Browsed by
Month: March 2015

Yesus Berjuang Demi Kebahagian Manusia

Yesus Berjuang Demi Kebahagian Manusia

Yes 47:1-9,12

Yoh 5:1-3a,5-16

Orang yang sudah 38 tahun sakit lumpuh disembuhkan oleh Yesus. Pada waktu Yesus menolong orang yang sakit bertepatan dengan hari Sabat. Yesus tetap menjalankan pelayanananNya. Namun orang-orang Yahudi justru menyalahkan Yesus hanya karena bertepatan dengan hari Sabat. Orang-orang Yahudi bertindak demikian karena tidak memakai hati, namun dikuasai oleh kebencian dan penolakkan pada Yesus.

Antara aturan yang dibuat manusia dan martabah luhur manusia mana yang lebih tinggi nilainya? Yesus menunjukkan sikapNya mengutamakan jiwa manusia daripada aturan-aturan. Yesus lebih mengutamakan menolong orang yang sudah menderita selama 38 tahun sekalipun hari itu adalah hari Sabat. Dibalik itu Tuhan Yesus menegaskan bahwa cinta kasih adalah sebagai hukum yang tertinggi.

Hukum dibuat bukan demi hukum tetapi demi menjaga agar martabat manusia dijaga dan dilindungi. Jika atas nama hukum namun suatu lembaga atau Negara menjatuhkan keputusan yang tidak adil dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, maka penerapan hukum tersebut justru bertentangan dengan tujuan dari hukum itu dibuat.

Yesus ingin meluruskan kembali bahwa hukum/aturan dibuat agar manusia semakin hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan. Dan Yesus memberikan fondasi dari semua hukum dengan hukum Cinta Kasih. Dengan Kasih maka manusia dihantar pada kehidupan yang berkualitas dimana orang semakin hidup rukun dan damai dengan sesamanya dan semakin diberkati oleh Allah.

Tuhan yang Maha Kasih, kami bersyukur akan segala pengurbananMu untuk kami manusia yang lemah ini. Engkau datang untuk keselamatan dan kebahagiaan kami. Semoga kami mampu meneruskan perjuanganMu dalam menegakkan Cinta Kasih dalam masyarakat kami. Demi Kristus pengantara kami. Amin.

BELAJAR UNTUK BERIMAN

BELAJAR UNTUK BERIMAN

Yes 65:17-21

Yoh 4:43-54

Yesus menyembuhkan anak dari pegawai istana. Tidak ada yang mustahil bagi orang percaya. Karena iman pegawai istana tersebut Yesus menyembuh anaknya. Dengan iman, kita bisa membantu sesama kita yang menderita dan kesulitan. Iman bukan untuk diri kita sendiri, sebaliknya iman selalu berpengaruh positif bagi diri dan bagi sesama. Berbahagialah orang yang percaya, karena dengan iman tersebut orang diselamatkan dan menjadi berkat bagi sesamanya.

Tuhan tidak membiarkan anak-anakNya yang percaya berjalan sendirian dalam perjalalan hidup. Oleh karena itu tidak lagi dibelenggu oleh rasa takut dan cemas bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Persoalannya bagimana agar manusia bisa memberikan dirinya untuk semakin percaya dan mengakar pada Kristus? Kepercayaan seseorang semakin mendalam pada Tuhan, seiring dengan keberaniannya untuk bersandar pada kekuatan Tuhan.

Yang terjadi seringkali, manusia dijangkiti sikap ragu dalam dirinya sendiri pada kekuatan Allah. Ketika kita beriman maka tidak bisa setengah-setengah dalam menaruh harapan pada Tuhan. Dengan demikian beriman/percaya kapada Tuhan membutuhkan penyerahan total dan yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk hidup kita.

Allah yang Maha Kasih, terima masih atas iman yang telah Dikau tanam dalam hati kami. Semoga iman tersebut dapat terus tumbuh dan berkembang dan akhirnya berbuah dalam kasih. Kuatkanlah kami agar kami selalu setia berjalan seturut dengan kehendakMu. Demi Kristus pengantara kami, Amin.

Allah menghendaki kasih setia, dan bukan korban sembelihan.

Allah menghendaki kasih setia, dan bukan korban sembelihan.

Hosea 6:1-6
Lukas 18:9-14

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk berlibur ke rumah. Sebelumnya, saudara-saudari dan semua keluarga perlu diberitahu bahwa saya akan berlibur. Ketika saya memberitahu mereka bahwa saya akan berlibur, salah satu dari cucu-cucu yang paling cerewet nyeletuk bilang, “opa pater, bolehkah saya minta dibelikan baju sinderela?” Saya sendiri tidak punya bayangan samasekali baju sinderela yang dimaksud, karena memang saya tidak pernah mengikuti film Disney. Namun si kecil ini kelihatannya juga sangat licik, langsung ia bargain/tawar menawar dengan saya, “opa, saya janji, saya akan berhenti makan candy dan rajin bangun pagi untuk ke sekolah, kalau opa nanti belikan saya baju sinderela lengkap dengan mahkotanya, sepatu dan tongkatnya.” Tongkat? koq pakai tongkat segala? Ya, opa! Itu tongkat “akrakadabra”nya! Ia berjanji, karena selama ini Fabiola, demikian nama cucuku ini suka makan candy yang mengakibatkan giginya belum juga tumbuh dengan kata lain Fabiola ompong. Fabiola tahu bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan apa saja yang ia inginkan dengan menjanjikan sesuatu…

Apakah kita sebagai orang dewasa masih mempunyai sikap yang sama dalam hubungan kita dengan Tuhan? Kaum Farisi dalam bacaan injil hari ini mengumbar janji ataupun menyampaikan kepada Tuhan apa saja yang telah ia lakukan dalam hidupnya sambil membandingkan dirinya dengan orang lain. Bahwa ia tidak merampok, tidak berzinah, tidak berurusan dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi ia adalah seorang dermawan, selalu membayar pajak pada waktunya sesuai dengan pendapatannya. Tetapi dimata Tuhan sikap si Farisi ini sungguh tidak menyenangkan dan tidak membahagiakan Tuhan, karena sikap yang tidak rendah hati dan sangat judgemental. Ia membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Si Farisi berpikir bahwa Tuhan akan sangat memperhitungkan apa yang telah ia lakukan menurut hukum, Tuhan samasekali tidak mendengarkan apa yang si Farisi itu umbar-umbar apa yang ia lakukan tanpa melihat dan mempertimbangkan perbuatan kasih dan bermurah hati kepada orang lain dalam kesulitan, memberi kesan bahwa dialah yang paling suci, kudus. Saudara-saudari terkasih, pesan Yesus dalam bacaan injil hari ini menunjukkan bahwa Allah lebih mengutamakan sikap pertobatan hati dan pikiran seperti yang dilakukan oleh pemungut cukai.

Dalam bacaan pertama hari inipun, nabi Hosea mengatakan bahwa “Allah lebih mengutamakan dan menyukai kasih setia, dan bukan korban sembilahan.” Tuhan tahu, bahwa kadangkala kita merasa bahwa kita seperti domba yang tersesat, dan selalu mengharapkan dan berdoa agar bisa kembali ke jalan yang benar. Allah tidak menghendaki tawar menawar atau janji-janji hampa, tetapi cukup dengan sikap tobat dan mau kembali kepadaNya…dimana kita bisa merasakan ketentraman dalam pelukanNya, merasa kita disembuhkan, dan disegarkan. Dengan demikian kita akan selalu dicintai Tuhan.

Saudara-saudari terkasih,

Setelah lebih dari setengah perjalanan rohani kita dalam masa Prapaskah ini dan yang menjadi suatu kesempatan yang sangat ideal untuk bertobat kitapun diberi kesempatan untuk membaharui hidup kita. Dengan demikian kita akan dapat lebih mendekati harapan dan kehendak Allah. Oleh karena itu janganlah kita memuji diri sendiri apabila kita datang ke misa setiap hari, tetapi, semoga perayaan Ekaristi yang kita rayakan setiap hari dapat lebih membuat hati kita tentram dan melembutkan hati kita dan bisa menyentuh kedalaman hati dan jiwa kita. Lalu sesudah perayaan Ekaristi ini, kita menjadi lebih rendah hati dan lebih berbelaskasih seperti Tuhan telah berbelaskasih kepada kita. Inilah sikap pertobatan yang kita perlukan pada kesempatan yang sangat istimewa ini. Amin.

Mencintai Tuhan dan sesama menjadi dasar dimana kita membangun kehidupan kristiani

Mencintai Tuhan dan sesama menjadi dasar dimana kita membangun kehidupan kristiani

HARI JUMAT PEKAN III MASA PRAPASKAH
13 Maret, 2015

Hoseal 14:2-10
Markus 12:28-34

Saudara-saudariku terkasih,

Sudah lama saya tidak pernah mendengar pengumuman dari mimbar sebelum misa dimulai yang bunyinya sebagai berikut: “diminta umat untuk tidak meninggalkan gereja sebelum doa penutup, berkat dan perutusan.” Namun beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan untuk berlibur ke kampung halaman, kembali saya mendengar pengumuman diatas…”agar umat tidak meninggalkan gereja setelah menerima Komuni Kudus.” Untuk sementara orang yang melakukan hal itu mungkin merasa beruntung keluar lebih cepat supaya tidak terperangkap dalam kemacetan keluar dari halaman gereja, tidak buang banyak waktu, tidak perlu antre dan akhirnya terlambat ke appointment yang sudah direncanakan untuk berakhir minggu. Pada dasarnya mereka tidak mau membuang banyak waktu…yang mungkin tidak lebih dari lima atau enam menit lagi.

Selama masa Prapaskah ini kita diberi kesempatan untuk merenungkan lagi segala sesuatu yang telah kita lakukan untuk bisa menjawab dan melakukan kehendak Allah. Apakah kita berdoa lebih banyak dari biasanya? Apakah kita cukup bermurah hati dengan waktu, bakat dan talenta yang Tuhan berikan kepada kita untuk orang yang berada disekitar kita, yang sungguh membutuhkan uluran tangan kita? Apakah saya hanya namanya saja sebagai orang Katolik/Kristen? Dengan kata lain: “Kalau anda didakwa karena menjadi Katolik/Kristen, beranikah anda mau memberi kesaksian tentang siapakah anda?” Kalau anda ditanya bukti apa yang dapat anda tunjukkan tentang kekatolikan/kekristenan anda…sudahkah anda mengikuti perintah Allah: untuk mencintai Tuhan dan sesama seperti anda mencintai diri sendiri?

Saudara-saudari terkasih,

Selama masa Puasa ini, kita masing-masing diberi kesempatan untuk meningkatkan semangat doa kita. Bukan saja karena diwajibkan. Yesus mengatakan bahwa kalau kita mencintai Tuhan Allah kita dengan segenap hati kita, dengan segenap budi dan dengan segenap tenaga kita. Cinta yang demikian harus pula kita teruskan dengan mencintai sesama kita. Tidak berarti hanya mereka yang tinggal dekat dengan kita, tetapi sesama yang membutuhkan perhatian dan cinta kita, mereka yang miskin, yang tua/para jompo yang membutuhkan pertolongan kita. Termasuk juga kesabaran mendampingi, melayani mereka yang sudah tidak berdaya itu, yang berada di rumah sakit, di rumah jompo; kesabaran kita ketika keluar dari parking lot setelah misa dan tidak menunjukkan egoisme kita. Memberikan senyuman kepada sesama yang kita jumpai, sangat mungkin orang itu lagi dalam kesusahan.

Ketika kita dapat melakukan semuanya itu dengan penuh kasih, kita telah memuliakan Allah, karena kita bisa melihat kehadiran Allah dalam diri sesama kita, “karena kita semua diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.” Mencintai Tuhan dan sesama, sungguh merupakan suatu response yang sangat berarti dalam memuji dan memuliakan Allah yang telah mengasihi kita karena kita semua adalah anak-anak Allah, putera dan puteri Allah. Amin.

Translate ยป