Anugerah paling berharga


Hari Raya Santo Fransiskus dari Assisi
Sirakh 50:1, 3-4, 6-7
Galatia 6:14-18
Matius 11:25-30

Hari ini hari yang sangat istimewa bagi para Fransiskan di seluruh dunia. Karena itu perkenankanlah saya berbagi bacaan yang dipakai khusus untuk hari raya ini, terutama di semua komunitas dan gereja yang diasuh para Fransiskan.
Selama seminggu ini saya membagikan renungan di Lubukhati, kata-kata “kecil” atau “anak” selalu saja muncul, mulai dari St. Theresa Kanak-kanak Yesus, malaikat pelindung yang menyertai kita yang kecil, sampai perendahan diri. Hari ini di dalam Injil, Yesus berdoa pada BapaNya, berterimakasih karena Sang Bapa telah menyatakan misteri ilahi kepada orang kecil. Bahasa asli Injil yaitu Yunani menggunakan kata “nepios” yang sebenarnya berarti anak kecil tetapi dipakai untuk menggambarkan orang yang kurang pintar atau “kekanak-kanakan”.
Santo Fransiskus hidup di Assisi, Italia, pada sekitar abad ketigabelas. Tidak pernah terbersit di pikirannya untuk membentuk suatu ordo dengan ribuan pengikut seperti sekarang ini. Malahan, dia menamakan kelompok kecilnya “minores” atau yang kita terjemahkan menjadi “saudara dina”. Di Assisi pada waktu itu ada dua kelompok, “majores” yang terdiri dari para bangsawan dan “minores”. Kelompok “majores” sangat kaya secara turun temurun, mereka menguasai banyak tanah dan memperkerjakan banyak orang. Hanya mereka yang bisa memberi anak-anaknya pendidikan tinggi. Para “minores” sangat bergantung pada “majores”. Mungkin istilah yang kurang lebih sama dalam bahasa Indonesia adalah “wong cilik”.
Fransiskus menamakan kelompoknya saudara “minores” karena dia menginginkan mereka merendahkan diri, untuk melayani sesama dan bukan untuk memerintah. Bagi Fransiskus, ini adalah cara pertobatan. Dia sadar betapa kecilnya manusia di hadapan kebesaran Tuhan. Dia menyebut kelompoknya “saudara” karena dia dapat melihat bagaimana kita semua adalah saudara karena kita semua, termasuk binatang dan tumbuhan dan makhluk tak hidup seperti air dan angin, adalah ciptaan Tuhan. Karena itu para saudara dina atau saudara “kecil” hidup di dunia ini untuk membangun persaudaraan dengan semuanya dan dengan semangat melayani. Seperti St. Paulus dalam bacaan kedua, tidak ada yang bisa kita sombongkan selain Salib Kristus. Semasa hidupnya, Fransiskus selalu menyatakan kecintaannya pada Yesus yang disalibkan, sehingga menjelang akhir hayatnya dia pun mendapat rahmat untuk berbagi sengsara Yesus dan menerima stigmata, atau luka-luka Yesus di salib.
Kalau kita melihat bacaan-bacaan selama seminggu ini, sepertinya Tuhan senantiasa memanggil kita untuk merendah, untuk menjadi seperti anak kecil. St. Fransiskus memberi kita sebuah teladan untuk berbuat demikian, untuk mencari jalan-jalan yang kecil tapi penuh dengan kecintaan pada Tuhan, untuk selalu melayani orang lain dan tidak menganggap diri lebih penting atau lebih tinggi dari orang lain. Tidak heran kalau doa yang terkenal ini, walaupun tidak ditulis sendiri oleh Fransiskus tapi dihubungkan dengan namanya:
Ya Tuhan Allah,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.
Semoga semangat kerendahan hati St. Fransiskus menyusupi kita semua dan semua umat manusia di dunia ini.
Ayub 38:1, 12-21; 40:3-5
Mazmur 139:1-14
Lukas 10:13-16
Sejalan dengan tema merendahkan diri dalam Injil kemarin, hari ini Yesus memberi peringatan kepada orang-orang di kota-kota yang merasa suci, benar, atau hebat. Korazim dan Betsaida terletak di Galilea, pusat Yesus mengajar. Menurut Injil Yohanes, beberapa dari 12 rasul Yesus berasal dari Betsaida. Bukan tidak mungkin juga di Korazim dan Betsaida Yesus banyak mengajar dan membuat mujizat. Demikian juga Kapernaum, tempat Yesus membuat banyak mujizat seperti membangkitkan orang mati, memulihkan orang yang kerasukan setan, menyembuhkan ibu mertua Petrus, dan lainnya.
Tetapi Yesus menyatakan bahwa mereka akan celaka. Kalau kita umpamakan dalam hidup kita sekarang, mungkin efeknya akan sama kalau kita mendengar Yesus berkata, “Celakalah Vatikan,” atau “Celakalah Sendangsono.” Tempat yang kita anggap suci, yang banyak terjadi mujizat, malahan dikecam.
Yang dipermasalahkan oleh Yesus adalah kesombongan dari warga di kota-kota ini. Karena merasa seperti umat terpilih, mereka merasa hidup mereka sudah paling benar dan tidak memerlukan pertobatan. Karena itu Yesus membuat perbandingan dengan kota Tirus dan Sidon, dua kota yang terletak di tepi laut Mediterania, sangat jauh dari Galilea. Tidak pernah disebutkan Yesus pernah datang mengajar atau membuat mujizat di sana. Maka Dia mengatakan, seandainya Dia datang di sana seperti Dia datang di Korazim, Betsaida, atau Kapernaum, orang-orang Tirus dan Sidon pasti sudah bertobat.
Mungkin orang-orang di Korazim, Betsaida, atau Kapernaum merasa tidak perlu bertobat karena toh Yesus ada di tengah-tengah mereka. Kalau ada yang sakit atau kerasukan setan atau masalah lainnya, mereka tinggal memanggil Dia. Mereka mungkin mendengar dia mengajar berulang kali sampai merasa tidak tersentuh lagi dengan pesan-pesanNya.
Apakah kita orang Kapernaum yang baru? Apa kita karena sudah dibaptis atau sudah melakukan sakramen tobat atau berdoa menyerahkan diri sekarang merasa hidup kita sudah benar? Apa kita merasa sudah hafal isi Alkitab sehingga kata-kata di dalamnya tidak memberi inspirasi bagi hidup kita?
Pertobatan dalam bahasa Yunani yang digunakan di Injil adalah “metanoia” yang artinya perubahan pikiran atau pengertian. Pertobatan bukan peristiwa yang terjadi satu kali dalam hidup kita, tetapi sesuatu yang kita dipanggil oleh Tuhan untuk dilakukan setiap hari. Roh Kudus selalu bekerja memperbaharui muka bumi, termasuk kita semua. Semoga kita peka akan gerakan Roh Kudus, akan panggilan Tuhan yang baru setiap hari supaya kita memperbaharui pikiran kita untuk semakin dekat denganNya dan memahami kehendakNya.

Hari Raya Peringatan Malaikat Pelindung
Ayub 19:21-27
Mazmur 27:7-9, 13-14
Matius 18:1-5, 10
Beberapa dari anda mungkin mempunyai anak, dan saya yakin anda semua pasti pernah merasakan menjadi anak kecil. Seorang anak kecil sangat tergantung pada orang lain, biasanya orang yang lebih tua. Jika dia di dalam rumah, harus ada yang menjaga. Kalau dia mau keluar rumah, harus ada yang mengantar atau menyertai. Alasannya, seorang anak kecil mudah tertimpa bahaya. Dia sangat membutuhkan orang lain untuk melindunginya.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengatakan bahwa yang terbesar di Kerajaan Surga adalah mereka yang menjadi seperti seorang anak, yang merendahkan dirinya seperti anak itu. Kata “merendahkan dirinya” di sini adalah sama dengan yang kita dapati di bacaan kedua dari Surat Paulus kepada Umat di Filipi minggu kemarin: Yesus yang setara dengan Allah merendahkan dirinya dan taat sampai mati di salib.
Merendahkan diri, dengan demikian, merupakan sesuatu yang tidak mudah, bahkan berbahaya. Yesus merendahkan diri dan akibatnya dia mati di kayu salib. Jika kita mengikuti Dia, banyak tantangan dan bahaya yang akan kita hadapi. Kita hidup di dunia yang memuja kekuatan dan kekuasaan. Orang yang lemah akan mudah ditindas dan digunakan untuk kepentingan yang kuat.
Yesus sadar akan hal itu dan di ayat-ayat selanjutnya dalam Injil ini memberi peringatan keras bagi mereka yang mencelakakan atau menyesatkan mereka yang merendah seperti seorang anak. Dia pun menjanjikan bahwa akan ada malaikat pelindung yang berhubungan langsung dengan Allah. Jika kita menjadi seperti anak, kita tidak akan sendirian karena malaikat pelindung akan senantiasa menyertai kita.
Malaikat pelindung yang kudus, engkaulah pengawal dan pemimpin kami.
Dalam pemeliharaanNya yang penuh kasih kepada kami, Allah telah mengutus engkau untuk melayani kami yang akan menjadi ahliwaris surga.
Kami mohon kepadamu : Dampingilah kami dalam segala pekerjaan kami, lindungilah kami dalam mara bahaya, beranikanlah kami dalam perjuangan dan pimpinlah kami menuju kemenangan jaya.
Bersama dikau dan semua malaikat kami hendak meluhurkan Allah, karena untuk itulah kami dan dikau diciptakan olehNya. Terpujilah Allah kini dan sepanjang masa. Amin
(disadur dari Madah Bakti)

Hari Raya Peringatan Santa Theresa Kanak-kanak Yesus (dari Lisieux)
Ayub 9:1-12,14,16
Mazmur 88:10-15
Lukas 9:57-62
Saya harus berterima kasih pada Herman Therapiawan yang menulis komentar pada renungan kemarin. Dia menemukan suatu pepatah: “Lakukanlah yang perlu, kemudian lakukanlah yang bisa/yang mungkin, tahu-tahu anda dapatkan diri anda melakukan hal yang ‘mustahil.'” Pepatah ini tepat sekali untuk menggambarkan spiritualitas dari Santa Theresa yang kita rayakan hari ini.
Sejak dari kecil, Theresa mempunyai hasrat yang begitu kuat untuk masuk ke biara suster-suster Karmel. Suatu waktu ketika bertemu Paus Leo XIII dia meminta diijinkan masuk biara sebelum umur minimum, yaitu 16 tahun. Akhirnya uskup di daerah itu memberi Theresa dispensasi khusus dan ia masuk ke biara Karmel pada umur 15 tahun. Theresa hanya hidup sampai umur 24 tahun. Dalam 9 tahunnya di biara, dia tidak berbuat sesuatu yang sensasional. Tetapi justru di kesederhanaan dan kerendahan hatinya inilah letak kesucian Theresa. Dia menulis sebuah autobiografi spiritual yang isinya penuh dengan ekspresi cinta yang mendalam pada Yesus. Theresa mengatakan bahwa dia hanyalah seorang biarawati kecil yang melakukan hal-hal yang kecil semata-mata sebagai ungkapan cinta pada Yesus. Ia hanyalah “bunga kecil” (little flower) di dalam taman Tuhan.
Theresa wafat karena tuberkulosis pada tahun 1897. Sebagai seorang santa pada jaman modern, dia menjadi sangat populer sampai saat ini. Tetapi kepopuleran Theresa bisa jadi terlebih karena dia menunjukkan pada kita bahwa hidup dalam kekudusan tidaklah harus muluk-muluk. Hal-hal kecil yang kita kerjakan setiap hari bisa kita anggap sebagai persembahan bagi Tuhan. Yang paling penting adalah bagaimana kita pertama bisa jatuh cinta pada Yesus dan berhasrat melakukan semuanya demi cinta ini.
Dalam Injil hari ini, ketenaran Yesus membuat beberapa orang ingin menjadi pengikutnya. Kita tidak tahu apakah motivasi mereka karena kepentingan diri sendiri atau benar-benar karena cinta dan percaya pada Yesus. Tetapi Yesus mengingatkan mereka bahwa untuk menjadi pengikutnya bukanlah hal yang mudah. Dia tidak punya tempat tinggal tetap, dan mereka harus meninggalkan apa yang mereka punya. Tidak ada tempat bagi mereka yang masih melihat ke belakang, ke masa lalu. Menjadi pengikut Yesus berarti mencurahkan segenap perhatian, pikiran, jiwa dan raga kita untukNya. Hanya seorang yang jatuh cinta pada Yesus, seperti Theresa, yang bisa dengan rela meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus.
Masih adakah hal-hal yang menghalangi kita untuk mengikuti Yesus dengan sepenuhnya, sesuai dengan peran kita masing-masing yang khusus di dunia? Atau apakah kita menolak untuk melayani untuk Tuhan dengan alasan apa yang kita lakukan tidak ada artinya? Semoga teladan St. Theresa membantu mengingatkan kita untuk memberi segalanya bagi Tuhan, bahkan dari hal terkecil sekalipun. Mari kita berdoa bersama dengan St. Theresa doa yang dikarangnya sendiri:
Ya Tuhan, aku mempersembahkan semua perbuatanku hari ini,
untuk permohonan dan kemuliaan Hati Kudus Yesus;
Aku mau mengkuduskan degup jantungku, pikiranku,
dan perbuatanku yang paling sederhana
dengan menyatukan semua itu dengan anugerahNya yang tak terbatas,
untuk menghapus dosa-dosaku dengan melemparkannya ke api cinta kasihNya.
Ya Allahku, aku berdoa padaMu untuk aku sendiri dan semua orang yang kukasihi,
supaya mendapat rahmat untuk menjalankan kehendakMu dengan sempurna,
untuk menerima semua sukacita dan penderitaan perjalanan hidup ini demi kasihMu,
supaya suatu hari nanti aku bisa bersatu denganMu di surga untuk selamanya.