Amos 5:14-15, 21-24
"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada
perkumpulan rayamu.
Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran
dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu
berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang.
Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu
tidak mau Aku dengar.
Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran
seperti sungai yang selalu mengalir."
Nabi Amos menubuatkan sabda Tuhan pada umat Israel, sebuah nubuat yang
sangat keras. Amos mengatakan bahwa Tuhan membenci ritual-ritual
keagamaan bangsa Israel. Dia tidak mau melihat korban bakaran dan
tidak mau mendengar nyanyian mereka.
Sebagai umat Katolik, kita pun banyak mewarisi ritual nenek moyang
iman kita bangsa Israel. Kita bangga mempunyai sakramen-sakramen dan
tatacara perayaan Ekaristi yang begitu agung, khidmat, dan penuh
misteri. Ada sesuatu yang kita rasakan yang tidak bisa kita jelaskan
pada saat kita mengikuti ritual misa yang begitu khusuk. Hati kita
berkobar-kobar ketika kita menyanyi dengan sepenuh hati dan suara
sekeras mungkin memuji Tuhan.
Amos tidak mengatakan bahwa ritual dan pujian adalah tidak baik. Dia
mengkritisi bangsa Israel yang sudah memisahkan ritual agama dengan
melakukan perbuatan baik bagi sesama. Yesus pun ketika ditanya tentang
apa perintah paling penting mengatakan bahwa kedua-duanya harus ada:
Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia. Ritual atau
doa tanpa ada tindakan adalah percuma. Contoh yang paling sering kita
dengar adalah umat yang setelah misa malah berebut keluar dari tempat
parkir. Atau sepasang suami istri yang rajin ke gereja bahkan misa
harian tapi di rumah melakukan kekerasan rumah tangga terhadap
pasangannya.
Di sini Amos mengingatkan bahwa Tuhan akan bertindak. Keadilan Tuhan
akan datang bergulung dan kebenaranNya mengalir seperti sungai. Simbol
ini tidak menggambarkan air yang mengalir perlahan, tapi tenaga air
yang deras. Amos menggambarkan Tuhan yang sedang marah akan
ketidakadilan yang dilihatNya. Dan dia akan membuat semuanya adil
kembali dengan kebenaraNya.
Sudahkah kita melakukan hal-hal untuk menegakkan kebenaran dan
keadilan? Atau apakah kita hanya berfokus pada doa dan misa sehingga
kita melupakan tindakan-tindakan nyata untuk membantu sesama kita?