Orang yang penuh terima kasih

Orang yang penuh terima kasih

Giving free #printable

Bacaan Luk 17:11-19

 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”  Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu  menyelamatkan engkau.”

Tak banyak orang Samaria yang tersisa sekarang ini, di tahun 2012 kemungkinan besar hanya ada sekitar 700 keluarga. Sebagian besar dari mereka tinggal di daerah Tepi Barat wilayah Palestina, di kota Nablus, 35 Km utara Yerusalem. Kelompok ini tak termasuk orang Yahudi atau orang Palestina. Meski orang Samaria mengaku keturunan dari suku Ephraim dan Manasye, orang Yahudi tak mengakui mereka sebagai bagian dari kelompoknya.

Ada perbedaan yang cukup besar antara orang Yahudi dan Samaria dalam soal ibadah. Orang Samaria tak pernah mau beribadah di sinagoga Yerusalem, karena tempat ibadah mereka yang utama ada di gunung Gerazim di kota Nablus. Kitab suci mereka juga tidak semua sama seperti orang Yahudi. Karena perbedaan inilah, orang Samaria dihindari dan dimusihi oleh orang Yahudi.

Sebagai kelompok minoritas, orang Samaria sering kali mendapat cap buruk, dianggap lebih rendah dari kelompok mayoritas. Dengan mudah kita bisa membandingkan dengan relasi antar kelompok etnis dan agama di Indonesia. Kelompok mayoritas akan merasa lebih superior dan menang sendiri, merendahkan minoritas, dan menganggap dirinya lebih benar. Demikian pula relasi antara orang Samaria dan orang Yahudi.

Yesus sangat terkejut ketika melihat orang Samaria saja yang kembali kepadaNya. Padahal ada 10 orang yang disembuhkan, 9 diantaranya orang Yahudi. Kesembilan orang ini adalah bagian dari kelompok mayoritas, superior, dan mungkin merasa sudah semestinya mereka disembuhkan oleh Yesus yang juga seorang Yahudi. Mereka menyikapi mukjijat penyembuhan itu sebagai peristiwa biasa, “take it for granted”.

Itulah yang sering terjadi, di saat orang berada di bawah dan merasa kecil, orang baru bisa mengucap terima kasih atas rahmat sekecil apapun yang diterima. Namun saat kita selalu merasa kuat dan berkecukupan, kita akan sulit berterima kasih atas rahmat yang diberikan Allah setiap hari.

Semoga setiap hari kita bisa menghitung tebaran rahmat yang diberikan Allah secara cuma-cuma, sehingga kita bisa berbagi pula pada sesama lebih banyak lagi.

2 thoughts on “Orang yang penuh terima kasih

  1. Waduh, ini benar2 right to the point. Terima kasih juga atas info re Samaria. I learn something new.

  2. Bu Arti, saya yang buat renungan juga dapat inspirasi saat membaca kisah orang Samaria kemarin malam. Saat kita melihat teks yang sama dari sudut pandang yang berbeda, suatu insight datang tiba-tiba. Interpretasi ini didasarkan pada paradigma mayoritas vs minoritas. Ternyata, ada inspirasi baru didapatkan dari sana.

Comments are closed.

Comments are closed.
Translate »