Browsed by
Month: November 2014

Renungan Sabtu 15 November 2014.

Renungan Sabtu 15 November 2014.

 

Luk. 18:1-8

Injil hari ini mengajak kita untuk menyelami betapa Allah Bapa kita mencintai kita dengan caraNya yang unik yakni seakan-akan menuntut kita bersikap terus memohon dengan berdoa sekalipun kita menghadapi berbagai macam kesulitan, entah karena keterbatasan waktu dan sarana maupun karena alasan lain seperti menjadi ragu-ragu apakah doa kita akan dikabulkan atau menjadi kurang bersemangat dalam melaunjutkan doa karena adanya beberapa doa kita yang belum dikabulkan.

Doa pribadi yang sehat dan dewasa adalah doa yang dilakukan secara rutin tanpa memperhatikan perasaan-perasaan kita. Rutinitas doa probadi akan membantu kita, selain mengetuk hati Allah Bapa terus menerus supaya Allah Bapa berbelas kasih kepada permohonan kita juga akan membantu kita untuk berani mawas diri, terutama dengan iman kita. Iman berarti baik itu percaya maupun penyerahan diri pada Allah Bapa sumber kehidupan. Apakah doa-doa kita akan dikabulkan atau tidak kita hendaknya memiliki sikap iman yang tepat yakni terus menerus percaya bahwa Allah Bapa akan mengabulkan permohonan-permohonan kita dan sekaligus kita percaya bahwa keputusan apapun dari Allah Bapa atas doa-doa kita, Allah Bapa tetap akan menunjukkan cinta kasihNya,

Yesus juga berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh dalam pencobaan. Roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat. 26:47). Ajakan Yesus ini menandaskan pentingnya doa pribadi yang regular, seakan-akan bersifat ritual- suatu ritme, sebuah rutinitas. Para Rahib atau siapa saja yang pernah tinggal di biara pertapaan akan telah mengetahui bahwa para Rahib –yang sering berdoa bahkan sangat sering berdoa)menguatkan mereka sendiri dalam hidup doa bukan dalam perasaan, kreativitas, ataupun variasi, melainkan di dalam ritual, ritme, dan rutinitas. Doa model para Rahib adalah sederhana, memiliki jangka waktu yang jelas.

Maka marilah kita hidup terus irama hidup kita dengan semangat doa yang rutin tanpa bertele-tele atau berkepanjangan dengan macam-macam variasi dan kreativitas yang hanya sebatas memenuhi perasaan. Kerohanian yang sehat dan dewasa didasarkan pada sikap doa rutin, sederhana, dan didasarkan pada iman.

Yang terluka yang menyembuhkan

Yang terluka yang menyembuhkan

Bacaan: Philemon 1:1-24

Sudahkan anda membaca surat Paulus kepada Philemon hari ini? belum…Ayo dibaca sekarang, ini surat Paulus yang paling pendek, hanya 1 bab saja. Kalau anda tak berniat membaca hari ini, tak akan ada lagi keinginan untuk membaca di hari esok….(8 menit kemudian)….nah tuh, hanya butuh waktu kurang dari 10 menit kan, untuk menyelesaikan satu surat Philemon!

Philemon sedang dalam keadaan terluka dan kecewa lantaran Onesimus, hambanya, mencuri dan melarikan diri ke Roma. Pengalaman luka bisa merasuki siapa saja. Kalau luka dan kecewa itu mendalam serta tak tersembuhkan akan merusak semua relasi, menghancurkan perkawinan, menceraikan ikatan persahabatan, juga kepercayaan. Walau kadang orang tak bermaksud melukai, namun kerap kita tetap merasa dikecewakan berlarut-larut, sampai membuat sisa pahit dalam hidup saja.

Kini didepannya muncul Onesimus yang meminta ampun sembari membawa surat dari Paulus untuk Philemon (baca renungan kemarin “Dilema Onesimus’). Nama ‘Onesimus’ berarti bermanfaat/berguna. Dalam suratnya, Paulus bermain dengan kata itu, “dulu dia (Onesimus) tak berguna bagimu, kini dia berguna untukku dan untukmu.” Paulus yakin kalau masa depan Onesimus akan cemerlang bila ditangai dengan baik. Namun masa depannya kini di tangan Philemon.

Sayangnya, tak ada kisah kelanjutkan bagaimana relasi Philemon-Onesimus berlangsung. Hanya saja, 30 tahun setelah surat Paulus kepada Philemon ditulis, Ignatius seorang penulis berkisah tentang seorang Uskup besar bernama Onesimus. Dia berkata kalau Onesimus inilah yang “dulu tidak berguna bagimu, kini dia berguna untukku dan untukmu.” Kata-kata yang persis sama ditulis Paulus pada Philemon.

Memang benar bahwa masa depan Onesimus lebih hebat dari tuannya Philemon. Namun tak bisa dipungkiri bahwa hanya karena penerimaan Philemon yang mau mengampuni dan mempercayai dia lagi, membuka masa depan baru. Tanpa adanya pengampunan, tak ada masa depan!

Seorang yang terluka dan kecewa seperti Philemon, sebenarnya di dalam jiwanya tersimpan kekuatan untuk menyembuhkan diri dan sesama. Penyembuhan terjadi saat seseorang mengakui bahwa ia lemah dan terluka, serta mau menyembuhkan luka dengan mengampuni orang yang berbuat jahat padanya. Dia tidak membalas luka dengan melukai, tapi membalut luka dengan bilur-bilurnya.

The wounded healer adalah seseorang yang punya jiwa yang besar dan kekuatan untuk menyembuhkan kekecewaan dan kemarahan dengan bantuan rahmat Ilahi. Uskup Desmon Tutu berkata, “Forgiveness is bigger than hatred, because forgiveness leads us to a bright future, but hatred brings darkness and bitterness.”

(Judul ‘yang terluka yang  menyembuhkan diambil dari buku tulisan Henri Nouwen ‘The wounded healer).

Dilema Onesimus

Dilema Onesimus

Philemon 1:7-20

Apa akibatnya jika seorang budak di dunia Romawi kuno melarikan diri sembari mencuri uang milik majikannya? Hukumannya akan sangat kejam bila budak ini tertangkap kembali. Ia akan dihukum cambuk berduri, ditato (dicap) permanen inisial pemilik atau tuannya, sehingga ketika ia melarikan diri lagi, akan ketahuan seumur hidup bila ia adalah budak. Hukuman paling kejam adalah dihukum mati, entah dilempar pada binatang buas atau diserahkan pada algojo untuk dihabisi nyawanya.

Adalah Philemon, seorang terpandang dalam komunitas Kristen awal di kota Kolose (Turki). Ia mengenal Paulus dan dibaptis menjadi pengikut Kristus setelah mendengar pengajaran Paulus. Philemon memiliki seorang budak bernama Onesimus. Sang budak melarikan diri sembari mencuri uang tuannya.

Onesimus bertualang hingga ke Roma dan menemui Paulus. Ia pun dibaptis menjadi Kristen setelah mendengar ajaran Paulus. Sebagai salah satu bentuk pertobatannya, Paulus menyarankan Onesimus kembali pada tuannya. Dia menjamin kalau Onesimus tak akan dihukum karena Paulus akan memberi surat kasih pada tuannya, Philemon yang sangat dikenal Paulus.

Haruskah Onesimus kembali pada tuannya? Apakah surat Paulus sungguh menjadi jaminannya? Akhirnya Onesimus kembali dari Roma ke Kolose dan menyerahkan surat Paulus pada Philemon. Amat indah isi suratnya. Paulus berkata kalau Philemon punya hak untuk menghukum budaknya. Namun dia berkata, “Supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan. Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri. Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri.”

Philemon sebagai pihak yang dirugikan tentulah memiliki kuasa untuk menghukum hambanya ini. Namun dia tidak melakukannya. Dia mengampuni budaknya. Bahkan dia tak meminta Paulus mengganti uang yang telah dicuri Onesimus. Dia tak menerapkan hukuman formal yang seharusnya diterima seorang budak sekaligus pencuri. Dia mengubah sikap dan cara memandang orang lain karena dia mengampuni dan memandang Onesimus sebagai seorang pengikut Kristus pula.

Rahmat pengampunan memberi orang kekuatan untuk memberi kesempatan baru bagi orang yang telah bersalah, melepaskan sakit hati yang membebani diri, serta memandang orang lain secara lebih positif. Karunia pengampunan dan penerimaan ini pula yang kita mohon agar diberikan Allah pada kita semua.

Bacalah surat Paulus kepada Philemon hari ini! Surat sangat pendek hanya 1 bab saja, begitu indah menyentuh kemanusiaan kita akan hubungan manusia yang bersalah dan yang merasa disalahi..semoga kita bisa  menjadi seperti Philemon.

Orang yang penuh terima kasih

Orang yang penuh terima kasih

Giving free #printable

Bacaan Luk 17:11-19

 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”  Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu  menyelamatkan engkau.”

Tak banyak orang Samaria yang tersisa sekarang ini, di tahun 2012 kemungkinan besar hanya ada sekitar 700 keluarga. Sebagian besar dari mereka tinggal di daerah Tepi Barat wilayah Palestina, di kota Nablus, 35 Km utara Yerusalem. Kelompok ini tak termasuk orang Yahudi atau orang Palestina. Meski orang Samaria mengaku keturunan dari suku Ephraim dan Manasye, orang Yahudi tak mengakui mereka sebagai bagian dari kelompoknya.

Ada perbedaan yang cukup besar antara orang Yahudi dan Samaria dalam soal ibadah. Orang Samaria tak pernah mau beribadah di sinagoga Yerusalem, karena tempat ibadah mereka yang utama ada di gunung Gerazim di kota Nablus. Kitab suci mereka juga tidak semua sama seperti orang Yahudi. Karena perbedaan inilah, orang Samaria dihindari dan dimusihi oleh orang Yahudi.

Sebagai kelompok minoritas, orang Samaria sering kali mendapat cap buruk, dianggap lebih rendah dari kelompok mayoritas. Dengan mudah kita bisa membandingkan dengan relasi antar kelompok etnis dan agama di Indonesia. Kelompok mayoritas akan merasa lebih superior dan menang sendiri, merendahkan minoritas, dan menganggap dirinya lebih benar. Demikian pula relasi antara orang Samaria dan orang Yahudi.

Yesus sangat terkejut ketika melihat orang Samaria saja yang kembali kepadaNya. Padahal ada 10 orang yang disembuhkan, 9 diantaranya orang Yahudi. Kesembilan orang ini adalah bagian dari kelompok mayoritas, superior, dan mungkin merasa sudah semestinya mereka disembuhkan oleh Yesus yang juga seorang Yahudi. Mereka menyikapi mukjijat penyembuhan itu sebagai peristiwa biasa, “take it for granted”.

Itulah yang sering terjadi, di saat orang berada di bawah dan merasa kecil, orang baru bisa mengucap terima kasih atas rahmat sekecil apapun yang diterima. Namun saat kita selalu merasa kuat dan berkecukupan, kita akan sulit berterima kasih atas rahmat yang diberikan Allah setiap hari.

Semoga setiap hari kita bisa menghitung tebaran rahmat yang diberikan Allah secara cuma-cuma, sehingga kita bisa berbagi pula pada sesama lebih banyak lagi.

Translate »