Browsed by
Month: November 2014

Penganiayaan

Penganiayaan

world_persecution

Bacaan I : Wahyu 15:1-4
Bacaan Injil : Lukas 21:12-19

Dalam wawancara dengan majalah berbahasa Spanyol “La Vanguardia” tengah tahun ini, Paus Fransiskus menyatakan keprihatinannya yang mendalam tentang penganiayaan terhadap orang-orang Kristiani saat ini, yang dinyatakannya “lebih dalam daripada masa abad-abad pertama Gereja”. Ia menandaskan bahwa saat ini lebih banyak martir Kristiani dibanding periode tersebut, karena jumlah umat yang juga jauh lebih besar.

Beliau juga menyatakan masalah ini agak peka untuk dibicarakan terbuka. Meski demikian beliau lalu menunjuk adanya larangan di beberapa tempat untuk memiliki Alkitab, mengajarkan agama atau sekedar memakai kalung salib. Pada kesempatan lain, Paus juga menyatakan kebebasan beragama sebagai hak asasi manusia harus dilihat melampaui sekedar soal peribadatan pribadi. Kebebasan ini juga mencakup kebebasan untuk hidup seturut prinsip-prinsip etika dan moral sebagai konsekuensi kebenaran yang dihayati, baik yang bersifat pribadi maupun publik. Persoalannya, mereka yang membela kebenaran tentang harkat kemanusiaan dan konsekuensi-konsekuensi etiknya bisa juga mengalami penganiayaan.

Bacaan Injil hari ini menyinggung tentang penderitaan anggota Gereja yang dianiaya karena iman mereka. Penghiburan diberikanNya pula dalam nasehat: mereka yang bertahan akan mendapatkan keselamatan. Janji penyertaan juga diberikan saat Ia menyatakan bahwa Ia akan memberikan anugerah kebijaksaan dan kata-kata pernuh hikmat pada waktunya. Di sisi lain, dukungan selalu diperlukan dari saudara-saudari lain, karena kita juga menghayati keberadaan kita sebagai satu tubuh. Karenanya Paus Fransiskus tak segan menulis ke PBB menyatakan keprihatinannya atas nasib umat Kristiani dan kaum minoritas lain di Irak Utara yang dikuasai ISIS. Karenanya Paus juga mengundang kita untuk terus berdoa bagi saudara-saudari kita yang teraniaya. Sambil mensyukuri perubahan yang mulai nampak terjadi di Indonesia yang menurut lembaga “Open door” tahun lalu menduduki rangking 47 dunia dalam hal penganiayaan Gereja, mari kita tundukkan kepala dan berdoa bagi saudara-saudari kita yang menderita terutama di Irak, Syria, Somalia, Nigeria, dan di Indonesia.

Kiamat

Kiamat

judgementday

Bacaan I : Wahyu 14:14-19
Bacaan Injil : Lukas 21:5-11

Beberapa tahun lalu saat saya masih bekerja sebagai pastor rekan di paroki St Anna Duren Sawit Jakarta Timur, suatu siang sehabis misa seorang Ibu mendekati saya dan minta waktu bicara. “Penting sekali Romo!” Tatap matanya memelas menyiratkan jiwa letih didera kekawatiran entah apa. Sesaat kemudian, saat kami duduk di ruang tamu pastoran, dia mengajukan pertanyaan dengan nada serius, lebih serius dari para dosen penguji saya saat studi Filsafat maupun Teologi, “Romo tahu rapture?” Rapture? Dalam benak saya muncul bayangan film monster yang pernah saya tonton di televisi. Samar-samar arti katanya muncul dalam benak saya, “direnggut dan diseret-seret” sambil membayangkan binatang serupa buaya atau komodo yang menyerang suatu kota. Tapi saya merasa lebih baik dianggap nggak tahu dari pada sok tahu, kalau-kalau jawaban saya salah. Saya katakan pada si Ibu, “Saya tidak tahu Ibu, apa yah?”

Dengan serius Sang Ibu berbisik ketakutan, “Romo, rapture itu kiamat. Sudah dekat Romo. Romo ingat tidak dalam alkitab dikatakan bahwa saat kiamat nanti kalau ada dua orang sedang tidur, tahu-tahu yang satu hilang. Ada dua wanita sedang menggerinda, tahu-tahu yang satu lenyap (sang Ibu mengacu pada Lukas 17:34-37). Nah, itu namanya rapture, Romo. Dan waktunya sudah dekat!” “Ibu tahu dari mana?” “Belum lama saya datang ke persekutuan doa Kristen Protestan Romo, dan mereka membahas soal rapture. Saya dikasih bukunya juga, malah ada filemnya segala. Judulnya kalau nggak salah ‘Left Behind’. Jadi ngeri sendiri, Romo, sejak pertemuan itu saya susah tidur. Adegan-adegan film itu membayang terus!”

Saya tertegun sejenak. Rupanya benar pikiran saya. Sang Ibu ketakutan karena monster. Karena Tuhan yang dijadikan monster. Saya tahu hal seperti ini bukan hal yang baru, tetapi itu menjadi pengalaman pertama saya sebagai imam baru menghadapi umat yang iman-harapan dan kasihnya dilemahkan oleh ajaran sesat yang mencampuradukkan iman sejati dengan fantasi. Saya mengingatkan Sang Ibu dengan sabda Tuhan yang menyatakan bahwa benar Tuhan besabda “waktunya sudah dekat”, tapi itu 2000 tahun lalu. Dan benar bahwa saat itu umat Kristen perdana juga merasa akhir jaman akan segera tiba. Tetapi ternyata mereka salah. Dan dalam sejarah, kesalahan yang sama terus diulang oleh mereka yang merasa mendapatkan wahyu hingga mengklaim bahkan mereka tahu persis kapan hari terakhir tiba berdasar aneka perhitungan. Padahal Tuhan Yesus sendiri bersabda, tentang hari itu malaikat di surga tidak tahu, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja (Markus 13:32). Sikap yang tepat ya terus berjaga-jaga, dengan setia menjalankan hidup sebagai murid-muridnya yang baik, tetapi tidak perlu menjadi tegang dan mati sebelum waktunya.

“Tetapi kan benar sekarang banyak perang, Romo. Lalu bencana alam, kelaparan, kan itu persis yang dikatakan kitab suci sebagai tanda akan datangnya kiamat?” Dengan sabar saya jabarkan pada Sang Ibu pelajaran kitab suci pertama saya di Novisiat. Masih ingat saya, Romo Ben Velsen yang mengingatkan bahwa dari dulu semua itu terjadi, hanya sekarang dengan kemajuan teknologi dan informasi, kita jadi tahu lebih banyak dan lebih cepat yang terjadi di belahan bumi lain. Bukan berarti bencana dan perang lebih sering terjadi. Lalu saya ceritakan juga contoh-contoh kelompok yang berkali gagal meramal akhir jaman , tetapi herannya masih bertahan hidup dan diminati orang, seperti kelompok saksi Yehova yang tak jarang mengganggu orang Kristen lain, termasuk ibunda saya yang Katolik saleh, taat dan devotif sekali.

Perbincangan itu tidak menghapuskan tuntas kecemasan sang Ibu, meski dia menjadi jauh lebih tenang. Sebelum pulang dia berpesan, “Romo, besok saya bawa buku dan DVD saya, saya titip Romo yah. Romo saja yang bawa, mau dilihat boleh mau dibuang silahkan. Kalau saya terus membawa buku dan DVD itu, hati saya tidak tenang”. “Iya, saya terima besok. Terima kasih Ibu sudah sharing. Tolong kalau Ibu tahu ada teman-teman umat Katolik lain yang punya masalah sama, bisa disarankan ketemu saya atau Romo Sudri atau Romo Dibyo.”

Sepeninggalan Sang Ibu saya terpekur dalam doa. Tuhan, mengapa Engkau biarkan ada orang-orang menggunakan namaMu dan mencemarkanNya dengan menyebarkan bukannya kabar gembira kebenaran dan kehidupan tetapi malah kabar mencekam kesesatan dan keputusasaan kematian? Salah kami juga. Mungkin kami manusia lebih menyukai hiruk pikuk sensasi dan takut menghadapi kesederhanaan dan hidup yang biasa-biasa saja. Mungkin kami terus mewarisi kerinduan Adam untuk mendapatkan dan menunjukkan pengetahuan yang lebih dari Yang Maha Tahu. Mungkin kebenaran tak lagi penting dibanding kekuasaan atas harta dan jiwa-jiwa orang lain yang mudah ditaklukkan dan dikendalikan lewat kecemasan dan ketakutan. Mungkin karena Engkau menghendaki setiap kami yang perih hati bangkit dan lebih giat mewartakan ajaran yang benar juga pada saudara-saudari seiman kami sendiri!

Murah Hati

Murah Hati

altruism
Bacaan I : Wahyu 14:1-5
Bacaan Injil : Lukas 21: 1-4

Pujangga besar Lebanon Khahlil Gibran mengatakan, kemurahan hati adalah memberi lebih dari yang dapat engkau berikan, dan kesombongan hati adalah mengambil kurang dari yang engkau perlukan. Sungguh benar bukan? Kemurahan hati sebetulnya sangat mahal karena sedikit orang bisa mencapainya setiap saat. Ironisnya, tak jarang makin miskin seseorang makin bebas dan murah hati ia dalam membagikan yang dimilikinya. Sebaliknya, makin kaya seseorang, makin gelisah hidupnya dan lekat ia pada harta bendanya.

Seorang Uskup di Indonesia dalam forum retret nasional para imam bercerita, suatu hari seorang umat menatap dengan takjub rosario indah yang dimiliki Bapa Uskup. Tidak berhenti di sana, ia memberanikan diri meminta rosario itu dari Bapa Uskup! Persoalannya, rosario itu bukan saja indah, tetapi punya sejarah pribadi yang penting hingga dengan halus Bapa Uskup menolak melepaskannya.

Tetapi cerita tidak berhenti di sana. Sesaat kemudian, batin Bapa Uskup menjadi tidak tenang. Ia merasa gelisah karena suara hatinya menggugat ketidakmampuannya untuk lepas bebas terhadap rosarionya itu. Kelekatannya entah pada Rosario sebagai benda maupun “nilai sejarah” membuatnya tak mampu mengambil keputusan secara bijak dan seimbang. Ia menyadari, rasa ingin tetap memiliki benda dan kenangan itu menjadikannya terpenjara dan tidak bebas. Alih-alih menjadi pemilik Rosarionya, ia “dimiliki” oleh Rosario dan kenangannya tersebut. Padahal rosario itu mungkin jauh lebih bermanfaat dan berarti bagi sang umat.

Sadar akan “kekeringan rohani’ yang dideritanya karena sikapnya, ia memutuskan akan memberikan rosario itu pada siapa pun yang nampak tertarik dan mungkin ingin memilikinya, karena ia tak dapat lagi melacak orang yang pertama kali memintanya. Singkat cerita, suatu hari rosario itu pun berpindah pemilik, dan Bapa Uskup yang belajar dari pengalaman itu menjadi makin waspada akan gerak hati yang membawa pada kelekatan yang tak teratur. Ia menjadi lebih murah hati, rendah hati, dan makin melayani dan mencintai. Dan dengan murah hati dan rendah hati, ia berbagi pengalaman rohaninya pada para imamnya, agar mereka pun menjadi imam-imam yang murah hati, sebagaimana layaknya seorang imam dari Sang Gembala Agung yang murah hati.

Tidak mudah mengikuti jejak 144.000 orang yang mendapat kehormatan berdiri di hadapan Anak Domba di bukit Sion dalam kitab Wahyu, karena mereka digambarkan sebagai “tidak bercela”. Tidak mudah juga mencontoh janda miskin dalam Injil hari ini, yang memberi dari kekurangannya, memberi lebih dari yang sesungguhnya dapat ia berikan. Dalam ungkapan lain dari Bunda Teresa, “Love until it hurts. Real love is always painful and hurts; then it is real and pure.” Rasa sakit kehilangan menjadi penanda kemurahan hati dan pemurnian diri. Tentu, adalah juga benar bahwa manakala kemurahan hati sudah menjadi kebiasaan, rasa sakit itu bisa jadi “hilang”, karena Bunda Teresa juga menyampaikan paradox, “ if you love until it hurts, there can be no more hurt, only more love.”

Hari ini kita merayakan kemurahan hati St Andreas Dung Lac dan kawan-kawan, 177 orang kudus martir Vietnam yang memberikan seluruh hidupnya, wafat menjadi saksi kecintaan pada imannya, bersama 130.000 martir Kristiani yang lain dari abad 17 sampai 19 di Vietnam. Biji yang jatuh ke tanah itu berbuah banyak. Kini Vietnam memiliki anggota Gereja Katolik terbesar ke lima di Asia, setelah Filipina, India, Tiongkok dan Indonesia, sekitar 6 juta orang, 10% dari penduduk di Vietnam. Para migran Katolik asal Vietnam juga menjadi darah segar bagi banyak Gereja di negara Barat seperti Amerika dan Australia. Dengan perantaraan para martir itu –termasuk Joseph Tuc, bocah berusia 9 tahun- mari kita mohon rahmat kemurahan hati, tanda bakti pada Kristus Raja Abadi yang lebih dulu melimpahkan cinta tak habis-habisnya dengan murah hati pada kita semua.

Translate »