Presiden dalam mimpi saya
Sedikit renungan bagi para pembaca yang dikirim dari Katedral Semarang Indonesia, menjelang pemilu RI tanggal 9 Juli 2014
http://www.katedralsemarang.or.id/index.php/berkat-katedral-semarang/233-presiden-dalam-mimpi-saya
Sedikit renungan bagi para pembaca yang dikirim dari Katedral Semarang Indonesia, menjelang pemilu RI tanggal 9 Juli 2014
http://www.katedralsemarang.or.id/index.php/berkat-katedral-semarang/233-presiden-dalam-mimpi-saya
Matius 9:14-17
Mungkin sulit bagi kita di jaman ini membayangkan minum anggur dari kantong kulit. Semua anggur yang kita dapati di toko pasti dikemas di botol atau kadang di kotak karton. Kantong anggur yang terbuat dari kulit, kalau sudah lama dan kering akan jadi mudah pecah jika diisi anggur lagi.
Yesus memberi perumpamaan tentang anggur dan kantong kulit ketika menjawab pertanyaan kenapa murid-muridnya tidak berpuasa seperti orang Farisi dan murid-murid Yohanes Pembaptis. Kalau Yesus mengumpamakan kedatangannya seperti anggur yang baru, maka mereka yang siap menyambutnya pun juga harus seperti kantong kulit baru yang siap menampung anggur itu. Pikiran dan hati mereka harus terbuka untuk menerima Yesus. Jika mereka masih memakai pengertian lama, ajaran Yesus tidak akan ada yang mereka percayai dan justru akan terjadi konflik dalam batin. Orang Farisi, contohnya, merasa ajaran Yesus melawan hukum Taurat. Padahal, Yesus menghormati betul hukum Taurat dengan menerapkan langsung inti dari hukum itu.
Orang bilang semakin kita tua semakin kita susah berubah. Kita merasa sudah capek mengarungi samudra kehidupan sehingga sekarang tinggal istirahat dan tidak perlu berpikir terlalu banyak untuk menghadapi hal-hal baru. Mungkin ini benar adanya untuk banyak hal dalam hidup. Tetapi semoga tidak demikian dalam kehidupan iman kita. Roh Kudus selalu bekerja dan tidak tinggal diam. Kita harus bisa peka merasakan gerakan Roh Allah yang mengundang kita untuk memperbarui diri setiap saat. Dengan demikian kita selalu menjadi kantong kulit baru yang siap menerima anggur baru Tuhan yang dilimpahkan bagi kita terus menerus.
“To live is to change, and to be perfect is to change often.” -Blessed John Henry Cardinal Newman

Matius 9:9-13
Dalam salah satu wawancaranya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa semasa dia bersekolah di Roma dulu, dia sering mengunjungi gereja San Luigi dei Francesi karena begitu terkesan dengan lukisan karya Caravaggio ini yang menggambarkan Yesus memanggil Matius untuk menjadi rasulnya. Figur Yesus jelas terlihat di paling kanan, menunjuk pada Matius. Figur Matius masih menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan Matius adalah orang berjenggot yang menunjuk pada dirinya sendiri, seakan bertanya, “Apakah saya yang Tuhan maksud?” Tetapi ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa Matius adalah orang muda yang menunduk. Paus Fransiskus sendiri dalam perenungannya di depan lukisan ini juga berasumsi sesuai pendapat kedua.
Sikap tubuh Matius yang memeluk uangnya seakan-akan menunjukkan keraguannya untuk menjawab panggilan Yesus. Sebagai pemungut cukai, hidupnya tentu lebih terjamin dibanding berjalan-jalan dengan Yesus dari kota ke kota. Dia menunduk seperti pura-pura tidak melihat panggilan Yesus. Pria berjenggot di sebelahnya menunjuk ke Matius dengan ekspresi muka seperti tidak percaya. Sama seperti orang Farisi dalam bacaan hari ini yang bertanya pada murid Yesus kenapa seorang pemungut cukai penuh dosa seperti Matius bisa diajak mengikuti Yesus. Yesus menjawab bahwa ia datang bukan memanggil orang yang sudah merasa benar, tapi mereka yang berdosa. Dia tidak mengkehendaki korban sembahan tetapi belas kasihan. Paus Fransiskus sendiri dalam renungan-renungannya selalu menyebut pentingnya “mercy” atau belas kasihan. Ia bahkan berkata bahwa ketika dipilih menjadi Paus, dia merasa seperti Matius yang berdosa dan tidak layak. Tapi akhirnya dia percaya pada kerahiman atau belas kasihan Kristus yang tidak ada batasnya.
Siapakah kita? Apakah kita seperti orang Farisi yang merasa sudah “layak dan sepantasnya” untuk dipilih Tuhan menjadi pengikutNya? Ataukah kita seperti Matius, merasa tidak layak dan masih penuh dosa, tapi percaya bahwa kasih dan kerahiman Tuhan akan selalu menyertai kita dalam perjalanan mengikuti Kristus?
Hari Pesta St. Thomas Rasul
Yohanes 20:24-29
Waktu saya kecil dulu, Mami saya selalu mewanta-wanti saya dan adik saya supaya hati-hati jika membuka pintu rumah. Kalau orang yang datang itu mengaku petugas PLN, harus dicek kartu pengenalnya. Demikian juga kalau mereka mau service sesuatu di rumah, harus ada dokumen yang menunjukkan kalau mereka benar-benar dikirim oleh perusahaan yang kita sudah hubungi sebelumnya. Intinya, jangan asal percaya, harus dicek kredibilitasnya. Kalau ada yang tidak klop, pintu jangan dibuka dan tetap dikunci dari dalam.
Mungkin seperti ini jugalah keadaah hati para murid Yesus malam itu. Pintu harus dikunci. Yesus sudah disalib dan bukan tidak mungkin para pengikutnya akan mendapat giliran untuk ditangkap dan disalib juga. Mereka tidak bisa lagi asal percaya orang lain, jangan-jangan akan ada pengkhianat juga seperti Yudas. Demikian juga Thomas, yang tidak ada di tempat ketika Yesus pertama kali menampakkan diri, menyangsikan kehadiran Yesus. Hanya jika dia sudah bisa memastikan sendiri kredibilitas Yesus, barulah dia akan percaya.
Kadang situasi hidup kita tidak jauh berbeda. Mungkin karena suatu peristiwa yang menyakitkan dengan orang lain, kita menutup pintu hati kita terhadap kasih dan pengampunan. Hati kita menjadi keras dan dingin, suatu reaksi yang manusiawi untuk melindungi diri terhadap kemungkinan akan disakiti lagi. Kita pun juga bisa seperti Thomas, menawar dengan Tuhan: “Kalau saya sembuh baru saya percaya,” atau “Kalau ada mujizat baru saya percaya.”
Di saat pintu hati kita tertutup rapat dan terkunci, di mana kita kehilangan semua harapan, Tuhan selalu berkuasa untuk menunjukkan kehadirannya. Tidak ada yang bisa menghalangi kasihNya, bahkan kematian sekalipun. Seringkali Dia menunjukkan kehadiranNya dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan atau kita duga sebelumnya. Kasih Tuhan mampu menembus segala macam halangan dan membawa kita ke dalam perseketuan kasih abadi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Amos 5:14-15, 21-24 "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." Nabi Amos menubuatkan sabda Tuhan pada umat Israel, sebuah nubuat yang sangat keras. Amos mengatakan bahwa Tuhan membenci ritual-ritual keagamaan bangsa Israel. Dia tidak mau melihat korban bakaran dan tidak mau mendengar nyanyian mereka. Sebagai umat Katolik, kita pun banyak mewarisi ritual nenek moyang iman kita bangsa Israel. Kita bangga mempunyai sakramen-sakramen dan tatacara perayaan Ekaristi yang begitu agung, khidmat, dan penuh misteri. Ada sesuatu yang kita rasakan yang tidak bisa kita jelaskan pada saat kita mengikuti ritual misa yang begitu khusuk. Hati kita berkobar-kobar ketika kita menyanyi dengan sepenuh hati dan suara sekeras mungkin memuji Tuhan. Amos tidak mengatakan bahwa ritual dan pujian adalah tidak baik. Dia mengkritisi bangsa Israel yang sudah memisahkan ritual agama dengan melakukan perbuatan baik bagi sesama. Yesus pun ketika ditanya tentang apa perintah paling penting mengatakan bahwa kedua-duanya harus ada: Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia. Ritual atau doa tanpa ada tindakan adalah percuma. Contoh yang paling sering kita dengar adalah umat yang setelah misa malah berebut keluar dari tempat parkir. Atau sepasang suami istri yang rajin ke gereja bahkan misa harian tapi di rumah melakukan kekerasan rumah tangga terhadap pasangannya. Di sini Amos mengingatkan bahwa Tuhan akan bertindak. Keadilan Tuhan akan datang bergulung dan kebenaranNya mengalir seperti sungai. Simbol ini tidak menggambarkan air yang mengalir perlahan, tapi tenaga air yang deras. Amos menggambarkan Tuhan yang sedang marah akan ketidakadilan yang dilihatNya. Dan dia akan membuat semuanya adil kembali dengan kebenaraNya. Sudahkah kita melakukan hal-hal untuk menegakkan kebenaran dan keadilan? Atau apakah kita hanya berfokus pada doa dan misa sehingga kita melupakan tindakan-tindakan nyata untuk membantu sesama kita?