

Artikel saya ini sudah dimuat di Majalah Hidup Katolik, 12 Feb 2012 dengan judul “Imam yang bahagia.”

Tertunda

Tertunda

Bacaan: Mateus 9:18-25

Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.”   Lalu Yesuspun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya.  Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.  Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.  Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak ribut,  berkatalah Ia: “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu.

Pernahkah anda kesal karena penerbangan atau bus yang terlambat, dan tertunda, tak sesuai jadwalnya? Lalu kita hanya bisa marah dan kesal karenanya. Pasti anda tak akan marah kalau mengalami peristiwa pemuda di Malaysia ini. Seorang pemuda terlambat datang ke bandara karena mobil yang ditumpangi terlambat, ia tak jadi naik pesawat A380 yang hilang. Penundaan menyelamatkan nyawanya!

Kisah Yesus yang menyembuhkan anak kepala rumah ibadat ditulis Mateus dengan sangat bagus. Sebagai seorang kepala rumah ibadah, orang terhormat, dia mengharap Yesus segera datang ke rumahnya tanpa menunda. Apalagi anaknya hampir mati. Tapi perjalanan Yesus ke rumahnya tertunda karena ada kisah perempuan yang minta disembuhkan di jalan. Kerena terlambat datang, anak itu meninggal sebelum Yesus sampai di tempat.

Namun kisah yang tertunda ini malah memberi kisah yang menakjubkan. Yesus tidak menyembuhkan anak itu, tapi membangkitkan dari kematian. Mateus bercerita, pertama Yesus menyembuhkan seorang perempuan di tengah jalan, setelah itu, keajaibannya semakin tak tertandingi, anak pemimpin ibadat dibangkitkan dari kematian.

Dalam banyak pengalaman tertunda,  kita marah, kesal dan kecewa karena rencana yang tertunda, karier yang tak segera maju, lamaran kerja yang tak segera terjawab, nasib yang tak berubah! Namun saat kita membiarkan Tuhan bekerja, Ia akan membuat sesuatu yang luar biasa, lebih besar dari yang bisa kita bayangkan. Maka, biarlah dia bekerja, membuat keajaiban besar dalam hidup dan menjadikan kita makin percaya pada Nya.

Translate »